Inicio / Romansa / Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis / Bab 4. Anak dan Istri Rahasia

Compartir

Bab 4. Anak dan Istri Rahasia

Autor: Vanta Black
last update Fecha de publicación: 2026-05-09 07:55:59

Cklek!

Suara kunci yang diputar dari luar. Ia menggedor pintu kayu jati itu dengan sisa tenaganya.

​"Aeron! Buka pintunya! Kau tidak bisa menyekapku di sini!" teriak Aveline hingga tenggorokannya terasa panas.

Aveline menyandarkan punggungnya di pintu, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai.

Napasnya tersenggal, bercampur dengan isak tangis yang mulai pecah. ​

"Siapa wanita tadi?" gumam Aveline.

Aroma obat-obatan yang tajam masih tercium hingga ke dalam kamar. Aveline menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan.

Tidak ada televisi, tidak ada telepon kabel, bahkan jendelanya dipasang terali besi yang estetik namun kokoh.

Aveline berdiri dengan kaki gemetar. Ia melangkah menuju meja rias di sudut ruangan. Matanya tertuju pada sebuah laci yang sedikit terbuka.

Di dalamnya, ia menemukan sebotol obat penenang dan sebuah buku harian kecil bersampul kulit.

Baru saja ia hendak menyentuh buku itu, suara perdebatan dari lantai bawah terdengar samar-samar melalui celah pintu.

​"Dia tidak seharusnya ada di sini, Aeron! Tempat ini bukan untuk tawananmu!"

​"Diam, Vela. Urus saja putrimu di kamar sebelah. Jangan mencampuri urusanku," sahut suara berat Aeron. Dingin dan tak berperasaan.

​"Dia manusia, Aeron! Bukan barang yang bisa kau simpan begitu saja!"

​Brak!

​Suara sesuatu yang terbanting keras membuat perdebatan itu terhenti seketika.

'Ada apa dengan tempat ini?'

Langkah kaki yang berat terdengar menaiki tangga. Aveline mundur perlahan hingga punggungnya menabrak pinggiran ranjang.

Cklek.

Pintu terbuka. Aeron berdiri di ambang pintu dengan kemeja hitam yang masih lembap oleh air hujan. Ia tidak lagi memakai jasnya.

Beberapa kancing atas kemejanya terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang namun tampak tegang.

Aeron melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia menguncinya kembali dari dalam.

​"Apa yang kamu inginkan dariku, Aeron?" tanya Aveline dengan suara bergetar. "Kamu sudah punya istri, kau punya anak ... kenapa masih menggangguku?"

Aeron mencengkeram dagu Aveline, memaksa gadis itu menatap matanya yang gelap dan penuh kilat obsesi.

​"Jangan pernah menyebut mereka dengan mulutmu itu, Aveline," bisik Aeron tajam.

​"Kenapa? Malu? Sang pengacara hebat ternyata punya rahasia kotor di tengah hutan?" tantang Aveline.

Ia mencoba melepaskan cengkeraman Aeron, namun pria itu justru mempereratnya.

​"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di rumah ini," ujar Aeron. Tangannya yang lain merayap ke pinggang Aveline, menarik tubuh gadis itu hingga menempel pada tubuhnya yang panas.

​"Lepaskan aku, Aeron. Ini menjijikkan," desis Aveline.

​"Menjijikkan?" Aeron tertawa sinis. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aveline, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang bercampur dengan air hujan. "Kamu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup."

Aeron mendorong Aveline hingga jatuh ke atas ranjang yang empuk.

Ia segera menindih tubuh mungil itu, mengunci kedua tangan Aveline di atas kepala dengan satu tangan kekarnya.

​"Aeron, jangan! Istrimu ada di sebelah!" pekik Aveline panik.

​"Biarkan dia mendengar," sahut Aeron gelap.

Ia mulai menciumi leher Aveline dengan kasar, mengabaikan rontaan dan makian gadis itu.

Namun, tepat saat Aeron hendak membuka kancing kemeja Aveline, suara tangisan anak kecil meledak dari kamar sebelah.

​"Papa ... huwaaa ... Papa ...."

Aeron mematung. Gerakannya terhenti seketika. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergeletuk menahan emosi yang berkecamuk.

​Aveline memanfaatkan momen itu untuk mendorong Aeron. Kali ini, Aeron membiarkannya.

​"Pergilah, Aeron. Dia membutuhkan ayahnya, bukan iblis sepertimu," ujar Aveline dengan napas memburu.

Aeron berdiri tanpa menoleh sedikit pun. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum membukanya, ia berhenti sejenak.

​"Jangan pernah berpikir untuk menyentuh flashdisk itu atau mencoba bicara dengan Vela!" ancam Aeron tanpa nada. "Atau aku pastikan ayahmu tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."

Blam!

​Pintu ditutup dengan keras. Aveline meringkuk di atas ranjang, memeluk lututnya sendiri.

Ia menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang kini terjebak di tengah drama keluarga yang gila.

Wajah pucat wanita bergaun putih itu terus membayangi pikirannya.

Tatapannya tidak menunjukkan amarah, melainkan ketakutan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Aveline.

Aveline melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Matanya membelalak.

Di bawah sana, di antara rimbunnya pohon pinus, terdapat sebuah taman kecil yang dipagari kawat berduri.

​"Dia benar-benar gila. Ini bukan paviliun, ini rumah sakit jiwa pribadi," bisik Aveline ngeri.

Klek.

Lubang pengintip di pintu terbuka sedikit. Aveline menahan napas. Ia melihat sepasang mata sayu menatapnya dari balik lubang itu.

​"Siapa di sana?" tanya Aveline lirih.

​"Pergilah selagi kau bisa, Nona," suara wanita itu terdengar parau. "Jangan sampai Aeron menjadikanku alasan untuk menghancurkanmu juga."

​"Vela? Kamu istrinya, 'kan? Kenapa kamu membiarkan dia melakukan ini?" Aveline mendekatkan wajahnya ke pintu.

"Istri? Aku hanya pajangan yang gagal, Nona Valmont. Dan anak itu, dia alasannya untuk menahanmu selamanya."

Suara langkah kaki berat Aeron tiba-tiba menggema di tangga. Wanita di balik pintu itu langsung menghilang.

Wajah Aeron tampak sangat lelah, namun matanya tetap berkilat tajam saat melihat Aveline berada di dekat pintu.

​"Apa yang kamu bicarakan dengan dia?" tanya Aeron dingin. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

​"Kenapa menyekap istrimu sendiri? Dia istrimu!" bentak Aveline.

Aeron tidak menjawab. Ia justru mendekati Aveline, menyudutkan gadis itu ke dinding.

Tangannya yang dingin menyentuh pipi Aveline, mengusap bekas air mata yang sudah mengering.

"Aku tidak menyekapnya. Aku melindunginya dari dunia," sahut Aeron datar.

​"Lalu aku? Kamu melindungiku juga dengan cara mengurungku di sini?" Aveline meludahi kata-katanya.

Aeron mendekatkan wajahnya, napasnya yang beraroma wiski dan hujan menerpa wajah Aveline. "Kau berbeda. Kau adalah tebusan atas apa yang dilakukan ayahmu padaku sepuluh tahun lalu."

Aeron merogoh saku celananya dan mengeluarkan flashdisk berinisial 'V' yang tadi sempat dibawa Aveline. Ia memutarnya di depan mata Aveline.

​"Kamu pikir Julian akan menolongmu dengan benda ini? Dia yang membunuh ibuku, Aveline. Dan ayahmu yang membelanya di pengadilan sampai bebas."

Aveline mengerjap berkali-kali. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun. Ayahnya membela seorang pembunuh?

​"Sekarang, kau akan tetap di sini sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan pada ayahmu," bisik Aeron.

Ia menarik pinggang Aveline dan menciumnya dengan kasar.

Aveline meronta, namun Aeron mengunci tubuhnya dengan kuat hingga mereka jatuh ke atas ranjang yang ditutupi kain putih.

Tepat saat Aeron hendak melepaskan kancing kemeja Aveline, ponsel di atas meja nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rolan.

Aeron meraih ponsel itu dan membacanya. Ekspresinya berubah menjadi pucat pasi dalam sekejap.

"Tetap di sini. Jangan berani-berani keluar atau aku akan membunuh siapa pun yang mencoba membantumu," ancamnya parau. Aeron berlari keluar dan mengunci pintu kembali.

Aveline merangkak ke arah ponsel Aeron yang tertinggal di atas ranjang. Di layarnya tertulis sebuah pesan.

Rolan: Tuan, tes DNA Nona Muda sudah keluar. Dia bukan putri Anda, melainkan putri Tuan Valmont.

Aveline jatuh terduduk. 'Putrinya ... adikku?'

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 49

    "Dengar rekaman ini, Tuan." Rolan meletakkan ponselnya di atas meja nakas, memutar rekaman singkat tentang rencana pembobolan brankas mansion. Suara di dalamnya terdengar samar, namun cukup untuk mengidentifikasi ancaman nyata bagi aset keluarga Devere. Aeron mendengarkan dengan rahang mengeras, sementara Aveline di ranjang sebelah hanya bisa terdiam menahan sesak. Setelah rekaman berakhir, Aeron menatap Aveline dengan sorot mata yang melunak. "Rumah sakit ini nggak aman. Kita harus pindah ke mansion malam ini juga," ucap Aeron. Aveline memalingkan wajah, menatap Valmont yang sedang tertidur di kursi tunggu. "Aku mau ikut, tapi Ayah harus ikut juga. Rumahku udah disita bank, Ayah nggak ada tempat tinggal." Aeron mendengus kasar. "Kalau aku nolak gimana?" "Kalau gitu aku juga nggak akan ikut," sahut Aveline tegas. "Kamu bisa pilih, bawa kami berdua atau biarkan aku di sini dengan risikonya." Rolan berdeham pelan, memecah ketegangan. "Maaf, Tuan, tapi kalian baru saja

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 48

    "Rolan..." panggil Aeron dengan suara yang sangat serak dan habis. "Saya di sini, Tuan," sahut Rolan sembari mendorong pintu kaca tanpa menimbulkan suara berisik. Aeron mencoba menegakkan punggung, tapi ringisan pendek lolos dari bibirnya saat perban di perutnya menegang. "Aveline... gimana dia? Bibinya masih bikin ribut?" "Nona Aveline aman di kamar sebelah, Tuan. Dua pengawal sudah berjaga di depan pintu," jawab Rolan tenang sembari menyodorkan secangkir air hangat. Aeron meneguk air itu cepat-cepat untuk membasahi tenggorokannya yang sekering gurun. "Terus keparat yang nyerang kami malam itu? Tim kita udah nemu orangnya?" "Belum ada info baru, Tuan. Orang itu tahu banget titik buta semua kamera pengawas di laboratorium," lapor Rolan. Aeron mendengus miring, sepasang matanya yang merah menatap tajam ke arah langit-langit plafon. "Dia bukan orang luar, Rolan. Gerakannya terlalu bersih buat uku

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 47

    "Kita harus pergi dari sini sekarang."Rolan memasukkan kembali pecahan perangkat perak yang sudah hancur itu ke dalam saku jasnya, lalu melangkah mendekati istri Aeron.Vela tidak bergeming dari tempatnya berdiri, kedua lututnya tampak lemas hingga tubuhnya perlahan merosot ke atas lantai semen yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke arah ponselnya yang layarnya kini retak akibat terlempar tadi."Buktiknya... benar-benar tidak bisa diselamatkan, Rolan?" tanya Vela, suaranya parau berbaur dengan isak tangis yang mulai tertahan di tenggorokan."Komponen utamanya tergilas roda rantai generator, Nona. Air limbah di bawah sana juga sudah merendam papan sirkuitnya hingga korsleting," jawab Rolan sembari membungkuk untuk memungut ponsel milik Vela.Dia menyeka permukaan layar ponsel yang kotor itu menggunakan saputangan kain putih miliknya sebelum menyerahkannya kembali. "Kita tidak punya waktu lagi untuk meratapi benda ini, t

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 46

    "Urus pemilik mobil itu sekarang." Suara Rolan mengalun rendah ke dalam mikrofon ponselnya.Sudut bibirnya mendatar tanpa riak, sementara jemarinya bergerak lincah membersihkan folder pesan masuk yang baru saja ia baca dari nomor tidak dikenal tadi. "Baik, Sir. Segera kami eksekusi sebelum faksi Vela mencium pergerakan ini," sahut sebuah suara bariton di ujung telepon sebelum sambungan terputus. Rolan mengantongi kembali gawai hitamnya tepat saat pintu lift berdenting terbuka di area basemen rumah sakit. Hawa dingin langsung menyergap permukaan kulit lehernya, membawa aroma khas semen basah dan oli mesin yang menguar dari sudut-sudut parkiran.Di atas kepalanya, deretan lampu tabung neon berkedip sesekali, memantulkan bayangan tubuh tegap sekretaris itu di atas kap mobil sedan yang berdebu."Semoga dengan ini semua, gajiku naik." Dia membuka pintu kemudi, lalu mendudukkan diri di atas jok kulit hitam yang t

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 45

    "Tuan Aeron sudah menunjukkan tanda-tanda sadar?"Suara Rolan memecah keheningan koridor lantai lima rumah sakit, sesaat setelah dia menempelkan ponselnya ke telinga kanan. Langkah kakinya yang beralas pantofel mengilat terhenti tepat di depan deretan kursi tunggu yang kosong.Dari balik pengeras suara gawai, terdengar desah napas pendek dari perawat jaga yang terdengar agak gemetar. "Benar, grafik pada monitor jantungnya sempat melonjak naik beberapa menit yang lalu saat dosis obat penenangnya berkurang.""Saya segera ke sana, pastikan tidak ada orang asing yang mendekati pintu ruang observasi," perintah Rolan dengan nada sedatar pualam sebelum memutuskan sambungan telepon.Dia mengantongi ponselnya kembali ke balik saku jas abu-abu tua yang melekat pas di tubuh tegapnya.Bias cahaya bulan dari balik jendela besar memantul di atas lantai keramik, memberikan pencahayaan alami yang cukup terang tanpa bantuan lampu loron

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 44

    "Apa-apaan ini?" Diana menyentak lembaran kertas dari tangan Rolan dengan sekali gerakan kasar. Matanya yang dilapisi perona tebal membelalak, memindai deretan angka dan stempel basah di atas dokumen tersebut. "Apalagi yang kamu lakukan?!" tuduh Diana, Dia membalikkan tubuh dan menunjuk wajah Aveline dengan telunjuknya. Aveline membelalakkan mata di balik masker oksigennya, mencoba menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. "Ini... ini pasti salah paham, Bibi. Siapa yang sengaja memalsukan tanda tanganku?" Rolan membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari. "Seluruh dana segar dari agensi ini dicairkan secara tunai siang tadi, Nona Aveline. Dan pihak agensi hanya memegang surat kuasa dengan tanda tangan atas nama Anda." Diana mendengus pendek, melempar kertas-kertas itu ke atas meja nakas hingga vas bunga kecil di atasnya bergeser. "Jangan berakting polos, Velin! Utang keluarga kita belum lunas, lalu sekarang kamu malah menarik pinjaman baru lagi?" "Bukan aku,

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 41

    "Tahan tubuhnya! Jahitannya bisa lepas semua!"Suara lengkingan histeris dari ruang isolasi membuat lorong lantai lima kembali mencekam. Pekikan perawat itu disusul suara benda logam yang terseret kasar di atas pualam.Pintu kayu ruang isolasi terbuka lebar dari dalam,

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 35

    "Masuk, Nona. Jangan membuat Nyonya Vela menunggu lebih lama," ucap pria berjas abu-abu yang turun dari kursi kemudi. Aveline menarik napas panjang, menahan rasa ngilu yang menyerang perut kanannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia bangkit dari kursi roda dan melangkah masuk ke dalam kabin m

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 10. Jeratan Pemilik Mutlak

    "Cih, kau gila ya! Lepaskan!" Mereka terengah-engah mencuri udara disela-sela aktivitasnya. Pria bertopeng itu mendengus sinis, sama sekali tidak berniat menghentikan pergerakannya. Jemarinya yang kasar justru semakin sengaja menekan titik sensitif Aveline, mengabaikan seluruh penolakan yang kel

  • Hukuman Ranjang Sang Pengacara Iblis   Bab 6. Menyerahkan Tubuh demi Dendam

    "Permisi, apa di sini ada tempat untuk menginap?" Wanita paruh baya misterius muncul dari balik lubang kecil. "Harga per malam dua belas dollar." Bip! Aveline menggunakan kartu hitam yang diberikan Aeron, ia mulai menggesek kartunya dan notifikasi terkirim ke ponsel Aeron. [Peringatan Transa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status