LOGINJam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur.
Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.
Bukan.
Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata.
Alarm tubuhnya saja yang memang sudah terbiasa terjaga hingga larut malam; selain karena dulu sering begadang mengejar deadline desain, kebiasaan itu kini berlanjut lagi karena Sansa yang kerap terbangun di tengah malam bahkan sampai pagi.
Dia hanya mengenakan kaos putih longgar kebesaran berbahan katun lembut—merchandise eksklusif dari proyek pameran arsitektur yang pernah dia pegang dua tahun lalu—dan hotpants senada. Itu pakaian tidur ternyaman yang biasa dia pakai sehari-hari di dalam rumah.
Namun, begitu sampai di ruang keluarga, Tala mendapati lampu lantai di sudut ruangan sudah menyala, memayungi sofa panjang abu-abu dengan pendar cahaya yang temaram namun cukup terang untuk membaca.
Di sana, Geza sedang duduk bersandar dengan santai.
Di atas meja kopi di hadapannya, berserakan sebuah tablet dan tumpukan berkas blueprint proyek townhouse milik Janitra Properti—perusahaan peninggalan Arka.
Pria itu tampaknya baru selesai membersihkan diri setelah menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang dibawa ke rumah; dia mengenakan kaos rumahan abu-abu polos yang pas di tubuh, mempertegas siluet bahunya yang tegap dan kokoh.
Kacamata baca bertengger di hidung tegasnya, dan tangan kanannya yang memegang pulpen merah baru saja selesai memberi coretan koreksi pada draf perencanaan struktur fasad—yang langsung Tala kenali karena itu adalah hasil desainnya yang sudah disetujui Arka.
Dia melangkah tenang dengan kaki telanjang, lalu duduk di ujung sofa yang sama dengan Geza, melipat kakinya ke atas bantalan sofa, dan menatap pulpen merah itu dengan senyum sarkas.
"Pulpen merah lagi, Geza?" tanya Tala, memecah kesunyian malam dengan nada seringan bulu namun tajam.
"Kebiasaan ya orang-orang dari korporasi raksasa sekelas Bhuwana tuh datang ke Janitra cuma buat mangkas anggaran estetika demi angka-angka efisiensi yang membosankan."
Geza tidak terkejut dengan kedatangan Tala. Dia perlahan menurunkan tabletnya, pandangan matanya sempat turun sekelebat, menyapu kaki jenjang Tala yang terekspos bebas karena potongan hotpants-nya, sebelum kembali mengunci tatapan mata wanita itu dengan tenang dan dominan.
"Saya sedang mengamankan likuiditas Janitra, Tala," sahut Geza, suaranya berat, datar, dan begitu rasional. "Konsep fasad kamu ini terlalu idealis untuk proyek townhouse kita sekarang. Kalau dipaksakan berdiri, perusahaan Mas Arka bisa kolaps karena pembengkakan anggaran."
Tala mendengus tipis. "Nggak usah sedramatis itu. Struktur itu sudah dihitung matang dan disetujui sama Mas Arka sebelum dia nggak ada. Ini proyek mini-cluster eksklusif, Geza. Daya jual utama kita justru di keunikan desain fasadnya."
Geza menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dengan santai. Pulpen merah di tangannya berputar sekali dengan lihai.
"Itulah masalahnya dengan arsitek. Kalian cuma lihat estetika, tapi buta sama cash flow," sahut Geza tanpa beban.
"Arka setuju karena dia melihat ini sebagai kakak dan sesama rekan arsitek kamu. Tapi tugas saya di sini adalah realistis sebagai manajemen," potong Geza datar.
"Desain fasad tropis modern kamu ini cantik, tapi memakan biaya konstruksi tiga puluh persen di atas budget standar Janitra. Pasar kita sekarang lagi butuh rumah yang fungsional, murah, dan cepat serah terima. Mereka nggak peduli sama dinding estetik kalau ujung-ujungnya harus inden dua tahun lebih lama cuma karena tukang di lapangan kesulitan garap strukturnya."
Tala terkekeh hambar, memeluk lututnya di atas sofa. "Alasan yang sama persis seperti proyek kita tiga tahun lalu? Kamu itu... sebenarnya paham esensi arsitektur nggak, sih? Atau di otak kamu cuma ada kalkulator sama beton pracetak? Orang sipil bentukan korporat besar kayak kamu emang selamanya nggak bakal ngerti apa itu selera dan estetika."
Geza menaruh pulpennya di atas meja dengan ketukan pelan. Dia menatap Tala dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menyahut dengan nada yang terlampau datar.
"Kalau saya nggak tahu estetika, nggak mungkin saya nikahin kamu hari ini.”
Tala langsung terdiam. Matanya berkedip sekali, otaknya mendadak lambat mencerna kalimat barusan.
Pria di depannya ini terlalu lihai bermain kata. Melihat pipi Tala yang mendadak berubah sedikit merona dalam remang lampu, sudut bibir Geza berkedut tipis, terhibur.
Tala berdeham, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang sempat goyah.
"Nggak usah pindah topik" tembak Tala ketus. "Intinya kamu mau cari celah buat mutus kontrak kerjasamaku sama Janitra kan?"
"Saya lagi nyelamatin proyek, Tala, bukan lagi nyari masalah sama kamu," balas Geza. Intonasi suaranya turun satu oktav, terdengar lebih berat dan mengintimidasi.
"Kamu mau bilang saya licik lagi? Manipulatif?”
"Karena emang itu sifat asli kamu." ujar Tala tenang. Nada suaranya datar tanpa riak, namun justru di situ letak serangannya.
Tala sedikit mencondongkan tubuh ke arah Geza, menatap pria itu dengan remeh. "Pinter manfaatin celah."
Geza tak langsung membalas. Dia justru menggeser tubuhnya di atas sofa panjang itu.
Pergerakan Geza begitu konstan dan cepat. Sebelum Tala sempat menurunkan kakinya dari sofa untuk menghindar, Geza sudah merangsek maju, memotong sisa jarak di antara mereka.
Dalam satu hentakan singkat, ia mengurung tubuh Tala telak di sudut sandaran lengan sofa.
Kedua tangan besar Geza mendarat tegas di sisi kanan dan kiri kepala Tala, mencengkeram kain sofa dan memotong habis ruang geraknya. Meski berpakaian lengkap, kedekatan ini justru terasa jauh lebih menyesakkan karena dada bidangnya kini tepat berada di depan wajah Tala.
Aroma sabun maskulin yang tajam bercampur wangi khas tubuh Geza langsung menyerang indra penciuman Tala, membuat pasokan oksigen di ruang keluarga itu mendadak menguap.
Tala menahan napas, kedua telapak tangannya refleks menempel di dada Geza, mencoba menahan detak jantungnya sendiri yang mulai gila.
Bagaimana pun Tala ini wanita dewasa, jarak seintens ini mana mungkin tak membuatnya berdebar.
"Geza, mundur," bisik Tala parau. Suaranya yang biasa terdengar ketus kini bergetar, kehilangan seluruh keangkuhannya yang tadi.
Bukannya menjauh, Geza justru menurunkan pandangannya, mengunci bibir Tala yang sedikit terbuka sebelum kembali menatap sepasang mata wanita itu. "Kenapa? Kamu takut?"
"Nggak usah gila, ya!" Tala mencoba mendorong dada bidang di depannya, namun tubuh Geza sama sekali tidak bergeming. "Kita lagi bahas kerjaan!"
"Saya sedang tidak ingin membahas kerjaan, Tala," potong Geza rendah, suaranya terdengar seperti geraman halus.
Dengan satu gerakan impulsif, Geza melepas kacamatanya lalu melempar benda itu asal ke atas sofa.
"Kamu bilang kalau saya pintar memanfaatkan celah," bisik Geza rendah, getaran suaranya merayap berbahaya di indra pendengaran Tala.
"Dan sekarang, kamu sengaja membuka celah itu lebar-lebar di depan saya."
"Geza stop…kamu mau ngapain?" suara Tala makin parau. Matanya bergerak panik, mencoba mencari celah untuk menghindar namun tubuhnya sudah terkunci total.
Bukannya menjawab, Geza justru semakin menunduk, memiringkan kepalanya dan merendahkan wajahnya hingga jarak di antara mereka tidak sampai satu sentimeter.
Napas panas Geza yang memburu berembus langsung di atas permukaan kulit wajah Tala, memangkas sisa ruang yang tersisa hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
Matanya terpejam perlahan, membuat Tala refleks ikut memejamkan mata erat-erat karena tidak sanggup menerima intensitas sedekat itu.
"Jadi, jangan salahkan saya kalau memanfaatkan celah ini." bisik Geza pelan, tepat di depan bibir Tala yang gemetar. "Kamu lupa, Tala? Mulai hari ini, saya punya hak penuh atas kamu. Dan ini malam pertama kita."
Menjatuhkan Wardoyo dan ayahnya, katanya?Seketika, Tala meremang. Bukan apa-apa, Bhuwana merupakan konglomerasi besar dengan jaringan bisnis yang membentang di berbagai sektor. Wardoyo sendiri menduduki posisi wakil direktur dengan kepemilikan saham dan pengaruh yang tidak kecil di dalamnya. Belum lagi Dharma, perusahaannya memang belum sebesar Bhuwana, tetapi memiliki jaringan dan pengaruh bisnis yang cukup luas.Menjatuhkan mereka jelas bukan perkara mudah.“Kamu mau melawan mereka?” tanya Tala, menatap suaminya lekat-lekat.“Ya,” jawab Geza tanpa ragu.Tala menggigit bibir. Ada kegelisahan yang mulai muncul saat memikirkan keputusan suaminya.“Kamu yakin? Secara kondisi, mereka lebih senior, kan? Dan secara posisi, kuasanya jauh lebih besar,” ujarnya.“Memang. Tapi saya nggak bisa lepas gitu aja sebelum Wardoyo jatuh. Akan ada banyak hal yang bisa dia gunakan untuk mengikat saya di Bhuwana dan dia akan ganggu saya terus saat udah resmi keluar. Dia ini lebih merepotkan dibanding Pa
Geza mengembus napas berat sekali saat akan melanjutkan. “Awalnya, semuanya berjalan normal. Wardoyo menjalankan perannya sebagai mentor yang baik. Meskipun pada dasarnya dia adalah kolega Papa, dia justru lebih banyak berdiri di pihak saya. Dia tahu seberapa besar kebencian saya terhadap Papa. Terlebih lagi, dia tahu saya dan Kinan menjalin hubungan.” Geza berdeham sesaat. Ada sedikit kecanggungan ketika ia menyebut hubungan masa lalunya dengan Kinan. “Tapi, seiring waktu, saya paham kalau tujuan Wardoyo mengajari saya tak lain agar dia punya tangan kanan yang bisa dimanfaatkan untuk membantunya berkuasa di Bhuwana, perusahaan yang notabene milik kakak sepupunya sendiri. Dia butuh saya untuk membereskan semua kekurangan anak sulungnya yang nggak kompeten.” Tala terdiam mendengarkan penjelasan itu. Setelah beberapa saat, barulah ia menyela. “Terus, kenapa kamu nggak langsung keluar?” tanyanya. “Karena saya nggak mau keluar begitu aja setelah dimanfaatkan seperti itu. Saya menggun
“Jadi, aku harap kamu bisa jujur soal semuanya ke aku. Kalau Kinan aja bisa begitu paham isi kepala kamu, mestinya aku juga bisa. Aku ini istri kamu,” ujar Tala. Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi kecemburuan di balik kalimat itu begitu kentara. Geza menoleh, sedikit geli. “Kamu masih cemburu sama dia? Padahal kemarin kamu baru aja tahu kalau saya udah cinta kamu sejak lama.” “Oh, jelas. Katanya dia paham banget cara kamu berpikir,” balas Tala tanpa ragu. Geza mendengkus. “Sesuai dugaan. Dia bilang apa aja ke kamu?” Tala langsung mendelik. “Kamu bisa sepaham itu juga sama cara pikir Kinan?” Geza merangkul bahu Tala, mendekatkannya sedikit. “Bukan gitu. Cuma kayaknya nggak mungkin kamu tiba-tiba cari tahu ke vendor soal rencana pernikahan kalau Kinan nggak cerita macam-macam.” “Dia cerita semua hal tentang kalian di masa lalu dan ... dia juga bilang kalau dia udah merasa kalah sejak dulu,” ucap Tala. Geza menoleh kepadanya. “Setelah dengar semua cerita dia dan tahu soal ren
Seminggu sudah berlalu sejak obrolan malam itu di taman belakang. Tala memang kembali bersikap wajar kepada Geza, tetapi tetap ada batas yang ia pertahankan. Saat berada di kamar bersama, Tala masih terlihat canggung, sementara Geza berusaha bersikap normal. Hanya saja, pria itu kini jauh lebih menjaga diri. Ia tidak lagi asal memeluk atau menyentuh Tala seperti biasanya. Selama seminggu terakhir, selain sempat berbincang dengan Bastian dan Amika tempo hari, Tala juga beberapa kali mencurahkan isi pikirannya kepada Jia saat sesi pilates. Tentu saja, ia tidak menceritakan masalahnya secara gamblang. Namun, Jia sempat memberikan pandangan bahwa apa pun dalam rumah tangga seharusnya masih bisa dibicarakan dan diperbaiki, selama bukan KDRT atau perselingkuhan. Tala setuju dengan prinsip itu. Mungkin memang sudah waktunya ia bicara baik-baik dengan Geza. Membahas semua hal yang masih mengganjal dan meminta pria itu membuka semua sisi dirinya, termasuk hal-hal yang selama ini disembunyik
Berbicara dengan Bastian soal masalahnya dengan Geza justru membuat kepala Tala semakin penuh. Bagaimanapun, Bastian selalu berada di pihak Geza. Dan setelah mendengar berbagai penjelasannya sejak tadi, Tala mulai merasa sedikit terpengaruh. “Tuh, kan, Mas. Ke sini buat jadi promotor Geza lagi,” sindir Tala. “Eh, nggak. Ini murni POV saya sebagai sahabat, pengacara pribadi, sekaligus rekan bisnis yang selalu direpotin sama dia.” Bastian mengangkat kedua tangan. “Lagipula, saya ke sini mau pacaran. Kebetulan aja ada kamu di sini.” Tala hanya mengibaskan tangan, tak terlalu percaya dengan alasannya. “Tapi kamu tuh memang dukung Geza banget, tahu, Yang. Mihak banget. Kayaknya apa pun yang Geza omongin, kamu tuh setuju aja,” komentar Amika sambil menoleh kepada kekasihnya itu. “Eh, nggak juga. Waktu Geza pertama kali bilang punya ide nikah kontrak, aku justru nolak, Mik. Udah aku ingetin juga. Serius.” Bastian menggeleng. “Aku malahan nyuruh dia buat pedekate yang bener. Sayangnya tu
Bastian lah yang berdiri di ambang pintu itu, dengan kemeja kerjanya yang sudah tergulung hingga siku. Cepat sekali ia pulang, padahal jam baru menunjukkan pukul empat sore. Anak konglo memang punya kuasa berbeda. Tala sendiri datang ke apartemen Amika karena tahu sahabatnya itu sedang cuti. Kebetulan, Sansa sedang les balet tak jauh dari sana, jadi Tala sekalian mampir untuk menghabiskan waktu sambil menunggu keponakannya selesai les. Bastian meletakkan kotak pizza yang dibawanya di meja, lengkap dengan sebotol kopi susu ukuran satu liter. “Silakan, Tata.” Pria itu mempersilakan sambil bertingkah seolah-olah dirinya tuan rumah. Ia kemudian duduk di sofa seberang Tala, berdampingan dengan Amika. “Ini tandanya habis makan gue pulang, gitu, Mik?” tanya Tala kepada sahabatnya. Amika tertawa. “Nggaklah. Nanti Bastian yang gue usir. Orang lain pada kerja, dia malah kabur duluan.” “Kok gitu sih, Yang?” Bastian memasang wajah merajuk. “Perasaan kemarin protes gara-gara diganggu terus p
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me







