Pagi di kantor Mahendra Group berjalan seperti biasa, tapi tidak bagi beberapa orang di dalamnya. Alena datang lebih awal dari biasanya.mBukan karena semangat, melainkan karena ingin memastikan dirinya tidak perlu berhadapan dengan situasi yang akhir-akhir ini terlalu sering membuat pikirannya tidak stabil, atau lebih tepatnya, seseorang yang tanpa sadar mulai mengganggu ritme hidupnya sendiri. Ia duduk di meja kerjanya tanpa banyak bicara, langsung membuka laptop, mencoba tenggelam dalam pekerjaan sebelum pikirannya sempat melayang ke hal lain. Sisca yang baru datang melirik sekilas. “Ini orang kenapa lagi,” gumamnya pelan. Alena tidak menjawab. Bukan karena tidak mendengar, tapi karena sedang berusaha tidak mengingat terlalu banyak hal sekaligus. Tak lama kemudian Alex datang seperti biasa, membawa dua gelas kopi. Satu ia letakkan di meja Sisca. Satu lagi di depan Alena. “Pagi,” kata Alex santai. Alena menatapnya sebentar. “Aku nggak minta.” “Aku tahu,” jawab Alex ringa
Mehr lesen