Aku buru-buru memasang senyum kaku, sekaku kanebo kering. "Eh, enggak ada apa-apa kok, Paman. Cuma agak kurang tidur aja semalam."Paman Karyo menyeruput kopinya sedikit, lalu menatapku makin intens. "Masalah uang? Gaji yang kemarin kurang ya, Gus? Bilang aja kalau butuh tambahan.”"Enggak, Paman, asli. Uang tabungan saya masih aman banget di rekening," jawabku buru-buru menolak.Paman Karyo mendengus, lalu meraba saku celananya. "Halah, gaya kamu. Ini pasti pengaruh rokok sama kopi murahan yang sering kamu beli di warung depan! Otakmu jadi lemot karena kebanyakan asupan kafein sasetan!”Paman Karyo lalu menaruh selembar uang berwarna merah, eh bukan satu, tapi lima lembar ke atas meja. Total lima ratus ribu rupiah!"Nih, ambil. Sana pergi ke swalayan, beli rokok yang agak kelasan dikit sama kopi mahal yang digiling, bukan yang digunting. Biar mukamu segar lagi, enggak kayak cucian belum diperas begitu," ujar Paman Karyo santai.
Read more