Startseite / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 17- Membakar Papan Catur

Teilen

17- Membakar Papan Catur

last update Veröffentlichungsdatum: 26.05.2026 21:46:23
Suasana kantor di lantai itu mendadak hening begitu Geza melangkah menuju ruang privat dengan aura dominan yang bagi Tala sangat menyebalkan. Para karyawan perempuan yang dilewatinya seketika membeku, mata mereka mengikuti setiap gerak-gerik pria itu dengan tatapan nyaris memuja. Tala hanya menatap sinis dari balik mejanya.

Pamer sekali.

Sansa, yang sedang duduk di high chair sambil disuapi nanny, langsung bersorak girang begitu melihat sosok jangkung itu masuk. "Om Eja!"

Geza tersenyum—sebuah s
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Sebelum Tiga Tahun   55- Alasan Membenci

    “Geza.” Amika menjawab.Tala menggeleng pelan. "Itu cuma asumsi lo doang kali, Mik.""Nggak kok, orang gue punya bukti.""Mana?"Amika menyandarkan punggungnya ke kursi. "Inget gak proyek Cikarang yang bikin lo kelabakan beberapa bulan lalu? Yang hampir batal gara-gara pemilik lahannya tiba-tiba minta harga naik."Tala mengangguk. Ia masih ingat betul bagaimana proyek itu nyaris membuat kepalanya pecah."Lo pikir kenapa akhirnya pemilik lahan itu balik ke harga awal?""Lah, karena negosiasi tim legal Janitra."Amika menggeleng.“Gue baru tahu belakangan dari konsultan appraisal yang ikut duduk di pertemuan terakhir," lanjut Amika, memajukan tubuhnya sedikit demi memberikan penekanan. "Sebelum Janitra masuk lagi buat negosiasi, Geza ternyata pakai pihak lain buat lebih dulu ketemu pemilik lahannya.”Tatapan Tala membeku."Dia nggak nawar. Nggak maksa juga." tutur Amika."Terus?"“Pihak suruhan Geza cuma bilang kalau Bhuwana nggak akan ikut masuk atau ngerebut lahan itu. Dan menurut dia

  • Sebelum Tiga Tahun   54- Penjaga Punggung

    "Kamu lagi dapet, Ta?" tanya Geza dengan suara yang luar biasa serak dan tertahan, menuntut penjelasan dari wanita di bawahnya yang sudah berhasil membuatnya gila setengah mati.Di bawah kungkungan tubuh Geza yang menegang kaku, Tala justru menarik napas panjang, menikmati pasokan oksigen sebanyak mungkin. Alih-alih merasa bersalah atau panik karena tertangkap basah, seulas senyum kemenangan terbit di wajahnya yang merona merah.Dengan gerakan lambat, ia mengalungkan kembali kedua lengannya di leher pria itu, sengaja merapatkan tubuh atas mereka yang sama-sama polos tanpa sekat.“Not tonight…You lose Mas Geza.”Geza mendengkus kesal. Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu berantakan. Rasa panas dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya benar-benar menyiksa. “Fine,” ujar Geza akhirnya, menatap Tala dengan senyum miring yang menantang balik. “Kamu menang Tala. Puas? Tapi jangan pikir kamu bisa lepas gitu aja.”Dengan gerakan yang s

  • Sebelum Tiga Tahun   53- Malam Kemenangan Tala

    Pertanyaan Geza menggantung di antara mereka, bergesekan dengan udara kamar yang mendadak terasa gerah. Tala menyunggingkan senyum tipis—sebuah lengkung samar yang penuh arti.Tangannya bergerak menutupi jemari Geza yang masih tertahan di resleting dressnya menuntun tangan pria itu untuk tetap di sana, merasakannya langsung lewat sekat kain gaun yang tipis.“Menyesal?” suara Tala mengalun rendah melebur dengan kesunyian malam. “Pion nggak pernah punya pilihan buat jalan mundur, bukan?”Geza menyentak, menepis tangan Tala yang menutupi jemarinya di atas resleting dress wanita itu. Dalam satu gerakan cepat, tangannya naik ke tengkuk Tala, meremasnya dengan tekanan yang menuntut.“Nggak ada pion yang punya kuasa buat mengacaukan isi kepala saya kayak gini.” balas Geza dengan suara menggeram.Bersamaan dengan kalimat itu, Geza melangkah maju. Dorongan tubuhnya membuat Tala mundur tertatih, kehilangan keseimbangan hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang dan di detik berikutn

  • Sebelum Tiga Tahun   52- Sengatan Halus

    “Tell me.” ucap Tala lagi, ujung telunjuknya bergerak lambat menyusuri dada Geza.Geza segera mencekal jemari itu. “Kamu mabuk, Tala.”“Nggak, aku masih cukup sadar buat bisa lawan semua fans kamu yang buas itu.” sanggah Tala.“Kenapa? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Geza.“Nggak secara langsung.”“Sorry Ta, ada beberapa hal yang harus saya urus di sini. Jadi sering ninggalin kamu.” sesal Geza.Tala terkekeh. “GM residential development….”“... pasti sesibuk itu sih,” lanjut Tala, nadanya mengayun ringan.Efek segelas setengah wine tadi mulai bekerja, membuat tubuhnya terasa seringan kapas, sekaligus menyulut lebih banyak keberanian. Aroma bergamot yang maskulin dan familier dari jas Geza yang tersampir di bahunya perlahan menguar, mengepung indra penciuman. Aroma itu egois, persis seperti pemiliknya, mengklaim Tala di tengah dinginnya angin malam.Di bawah lampu balkon, tatapannya yang agak sayu menyisir garis rahang kokoh Geza.“Jadi,” Tala memulai lagi, menatap Geza tanpa berkedip,

  • Sebelum Tiga Tahun   51- Pengakuan Dosa

    Suara sumbang itu sukses membuat Tala kesal."Selingkuh? Nggak mungkin ah. Pak Geza nggak kelihatan kayak cowok yang begitu. Kerjaannya aja udah segunung.”Bukan peselingkuh? Komentar itu justru sedikit menggelitik Tala, mengingat beberapa fakta masa lalu yang ia ketahui."Tapi gue tetap nggak rela aja. Yang diucapin terima kasih malah cewek lain, padahal Mbak Kinan yang nemenin semua prosesnya."Realistis. Tapi yang membuat Tala semakin kesal adalah kenyataan bahwa Geza sengaja menyeretnya ke bawah sorotan yang bukan miliknya."Iya sih, gue kalau jadi Mbak Kinan nangis parah. Eh tapi sis, kalau nggak selingkuh nggak mungkin dong tiba-tiba nikah gitu aja."Tala mengenali bahwa suara-suara ini berbeda dari para penggosip yang ia dengar kemarin sore.Astaga. Ternyata jumlah hatersnya lebih banyak dari yang ia kira. Harusnya Tala keluar saja daripada menguping omongan sampah macam itu.Harusnya.Tapi tubuhnya bicara lain. Ia malah tetap berdiri di depan wastafel, berpura-pura merapikan r

  • Sebelum Tiga Tahun   50- Pusat Perhatian

    Tala baru saja menyapukan blush on di pipi saat pesan dari Rena masuk.Pakai lipstik merah, Mbak. Pasti cantik. Tunjukin kalau Mbak nggak apple to apple sama mantan. Soalnya Mbak levelnya di atas.Tala hanya terkekeh membacanya.Dari obrolan sore tadi, Rena cuma bilang kalau Kinan pernah bekerja di Bhuwana sebelum akhirnya pindah ke luar negeri. Hanya itu. Tala juga tidak berniat mencari tahu lebih jauh. Toh itu bukan urusannya.Ini malam kedua retreat. Bhuwana menggelar dinner sekaligus malam apresiasi atas pencapaian Divisi Residential Development sepanjang tahun ini. Acara itu turut mengundang keluarga para karyawan dan jajaran manajemen, menjadikannya lebih dari sekadar makan malam biasa.Artinya Tala harus kembali tersenyum, berbasa-basi, menjadi istri Geza di depan publik dan jelas menghadapi lebih banyak tatapan penasaran serta bisik-bisik tentang dirinya dan pria itu. Malam saat welcoming BBQ kemarin tingkah Geza yang berlebihan sukses menjadi bahan bakar baru bagi para penggo

  • Sebelum Tiga Tahun   23- Di Balik Dinding Melawai

    Tala menatap keluar jendela kantor lapangan, memandangi kerangka baja Space Creative yang kini baginya tampak seperti sebuah labirin. Di tengah tumpukan proyek perumahan subsidi di pinggiran kota yang selama ini menopang nama Janitra, proyek di Melawai ini jadi salah satu aset prestisius yang diwar

  • Sebelum Tiga Tahun   22- Suami Istri Harmonis

    Suasana ruang keluarga mendadak terasa lebih berat. Di atas meja marmer, tumpukan berkas site visit proyek Janitra yang akan Tala tinjau dalam satu minggu ke depan sudah menggunung. Ini adalah kali pertama Tala terjun langsung ke lapangan dengan posisi baru di Janitra, dan dia butuh persiapan matan

  • Sebelum Tiga Tahun   20- Exit Plan Geza

    Setelah rombongan "pasukan pengawal" Geza menghilang dari pandangan, suasana di meja mendadak berubah drastis. Sisa es batu di gelas Amika berdenting pelan saat ia mengaduk minumannya, matanya menatap Tala yang baru saja duduk kembali dengan napas yang masih memburu—sisa emosi yang belum sepenuhnya

  • Sebelum Tiga Tahun   15- Lemburan Pukul Sebelas

    Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ruang kerja Geza adalah satu-satunya tempat yang masih bercahaya di rumah itu, menyisakan kesunyian yang mencekik. Geza duduk di balik meja mahoninya, jemarinya memutar pena dengan ritme yang monoton, sementara matanya tajam mencoret anggaran salah satu proyek Ja

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status