Beranda / Romansa / Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis / Bab 6. Menyerahkan Tubuh demi Dendam

Share

Bab 6. Menyerahkan Tubuh demi Dendam

Penulis: Vanta Black
last update Tanggal publikasi: 2026-05-09 07:58:32

"Permisi, apa di sini ada tempat untuk menginap?"

Wanita paruh baya misterius muncul dari balik lubang kecil. "Harga per malam dua belas dollar."

Bip!

Aveline menggunakan kartu hitam yang diberikan Aeron, ia mulai menggesek kartunya dan notifikasi terkirim ke ponsel Aeron.

[Peringatan Transaksi: Kartu Berakhir 0901. Penggunaan sebesar $12.000,00 di SAGITARIUS HOME STAY. 03:45 AM. Jika ini bukan Anda, hubungi layanan pelanggan.]

​Aeron menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kegelapan mobil. Nama tempat itu asing, tapi lokasinya terlacak di area kumuh dekat pelabuhan.

"Sagitarius Home Stay," desis Aeron. "Kau benar-benar tidak tahu cara bersembunyi, Aveline."

​Aveline mengunci pintu kamar penginapan yang berbau apek itu.

Ia meletakkan adiknya yang masih terlelap di ranjang kecil, lalu menyelimutinya dengan kain tipis.

​Rasa takut dan amarah membuatnya sesak. Ia butuh pelarian.

Dengan langkah gontai, ia keluar menuju club malam tepat di sebelah penginapan itu.

Aroma alkohol dan musik techno yang memekakkan telinga menyambutnya.

​Satu gelas wiski, dua gelas, hingga ia tak lagi menghitung. Aveline ingin mabuk, ingin melupakan bahwa pria yang ia benci adalah pria yang sama yang menghancurkan keluarganya.

​Saat ia terhuyung keluar dari club, dunia di matanya berputar. Tubuhnya limbung ke aspal, namun sebuah tangan kekar menangkap pinggangnya dengan sentakan kasar.

Aveline mendongak, matanya yang sayu bertemu dengan tatapan gelap Aeron.

Pria itu basah kuyup, kemeja putihnya melekat transparan memperlihatkan dada bidangnya karena air hujan.

​"Kau pikir kau bisa lari dariku ke tempat sampah seperti ini, Aveline?" desis Aeron dingin.

​Aveline tertawa lirih, jemarinya yang lentur merayap ke dada Aeron yang tembus pandang. "Oh, Tuan Pengacara hebat ... kau terlihat sangat seksi saat sedang marah."

​Aeron mengeraskan rahangnya, cengkeramannya mengencang. "Kau mabuk. Kita pulang sekarang!"

​"Tidak mau!" Aveline mendorong dada Aeron, namun justru berakhir dengan menarik kerah kemejanya.

"Kenapa tidak di sini saja? Aku tahu kau menginginkanku lebih dari kau menginginkan dendammu."

​Aeron kehilangan kendali. Ia membungkam bibir Aveline dengan ciuman rakus, sebuah ciuman yang penuh amarah dan rasa lapar.

Aveline meronta sebentar, lalu membalasnya dengan liarnya pengaruh alkohol.

​"Nnnh, Aeron ... jangan di sini," gumam Aveline di sela ciuman mereka.

​"Lalu di mana?" tanya Aeron parau, suaranya berat oleh gairah.

​Aveline menarik tangan Aeron, menuntunnya masuk ke penginapan tua itu.

Begitu pintu kamar tertutup, Aeron langsung menyudutkan Aveline ke dinding.

​"Kau tahu apa yang kau lakukan, Aveline? Tidak ada jalan kembali," bisik Aeron.

​"Aku benci padamu, Aeron ... tapi malam ini, buat aku melupakan segalanya," balas Aveline sambil menarik kemeja Aeron hingga kancingnya terlepas.

​"Aku akan membuatmu hanya mengingat namaku malam ini," sahut Aeron gelap.

​Di kamar penginapan yang kumuh itu, di bawah pengaruh alkohol dan obsesi, mereka bercinta dengan penuh tuntutan.

Melepaskan semua dendam yang selama ini menyiksa, tanpa memedulikan bahwa di ranjang sebelah, rahasia terbesar mereka—sang adik—sedang terlelap.

"Katakan lagi bahwa kau membenciku, Aveline," bisik Aeron parau, napasnya yang panas menerpa permukaan bibir Aveline yang membengkak.

Aveline mendongak, matanya sayu akibat pengaruh wiski menatap lurus ke dalam manik mata Aeron yang menggelap, sepenuhnya dikuasai kabut gairah.

Rasa benci yang menyiksa di dadanya mendadak melebur dengan sensasi panas yang menjalar setiap kali kulit mereka bersentuhan.

"Pe-pelan aja ...."

Sentakan kasar tangan Aeron memenjarakan kedua pergelangan tangan Aveline di atas kepala, menguncinya pada dinding kayu penginapan yang berderit.

"Kau sengaja memancingku sampai ke pelabuhan busuk ini, hah?!" bentak Aeron, napasnya yang memburu terasa panas di permukaan kulit wajah Aveline.

Aveline mendongak, matanya yang sayu akibat pengaruh wiski menatap lurus ke dalam manik mata Aeron yang menggelap, sepenuhnya dikuasai kabut gairah.

Rasa benci yang menyiksa di dadanya mendadak melebur dengan sensasi panas yang menjalar setiap kali kulit mereka bersentuhan.

"Jangan banyak protes, Tuan Pengacara. Nikmati saja apa yang sudah kau kejar setengah mati," tantang Aveline, suaranya parau menahan desakan emosi.

"Sialan, kau benar-benar tahu cara membuatku gila, Aveline," sahut Aeron.

Aeron merunduk, menuntut kepatuhan total di ceruk leher Aveline hingga meninggalkan tanda kepemilikan yang kontras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 49

    "Dengar rekaman ini, Tuan." Rolan meletakkan ponselnya di atas meja nakas, memutar rekaman singkat tentang rencana pembobolan brankas mansion. Suara di dalamnya terdengar samar, namun cukup untuk mengidentifikasi ancaman nyata bagi aset keluarga Devere. Aeron mendengarkan dengan rahang mengeras, sementara Aveline di ranjang sebelah hanya bisa terdiam menahan sesak. Setelah rekaman berakhir, Aeron menatap Aveline dengan sorot mata yang melunak. "Rumah sakit ini nggak aman. Kita harus pindah ke mansion malam ini juga," ucap Aeron. Aveline memalingkan wajah, menatap Valmont yang sedang tertidur di kursi tunggu. "Aku mau ikut, tapi Ayah harus ikut juga. Rumahku udah disita bank, Ayah nggak ada tempat tinggal." Aeron mendengus kasar. "Kalau aku nolak gimana?" "Kalau gitu aku juga nggak akan ikut," sahut Aveline tegas. "Kamu bisa pilih, bawa kami berdua atau biarkan aku di sini dengan risikonya." Rolan berdeham pelan, memecah ketegangan. "Maaf, Tuan, tapi kalian baru saja

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 48

    "Rolan..." panggil Aeron dengan suara yang sangat serak dan habis. "Saya di sini, Tuan," sahut Rolan sembari mendorong pintu kaca tanpa menimbulkan suara berisik. Aeron mencoba menegakkan punggung, tapi ringisan pendek lolos dari bibirnya saat perban di perutnya menegang. "Aveline... gimana dia? Bibinya masih bikin ribut?" "Nona Aveline aman di kamar sebelah, Tuan. Dua pengawal sudah berjaga di depan pintu," jawab Rolan tenang sembari menyodorkan secangkir air hangat. Aeron meneguk air itu cepat-cepat untuk membasahi tenggorokannya yang sekering gurun. "Terus keparat yang nyerang kami malam itu? Tim kita udah nemu orangnya?" "Belum ada info baru, Tuan. Orang itu tahu banget titik buta semua kamera pengawas di laboratorium," lapor Rolan. Aeron mendengus miring, sepasang matanya yang merah menatap tajam ke arah langit-langit plafon. "Dia bukan orang luar, Rolan. Gerakannya terlalu bersih buat uku

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 47

    "Kita harus pergi dari sini sekarang."Rolan memasukkan kembali pecahan perangkat perak yang sudah hancur itu ke dalam saku jasnya, lalu melangkah mendekati istri Aeron.Vela tidak bergeming dari tempatnya berdiri, kedua lututnya tampak lemas hingga tubuhnya perlahan merosot ke atas lantai semen yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke arah ponselnya yang layarnya kini retak akibat terlempar tadi."Buktiknya... benar-benar tidak bisa diselamatkan, Rolan?" tanya Vela, suaranya parau berbaur dengan isak tangis yang mulai tertahan di tenggorokan."Komponen utamanya tergilas roda rantai generator, Nona. Air limbah di bawah sana juga sudah merendam papan sirkuitnya hingga korsleting," jawab Rolan sembari membungkuk untuk memungut ponsel milik Vela.Dia menyeka permukaan layar ponsel yang kotor itu menggunakan saputangan kain putih miliknya sebelum menyerahkannya kembali. "Kita tidak punya waktu lagi untuk meratapi benda ini, t

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 46

    "Urus pemilik mobil itu sekarang." Suara Rolan mengalun rendah ke dalam mikrofon ponselnya.Sudut bibirnya mendatar tanpa riak, sementara jemarinya bergerak lincah membersihkan folder pesan masuk yang baru saja ia baca dari nomor tidak dikenal tadi. "Baik, Sir. Segera kami eksekusi sebelum faksi Vela mencium pergerakan ini," sahut sebuah suara bariton di ujung telepon sebelum sambungan terputus. Rolan mengantongi kembali gawai hitamnya tepat saat pintu lift berdenting terbuka di area basemen rumah sakit. Hawa dingin langsung menyergap permukaan kulit lehernya, membawa aroma khas semen basah dan oli mesin yang menguar dari sudut-sudut parkiran.Di atas kepalanya, deretan lampu tabung neon berkedip sesekali, memantulkan bayangan tubuh tegap sekretaris itu di atas kap mobil sedan yang berdebu."Semoga dengan ini semua, gajiku naik." Dia membuka pintu kemudi, lalu mendudukkan diri di atas jok kulit hitam yang t

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 45

    "Tuan Aeron sudah menunjukkan tanda-tanda sadar?"Suara Rolan memecah keheningan koridor lantai lima rumah sakit, sesaat setelah dia menempelkan ponselnya ke telinga kanan. Langkah kakinya yang beralas pantofel mengilat terhenti tepat di depan deretan kursi tunggu yang kosong.Dari balik pengeras suara gawai, terdengar desah napas pendek dari perawat jaga yang terdengar agak gemetar. "Benar, grafik pada monitor jantungnya sempat melonjak naik beberapa menit yang lalu saat dosis obat penenangnya berkurang.""Saya segera ke sana, pastikan tidak ada orang asing yang mendekati pintu ruang observasi," perintah Rolan dengan nada sedatar pualam sebelum memutuskan sambungan telepon.Dia mengantongi ponselnya kembali ke balik saku jas abu-abu tua yang melekat pas di tubuh tegapnya.Bias cahaya bulan dari balik jendela besar memantul di atas lantai keramik, memberikan pencahayaan alami yang cukup terang tanpa bantuan lampu loron

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 44

    "Apa-apaan ini?" Diana menyentak lembaran kertas dari tangan Rolan dengan sekali gerakan kasar. Matanya yang dilapisi perona tebal membelalak, memindai deretan angka dan stempel basah di atas dokumen tersebut. "Apalagi yang kamu lakukan?!" tuduh Diana, Dia membalikkan tubuh dan menunjuk wajah Aveline dengan telunjuknya. Aveline membelalakkan mata di balik masker oksigennya, mencoba menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. "Ini... ini pasti salah paham, Bibi. Siapa yang sengaja memalsukan tanda tanganku?" Rolan membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari. "Seluruh dana segar dari agensi ini dicairkan secara tunai siang tadi, Nona Aveline. Dan pihak agensi hanya memegang surat kuasa dengan tanda tangan atas nama Anda." Diana mendengus pendek, melempar kertas-kertas itu ke atas meja nakas hingga vas bunga kecil di atasnya bergeser. "Jangan berakting polos, Velin! Utang keluarga kita belum lunas, lalu sekarang kamu malah menarik pinjaman baru lagi?" "Bukan aku,

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 10. Jeratan Pemilik Mutlak

    "Cih, kau gila ya! Lepaskan!" Mereka terengah-engah mencuri udara disela-sela aktivitasnya. Pria bertopeng itu mendengus sinis, sama sekali tidak berniat menghentikan pergerakannya. Jemarinya yang kasar justru semakin sengaja menekan titik sensitif Aveline, mengabaikan seluruh penolakan yang kel

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 5. Malam yang Basah

    Aveline membeku, layar ponsel yang masih menyala di tangannya terasa membakar telapak tangannya. "Putri Tuan Valmont ...." bisiknya dengan suara yang hampir hilang. ​Dunia seolah berhenti berputar. Anak kecil yang dirawat Aeron, yang diratapi oleh Vela, ternyata adalah darah daging ayahnya send

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 4. Anak dan Istri Rahasia

    Cklek! Suara kunci yang diputar dari luar. Ia menggedor pintu kayu jati itu dengan sisa tenaganya. ​"Aeron! Buka pintunya! Kau tidak bisa menyekapku di sini!" teriak Aveline hingga tenggorokannya terasa panas. Aveline menyandarkan punggungnya di pintu, membiarkan tubuhnya merosot hingga terdud

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 3. Hukuman Intim untuk Tahanan Cantik

    ​"Lepaskan aku!" desis Aveline sambil menyentak tubuhnya. Pria itu terkekeh, suaranya serak, khas perokok berat. Ia melepaskan cengkeramannya. Namun tetap berdiri sangat dekat, mengurung Aveline di antara meja bar dan tubuh besarnya. ​"Anak Aeron? Apa maksudmu, hah?" tanya Aveline dengan mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status