“Mas Argus, mau dibantuin nggak cuci piringnya?”Suara lembut Novaria memecah fokusku.Saat menoleh, gadis itu sudah berdiri di samping wastafel, tampak siaga membantuku.“Eh, nggak usah, Dek. Mas bisa sendiri kok,” jawabku ramah, sambil tangan tetap sibuk membilas sisa minyak di wajan.Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana rumah tampak sepi, karena Tante Miya dan Mbak Masha sudah masuk ke kamar masing-masing setelah kelar makan malam. Sementara Karina, gadis itu belum juga pulang dari kerja kelompok.Dan sekarang, hanya ada aku dan Novaria di dapur. Kebetulan Novaria baru saja kelar ngasih makan kucingnya, si Jeno.Bukannya balik ke kamar, Novaria malah berinisiatif mengambil kain serbet. Dia mulai mengelap piring dan gelas dari keranjang cucian yang sudah bersih, lalu menyusunnya ke rak piring.“Aduh, Mas jadi nggak enak gini, Dek.”Novaria terkekeh pelan, pipinya meron
続きを読む