ANMELDENCklek!
Suara kunci yang diputar dari luar. Ia menggedor pintu kayu jati itu dengan sisa tenaganya. "Aeron! Buka pintunya! Kau tidak bisa menyekapku di sini!" teriak Aveline hingga tenggorokannya terasa panas. Aveline menyandarkan punggungnya di pintu, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Napasnya tersenggal, bercampur dengan isak tangis yang mulai pecah. "Siapa wanita tadi?" gumam Aveline. Aroma obat-obatan yang tajam masih tercium hingga ke dalam kamar. Aveline menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak ada televisi, tidak ada telepon kabel, bahkan jendelanya dipasang terali besi yang estetik namun kokoh. Aveline berdiri dengan kaki gemetar. Ia melangkah menuju meja rias di sudut ruangan. Matanya tertuju pada sebuah laci yang sedikit terbuka. Di dalamnya, ia menemukan sebotol obat penenang dan sebuah buku harian kecil bersampul kulit. Baru saja ia hendak menyentuh buku itu, suara perdebatan dari lantai bawah terdengar samar-samar melalui celah pintu. "Dia tidak seharusnya ada di sini, Aeron! Tempat ini bukan untuk tawananmu!" "Diam, Vela. Urus saja putrimu di kamar sebelah. Jangan mencampuri urusanku," sahut suara berat Aeron. Dingin dan tak berperasaan. "Dia manusia, Aeron! Bukan barang yang bisa kau simpan begitu saja!" Brak! Suara sesuatu yang terbanting keras membuat perdebatan itu terhenti seketika. 'Ada apa dengan tempat ini?' Langkah kaki yang berat terdengar menaiki tangga. Aveline mundur perlahan hingga punggungnya menabrak pinggiran ranjang. Cklek. Pintu terbuka. Aeron berdiri di ambang pintu dengan kemeja hitam yang masih lembap oleh air hujan. Ia tidak lagi memakai jasnya. Beberapa kancing atas kemejanya terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang namun tampak tegang. Aeron melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia menguncinya kembali dari dalam. "Apa yang kamu inginkan dariku, Aeron?" tanya Aveline dengan suara bergetar. "Kamu sudah punya istri, kau punya anak ... kenapa masih menggangguku?" Aeron mencengkeram dagu Aveline, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap dan penuh kilat obsesi. "Jangan pernah menyebut mereka dengan mulutmu itu, Aveline," bisik Aeron tajam. "Kenapa? Malu? Sang pengacara hebat ternyata punya rahasia kotor di tengah hutan?" tantang Aveline. Ia mencoba melepaskan cengkeraman Aeron, namun pria itu justru mempereratnya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di rumah ini," ujar Aeron. Tangannya yang lain merayap ke pinggang Aveline, menarik tubuh gadis itu hingga menempel pada tubuhnya yang panas. "Lepaskan aku, Aeron. Ini menjijikkan," desis Aveline. "Menjijikkan?" Aeron tertawa sinis. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aveline, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang bercampur dengan air hujan. "Kamu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup." Aeron mendorong Aveline hingga jatuh ke atas ranjang yang empuk. Ia segera menindih tubuh mungil itu, mengunci kedua tangan Aveline di atas kepala dengan satu tangan kekarnya. "Aeron, jangan! Istrimu ada di sebelah!" pekik Aveline panik. "Biarkan dia mendengar," sahut Aeron gelap. Ia mulai menciumi leher Aveline dengan kasar, mengabaikan rontaan dan makian gadis itu. Namun, tepat saat Aeron hendak membuka kancing kemeja Aveline, suara tangisan anak kecil meledak dari kamar sebelah. "Papa ... huwaaa ... Papa ...." Aeron mematung. Gerakannya terhenti seketika. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergeletuk menahan emosi yang berkecamuk. Aveline memanfaatkan momen itu untuk mendorong Aeron. Kali ini, Aeron membiarkannya. "Pergilah, Aeron. Dia membutuhkan ayahnya, bukan iblis sepertimu," ujar Aveline dengan napas memburu. Aeron berdiri tanpa menoleh sedikit pun. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum membukanya, ia berhenti sejenak. "Jangan pernah berpikir untuk menyentuh flashdisk itu atau mencoba bicara dengan Vela!" ancam Aeron tanpa nada. "Atau aku pastikan ayahmu tidak akan pernah melihat matahari besok pagi." Blam! Pintu ditutup dengan keras. Aveline meringkuk di atas ranjang, memeluk lututnya sendiri. Ia menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang kini terjebak di tengah drama keluarga yang gila. Wajah pucat wanita bergaun putih itu terus membayangi pikirannya. Tatapannya tidak menunjukkan amarah, melainkan ketakutan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Aveline. Aveline melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Matanya membelalak. Di bawah sana, di antara rimbunnya pohon pinus, terdapat sebuah taman kecil yang dipagari kawat berduri. "Dia benar-benar gila. Ini bukan paviliun, ini rumah sakit jiwa pribadi," bisik Aveline ngeri. Klek. Lubang pengintip di pintu terbuka sedikit. Aveline menahan napas. Ia melihat sepasang mata sayu menatapnya dari balik lubang itu. "Siapa di sana?" tanya Aveline lirih. "Pergilah selagi kau bisa, Nona," suara wanita itu terdengar parau. "Jangan sampai Aeron menjadikanku alasan untuk menghancurkanmu juga." "Vela? Kamu istrinya, 'kan? Kenapa kamu membiarkan dia melakukan ini?" Aveline mendekatkan wajahnya ke pintu. "Istri? Aku hanya pajangan yang gagal, Nona Valmont. Dan anak itu, dia alasannya untuk menahanmu selamanya." Suara langkah kaki berat Aeron tiba-tiba menggema di tangga. Wanita di balik pintu itu langsung menghilang. Wajah Aeron tampak sangat lelah, namun matanya tetap berkilat tajam saat melihat Aveline berada di dekat pintu. "Apa yang kamu bicarakan dengan dia?" tanya Aeron dingin. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Kenapa menyekap istrimu sendiri? Dia istrimu!" bentak Aveline. Aeron tidak menjawab. Ia justru mendekati Aveline, menyudutkan gadis itu ke dinding. Tangannya yang dingin menyentuh pipi Aveline, mengusap bekas air mata yang sudah mengering. "Aku tidak menyekapnya. Aku melindunginya dari dunia," sahut Aeron datar. "Lalu aku? Kamu melindungiku juga dengan cara mengurungku di sini?" Aveline meludahi kata-katanya. Aeron mendekatkan wajahnya, napasnya yang beraroma wiski dan hujan menerpa wajah Aveline. "Kau berbeda. Kau adalah tebusan atas apa yang dilakukan ayahmu padaku sepuluh tahun lalu." Aeron merogoh saku celananya dan mengeluarkan flashdisk berinisial 'V' yang tadi sempat dibawa Aveline. Ia memutarnya di depan mata Aveline. "Kamu pikir Julian akan menolongmu dengan benda ini? Dia yang membunuh ibuku, Aveline. Dan ayahmu yang membelanya di pengadilan sampai bebas." Aveline mengerjap berkali-kali. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun. Ayahnya membela seorang pembunuh? "Sekarang, kau akan tetap di sini sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan pada ayahmu," bisik Aeron. Ia menarik pinggang Aveline dan menciumnya dengan kasar. Aveline meronta, namun Aeron mengunci tubuhnya dengan kuat hingga mereka jatuh ke atas ranjang yang ditutupi kain putih. Tepat saat Aeron hendak melepaskan kancing kemeja Aveline, ponsel di atas meja nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rolan. Aeron meraih ponsel itu dan membacanya. Ekspresinya berubah menjadi pucat pasi dalam sekejap. "Tetap di sini. Jangan berani-berani keluar atau aku akan membunuh siapa pun yang mencoba membantumu," ancamnya parau. Aeron berlari keluar dan mengunci pintu kembali. Aveline merangkak ke arah ponsel Aeron yang tertinggal di atas ranjang. Di layarnya tertulis sebuah pesan. Rolan: Tuan, tes DNA Nona Muda sudah keluar. Dia bukan putri Anda, melainkan putri Tuan Valmont. Aveline jatuh terduduk. 'Putrinya ... adikku?'"Rolan, gimana kondisi Aeron?" Di ambang pintu, Vela terengah-engah memegang lututnya. Rolan berbalik, melihat nyonya besar menyeka keringatnya. "Kondisinya semakin stabil setelah operasi besar, tapi Tuan belum sadarkan diri." Vela menoleh ke putrinya yang meringkuk di atas sofa. Ia menghampiri putrinya, memeluk tubuh kecilnya dengan hangat. "Kok bisa sampai ketusuk gitu sih? Aura gapapa kan Nak? Nggak ada yang luka kan?" Aura menggeleng kecil, membendung air mata, mengingat setiap detail kejadian di sekolahnya tadi. "Saya kurang tau, tapi tadi waktu saya datang. Posisi Tuan Aeron memeluk Non Aveline, sepertinya penusukan tadi ditargetkan untuk Nona Aveline." Vela mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, ia tidak melihat batang hidung perempuan yang disebut Rolan. "Kemana dia? Kenapa tidak di sini?" Tubuh Aeron bergerak gelisah. "Aveline ...." "Saya kurang tau juga, terakhir Non Aveline pergi ketika Tuan Aeron masuk ruang operasi. Setelah itu, dia belum kemba
Sirine ambulans membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang sempit, Aveline duduk gemetar sembari menggenggam erat kedua tangan Aeron yang mulai terasa dingin. "Aeron, denger aku kan? Kamu tau tadi Aura sangat cantik, dia kayak model papan atas, nanti kalau kamu udah sembuh aku kasih liat vidionya ya!" seru Aveline dengan suara bergetar. Aeron hanya mampu mengulas senyum tipis, netra gelapnya menatap Aveline dengan sayu. "Kamu... mengkhawatirkanku, Little Valmont?" "Iya, aku khawatir! Makanya kamu harus bertahan, jangan banyak omong dulu!" Air matanya menetes mengenai punggung tangan Aeron. Perawat di dalam ambulans bergerak sigap, menggunting kemeja putih Aeron yang sudah basah oleh darah segar. Mereka memasang masker oksigen dan dengan cepat menekan luka tusuk di punggung pria itu menggunakan kain kasa steril. "Tekanan darahnya menurun drastis, kita harus bergegas!" seru perawat itu memberikan instruksi kepada sopir di depan. Begitu roda ambulans berhenti di lobi
"Hahaha! Kak Aveline takut ya sama aku ya." Siluet seorang pria bertopeng muncul di balik jendela, bersamaan dengan Aura yang tengah memakai kostum penyihir cilik lengkap dengan topi kerucutnya. Pria bertopeng itu perlahan membuka kedoknya, menampilkan wajah Rolan yang sedang tersenyum kikuk karena terpaksa menuruti kemauan nona kecilnya. "Adek! Kaget tau!" seru Aveline dengan dada kembang kempis. Tangan Aveline langsung meraih lengan gadis berkostum tersebut, lalu memeluknya dengan erat hingga debaran jantungnya yang sempat berpacu liar kembali normal. Rasa takut akibat membaca surat ancaman tadi perlahan menguap, berganti dengan rasa jengkel. Aura yang merasa pasokan udaranya menipis langsung menepuk-nepuk pergelangan tangan Aveline. "Kak, kecekik. Tolong." Wanita itu sontak melepaskan pelukannya, lalu mengecup gemas puncak kepala Aura. "Maaf, kamu sih ngagetin kakak." Aura berbalik, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aveline dengan binar penuh harap. "Kakak
'Mana mungkin gue bisa tidur,' batin Aveline. Karena tidak mendapat jawaban, jemari Aeron bergerak menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Aveline. Pria itu mulai mengecup lembut daun telinga Aveline, lalu turun menyesap lehernya. Aveline sekuat tenaga menahan gejolak yang mendadak menyerang sarafnya. Ia meremas ujung selimut, menekan kuat kukunya ke kulit telapak tangan agar tidak melenguh. Aeron tersenyum tipis, membiarkan tangannya menelusup semakin jauh ke dalam selimut hangat. Pria itu menunduk, mengecap lembut puncak dada Aveline seperti menikmati stroberi segar yang manis. Tak lama kemudian, ia melahap bulat-bulat keindahan dada Aveline dengan begitu intens di bawah selimut. Aveline mendadak membuka mata lebar-lebar. Sentuhan Aeron mendadak buyar saat perutnya terasa melilit. "Ah ...." Aveline spontan menyibak selimut, lalu berlari menuju toilet. Aeron yang mendadak ditinggal langsung mendengus frustrasi. Aveline baru saja hendak menutup pintu toilet
Aveline yang masih sisa canggung akibat kejadian di parkiran langsung menjawab ngawur demi menutupi status hubungan mereka yang sebenarnya. "Ah... itu, kakak tadi kebetulan lagi searah jalan pulang kerja, terus ketemu Ayah di jalan, jadi bareng deh." Aeron melirik Aveline sekilas, lalu beralih menatap Aura sembari mengulas senyum tipis untuk mendukung kebohongan tersebut. "Iya, betul kata kakakmu. Ayah sengaja jemput Kak Avel sekalian biar kita bisa pulang bareng-bareng." Aura manggut-manggut. Aeron kemudian menurunkan Aura dari gendongannya, lalu menoleh ke arah suster yang berjaga di konter. "Terima kasih banyak Sus, sudah mau menjaga anak ini." Tiba-tiba, seorang suster lain yang baru muncul dari ruang jaga ikut menyahut dengan wajah berbinar gemas. "Oh, ini toh orang tuanya Nona Aura? Wah... serasi sekali ya, tampan dan cantik. Semoga jadi pasangan yang harmonis ya sampai kakek nenek!" "Bukan! Kami bukan—" Aveline langsung memotong cepat dengan wajah memerah menahan k
Unknown: Permisi, apakah ini Tuan Aeron? Saya suster dari Rumah Sakit Cempaka Putih. Aura ditemukan sendirian di koridor bangsal anak. Dia menolak diantar ke kamar dan hanya mau menunggu ayahnya. "Aeron! Aku nanya loh, dari siapa?" Aeron perlahan membalikkan layar ponselnya ke hadapan Aveline dengan helaan napas panjang. "Aura, nggak diculik, tapi malah nyasar di rumah sakit." "Syukurlah, aku udah mikir dia diapa-apain sama musuhmu." Aeron hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. 'Kalian berdua ngerepotin.' Aeron mendengus, lalu menekan tombol hijau di layar ponselnya dan langsung menyalakan mode pengeras suara. "Ya, halo Suster? Saya wali dari Aura, ini kami sedang jalan ke sana untuk menjemputnya." "Aduh, syukur deh kalau begitu, Tuan Aeron," sahut suara suster di seberang telepon dengan nada yang terdengar sangat lega. "Soalnya ini adiknya mendadak rewel, dia nangis terus minta dibelikan es krim rasa *matcha* sekarang juga." Aveline yang mendengar hal itu langsung merebut p







