INICIAR SESIÓNAveline membeku, layar ponsel yang masih menyala di tangannya terasa membakar telapak tangannya.
"Putri Tuan Valmont ...." bisiknya dengan suara yang hampir hilang. Dunia seolah berhenti berputar. Anak kecil yang dirawat Aeron, yang diratapi oleh Vela, ternyata adalah darah daging ayahnya sendiri. Pintu kamar terbanting terbuka. Aeron masuk dengan napas yang tidak beraturan. Kemejanya yang basah kini kusut, dan wajahnya pucat pasi seolah ia baru saja melihat hantu. Ia melihat ponselnya di tangan Aveline. Aveline bangkit, matanya menyala penuh amarah dan luka. "Kau tahu selama ini? Kau tahu dia adikku?!" Aeron melangkah lunglai dan menjatuhkan tubuhnya di lantai, tepat di depan kaki Aveline. Ia berlutut, menyandarkan kepalanya yang berat di pangkuan Aveline. Sebuah pemandangan yang menghancurkan harga diri sang pengacara hebat. "Sepuluh tahun, Aveline ...." suara Aeron parau, bergetar karena emosi yang tertahan selama satu dekade. "Aku mencintai Vela. Aku memberikan segalanya untuknya. Tapi dia mengandung anak ayahmu di saat aku sedang mempersiapkan pernikahan kami." Tangan Aeron mencengkeram kain kemeja yang dipakai Aveline dengan erat. "Ayahmu menghancurkan hidupku, menghancurkan ibuku, dan sekarang dia meninggalkan benihnya di rumahku untuk aku rawat setiap hari. Bagaimana aku tidak gila?" Aveline merasakan air mata Aeron merembes ke kulit pahanya. Untuk sesaat, kebenciannya pada pria ini luntur, berganti dengan rasa iba yang menyesakkan. Aeron adalah korban dari dosa masa lalu ayahnya. "Tapi anak itu tidak salah, Aeron," bisik Aveline sambil gemetar. "Aku membencinya karena dia memiliki mata ayahmu!" Aeron mendongak, matanya yang memerah menatap Aveline dengan keputusasaan yang dalam. "Lalu kau datang. Kau adalah satu-satunya hal yang murni. Aku ingin memilikimu hanya agar aku bisa merasa menang dari ayahmu, tapi semakin aku melihatmu, semakin aku ingin melindungimu dari kegilaan ini." Aeron memejamkan mata, ia tampak sangat rapuh. "Aku mencintaimu dengan cara yang salah, Aveline. Maafkan aku." Keheningan malam itu pecah oleh suara petir yang menggelegar. Di saat Aeron sedang berada di titik terlemahnya, insting bertahan hidup Aveline bangkit. Jika Aeron benar-benar mencintainya, pria ini akan menghancurkannya bersama dengan seluruh rahasia ini. Aveline mengusap rambut Aeron perlahan, gerakan yang membuat pria itu sedikit tenang hingga napasnya mulai teratur. Perlahan, Aeron tertidur di pangkuannya—kelelahan karena beban emosi yang terlalu berat. Aveline melepaskan dirinya dengan sangat hati-hati. Ia memungut flashdisk yang tadi terjatuh dan ponsel Aeron. Ia tidak bisa tinggal di sini. Ia harus membawa adiknya pergi sebelum Aeron bangun dan berubah menjadi iblis kembali. Dengan langkah kaki tanpa suara, Aveline keluar dari kamar. Koridor paviliun itu gelap dan sunyi. Ia menuju kamar sebelah, tempat suara tangis tadi berasal. Di atas ranjang kecil, seorang anak perempuan cantik sedang tertidur lelap dengan bekas air mata di pipinya. Aveline menggendong tubuh mungil itu dengan sangat pelan. Anak itu menggeliat sedikit, namun kembali tenang saat merasakan dekapan hangat Aveline. "Ayo sayang, kita pergi dari sini," bisik Aveline. Ia tidak lewat pintu depan. Aveline teringat pintu servis di belakang dapur yang digunakan pelayan untuk membuang sampah. Dengan kaki telanjang, ia menembus hujan yang kembali deras, berlari menembus hutan pinus di belakang paviliun. Kaki Aveline perih tertusuk ranting dan kerikil tajam, tapi ia tidak peduli. Ia terus berlari hingga mencapai jalan setapak di mana sebuah taksi tua kebetulan sedang melintas di kejauhan. "Berhenti! Tolong berhenti!" teriak Aveline sambil melambai. Mobil itu berhenti. Aveline segera masuk, memeluk adiknya erat-erat. "Bawa saya ke Pelabuhan Eldrith. Sekarang!" Dua jam kemudian, Aeron terbangun di kamar yang kosong. Ia meraba lantai, mencari keberadaan Aveline. Namun ia hanya menemukan sebuah catatan kecil yang ditulis dengan lipstik merah di atas meja rias. "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh adikku. Jangan cari kami, atau rahasia ini akan kubawa sampai ke liang lahat." Aeron menggeram, suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Ia segera meraih interkom. "Rolan! Tutup semua akses keluar Eldrith! Cari wanita itu sampai dapat!" Aeron berjalan menuju balkon, menatap hujan yang mulai reda. Wajahnya kini tidak lagi menunjukkan kerapuhan, melainkan kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya. Aveline berdiri di dek kapal feri yang akan membawanya keluar dari Eldrith, menatap adiknya yang mulai terbangun. Namun, saat ia merogoh saku paritnya untuk mengambil ponsel, ia justru menemukan sebuah pelacak GPS kecil yang berkedip merah terang yang menempel di flashdisk pemberian Julian. Di saat yang sama, sebuah pesan masuk ke ponsel Aeron yang ia bawa: Unknown : Terima kasih sudah membawanya padaku. Julian menunggumu di dermaga tujuan. Aveline menghentikan langkahnya, ia segera berbalik dan menjauh dari pelabuhan. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adikku!""Dengar rekaman ini, Tuan." Rolan meletakkan ponselnya di atas meja nakas, memutar rekaman singkat tentang rencana pembobolan brankas mansion. Suara di dalamnya terdengar samar, namun cukup untuk mengidentifikasi ancaman nyata bagi aset keluarga Devere. Aeron mendengarkan dengan rahang mengeras, sementara Aveline di ranjang sebelah hanya bisa terdiam menahan sesak. Setelah rekaman berakhir, Aeron menatap Aveline dengan sorot mata yang melunak. "Rumah sakit ini nggak aman. Kita harus pindah ke mansion malam ini juga," ucap Aeron. Aveline memalingkan wajah, menatap Valmont yang sedang tertidur di kursi tunggu. "Aku mau ikut, tapi Ayah harus ikut juga. Rumahku udah disita bank, Ayah nggak ada tempat tinggal." Aeron mendengus kasar. "Kalau aku nolak gimana?" "Kalau gitu aku juga nggak akan ikut," sahut Aveline tegas. "Kamu bisa pilih, bawa kami berdua atau biarkan aku di sini dengan risikonya." Rolan berdeham pelan, memecah ketegangan. "Maaf, Tuan, tapi kalian baru saja
"Rolan..." panggil Aeron dengan suara yang sangat serak dan habis. "Saya di sini, Tuan," sahut Rolan sembari mendorong pintu kaca tanpa menimbulkan suara berisik. Aeron mencoba menegakkan punggung, tapi ringisan pendek lolos dari bibirnya saat perban di perutnya menegang. "Aveline... gimana dia? Bibinya masih bikin ribut?" "Nona Aveline aman di kamar sebelah, Tuan. Dua pengawal sudah berjaga di depan pintu," jawab Rolan tenang sembari menyodorkan secangkir air hangat. Aeron meneguk air itu cepat-cepat untuk membasahi tenggorokannya yang sekering gurun. "Terus keparat yang nyerang kami malam itu? Tim kita udah nemu orangnya?" "Belum ada info baru, Tuan. Orang itu tahu banget titik buta semua kamera pengawas di laboratorium," lapor Rolan. Aeron mendengus miring, sepasang matanya yang merah menatap tajam ke arah langit-langit plafon. "Dia bukan orang luar, Rolan. Gerakannya terlalu bersih buat uku
"Kita harus pergi dari sini sekarang."Rolan memasukkan kembali pecahan perangkat perak yang sudah hancur itu ke dalam saku jasnya, lalu melangkah mendekati istri Aeron.Vela tidak bergeming dari tempatnya berdiri, kedua lututnya tampak lemas hingga tubuhnya perlahan merosot ke atas lantai semen yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke arah ponselnya yang layarnya kini retak akibat terlempar tadi."Buktiknya... benar-benar tidak bisa diselamatkan, Rolan?" tanya Vela, suaranya parau berbaur dengan isak tangis yang mulai tertahan di tenggorokan."Komponen utamanya tergilas roda rantai generator, Nona. Air limbah di bawah sana juga sudah merendam papan sirkuitnya hingga korsleting," jawab Rolan sembari membungkuk untuk memungut ponsel milik Vela.Dia menyeka permukaan layar ponsel yang kotor itu menggunakan saputangan kain putih miliknya sebelum menyerahkannya kembali. "Kita tidak punya waktu lagi untuk meratapi benda ini, t
"Urus pemilik mobil itu sekarang." Suara Rolan mengalun rendah ke dalam mikrofon ponselnya.Sudut bibirnya mendatar tanpa riak, sementara jemarinya bergerak lincah membersihkan folder pesan masuk yang baru saja ia baca dari nomor tidak dikenal tadi. "Baik, Sir. Segera kami eksekusi sebelum faksi Vela mencium pergerakan ini," sahut sebuah suara bariton di ujung telepon sebelum sambungan terputus. Rolan mengantongi kembali gawai hitamnya tepat saat pintu lift berdenting terbuka di area basemen rumah sakit. Hawa dingin langsung menyergap permukaan kulit lehernya, membawa aroma khas semen basah dan oli mesin yang menguar dari sudut-sudut parkiran.Di atas kepalanya, deretan lampu tabung neon berkedip sesekali, memantulkan bayangan tubuh tegap sekretaris itu di atas kap mobil sedan yang berdebu."Semoga dengan ini semua, gajiku naik." Dia membuka pintu kemudi, lalu mendudukkan diri di atas jok kulit hitam yang t
"Tuan Aeron sudah menunjukkan tanda-tanda sadar?"Suara Rolan memecah keheningan koridor lantai lima rumah sakit, sesaat setelah dia menempelkan ponselnya ke telinga kanan. Langkah kakinya yang beralas pantofel mengilat terhenti tepat di depan deretan kursi tunggu yang kosong.Dari balik pengeras suara gawai, terdengar desah napas pendek dari perawat jaga yang terdengar agak gemetar. "Benar, grafik pada monitor jantungnya sempat melonjak naik beberapa menit yang lalu saat dosis obat penenangnya berkurang.""Saya segera ke sana, pastikan tidak ada orang asing yang mendekati pintu ruang observasi," perintah Rolan dengan nada sedatar pualam sebelum memutuskan sambungan telepon.Dia mengantongi ponselnya kembali ke balik saku jas abu-abu tua yang melekat pas di tubuh tegapnya.Bias cahaya bulan dari balik jendela besar memantul di atas lantai keramik, memberikan pencahayaan alami yang cukup terang tanpa bantuan lampu loron
"Apa-apaan ini?" Diana menyentak lembaran kertas dari tangan Rolan dengan sekali gerakan kasar. Matanya yang dilapisi perona tebal membelalak, memindai deretan angka dan stempel basah di atas dokumen tersebut. "Apalagi yang kamu lakukan?!" tuduh Diana, Dia membalikkan tubuh dan menunjuk wajah Aveline dengan telunjuknya. Aveline membelalakkan mata di balik masker oksigennya, mencoba menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. "Ini... ini pasti salah paham, Bibi. Siapa yang sengaja memalsukan tanda tanganku?" Rolan membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari. "Seluruh dana segar dari agensi ini dicairkan secara tunai siang tadi, Nona Aveline. Dan pihak agensi hanya memegang surat kuasa dengan tanda tangan atas nama Anda." Diana mendengus pendek, melempar kertas-kertas itu ke atas meja nakas hingga vas bunga kecil di atasnya bergeser. "Jangan berakting polos, Velin! Utang keluarga kita belum lunas, lalu sekarang kamu malah menarik pinjaman baru lagi?" "Bukan aku,
"Tahan tubuhnya! Jahitannya bisa lepas semua!"Suara lengkingan histeris dari ruang isolasi membuat lorong lantai lima kembali mencekam. Pekikan perawat itu disusul suara benda logam yang terseret kasar di atas pualam.Pintu kayu ruang isolasi terbuka lebar dari dalam,
"Masuk, Nona. Jangan membuat Nyonya Vela menunggu lebih lama," ucap pria berjas abu-abu yang turun dari kursi kemudi. Aveline menarik napas panjang, menahan rasa ngilu yang menyerang perut kanannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia bangkit dari kursi roda dan melangkah masuk ke dalam kabin m
"Cih, kau gila ya! Lepaskan!" Mereka terengah-engah mencuri udara disela-sela aktivitasnya. Pria bertopeng itu mendengus sinis, sama sekali tidak berniat menghentikan pergerakannya. Jemarinya yang kasar justru semakin sengaja menekan titik sensitif Aveline, mengabaikan seluruh penolakan yang kel
"Permisi, apa di sini ada tempat untuk menginap?" Wanita paruh baya misterius muncul dari balik lubang kecil. "Harga per malam dua belas dollar." Bip! Aveline menggunakan kartu hitam yang diberikan Aeron, ia mulai menggesek kartunya dan notifikasi terkirim ke ponsel Aeron. [Peringatan Transa







