Alena berdiri di depan lift lantai tujuh belas dengan jantung yang tidak kunjung mau tenang, tangannya masih menggenggam flashdisk yang sejak tadi ia yakini tertinggal di ruang rapat, padahal justru benda kecil itu yang membuatnya harus naik ke lantai paling atas hotel ini di malam hari hanya untuk mengetuk kamar atasannya. Semakin pintu lift tertutup, semakin pikirannya terasa berisik, bukan hanya karena takut salah masuk kamar atau mengganggu Leon di luar jam kerja, tetapi juga karena ia tiba-tiba teringat bahwa mungkin saja semua orang di rombongan ini melihatnya naik ke lantai ini dan mulai berpikir yang tidak-tidak, termasuk Alex, Amara, bahkan Sisca yang jelas tidak pernah bisa menahan komentar.Di lantai bawah, Sisca baru saja keluar dari lobby sambil membawa minuman ketika tanpa sengaja melihat Alena masuk lift menuju lantai atas sendirian. Ia berhenti sepersekian detik, lalu ekspresinya langsung berubah seperti orang yang baru menemukan bahan gosip paling menarik hari itu, me
Mehr lesen