MasukGeza terdiam beberapa detik mendengar jawaban Tala. Tatapannya tak beranjak dari wajah perempuan itu.“Why?” tanyanya pelan.“You really don’t love me?”“Kamu yang nggak cinta aku,” sahut Tala pelan.Geza mengembuskan napas kasar. Ada frustrasi yang akhirnya lolos dari ketenangannya.“Apa yang saya tunjukkan selama ini nggak cukup buat bikin kamu paham kalau saya secinta itu sama kamu?”Itulah kalimat yang selama ini ingin Tala dengar dari mulut Geza—validasi yang begitu jelas, tanpa ruang untuk disalahartikan. Namun kini justru kalimat itu membuatnya semakin gelisah, terlebih saat Geza mengatakannya dalam situasi seperti ini, ketika Tala sedang berusaha diyakinkan.Membuat kalimatnya makin terasa ambigu, apakah ini ketulusannya atau bentuk manipulasinya agar Tala setuju. Sebagaimana dulu, ketika Geza memainkan situasi dan emosinya sampai Tala bertindak impulsif dan menyetujui pernikahan kontrak mereka.“Za, mungkin yang kamu rasain ke aku bukan cinta.” Suaranya melemah.“Mungkin itu k
Nama itu berhasil membuat Tala berbalik.Geza menyeringai tipis. “Kayaknya cuma nama itu yang bisa bikin kamu mau natap saya.”Sengaja sekali menikmati ekspresi waspada di wajah perempuan itu.“Gini...””...jujur Ta, malam itu kamu memang nggak bilang apa-apa soal perasaan kamu . Kamu cuma bilang cerai berkali-kali sampai saya muak dengernya dan pengen cium kamu saat itu juga,” beber Geza.“Dan kamu cium aku?” sahut Tala.“Ya menurut kamu?” Geza balik bertanya.Tala mendengkus.Ingatan tentang malam itu memang datang dalam potongan-potongan yang tidak utuh. Terlalu banyak bagian yang hilang, menyisakan rasa malu setiap kali satu fragmen tiba-tiba muncul di kepalanya.“Malam itu saya bilang, Kinan cuma masa lalu saya. Saya udah nggak punya hubungan apa-apa sama dia di luar pekerjaan,” terang Geza.“Tapi kamu masih sering teleponan sama dia di luar jam kerja, bahkan pas weekend sekalipun,” sahut Tala.“Membahas pekerjaan.” Geza mengembuskan napas berat. “Ada proyek yang Bhuwana mau gara
Pengakuan Adrian tempo hari cukup memengaruhi Tala. Ia jadi banyak berpikir. Pria yang dulu terasa mustahil menyukainya ternyata bersedia menunggunya sampai kontraknya selesai, bahkan tak mempermasalahkan jika nanti Tala berstatus janda.Secara logika, hidup bersama Adrian terasa lebih aman. Ia terbuka soal perasaannya, tak banyak menyimpan siasat, dan Tala tak pernah merasa harus menebak-nebak maksudnya setiap kali mereka berbicara.Tanpa sadar, Tala tenggelam menatap maket pemberian Adrian di meja kerjanya.Sampai suara Geza yang sejak tadi memanggilnya tak juga ia gubris.“Segitu berharganya itu maket?” sindir Geza.Tala baru menoleh. “Kamu ngapain ke sini, Za?”“Tidur, lah. Ada Bude Sinta. Saya nunggu kamu di kamar, nggak dateng-dateng.” Geza mengeluh.“Iya, sorry. Aku tadi kelarin kerjaan dulu.”“Pekerjaan atau ngelamunin Adrian?” todong Geza.“Kamu mau ngajak debat kusir lagi?”“Iya, kalau kamu respons saya sambil jutek kayak gitu,” ujar Geza sambil berlalu. Suaranya datar, cend
Tala membuka bingkisan yang sebenarnya sudah tiba sejak Sabtu pagi. Ia baru menyadarinya karena sibuk dengan rangkaian persiapan ulang tahun Sansa.Begitu dibuka, Tala langsung terdiam.Di dalamnya ada maket rumah singgah yang pernah ia rancang untuk proyek studio perancangan semester tiga. Desain yang membuatnya begadang lantaran terus dirombak hanya karena ia bersikeras taman rumah singgah itu harus memiliki satu pohon besar, sampai akhirnya Adrian membantu menyelesaikan desain tersebut.Tala mengusap permukaan maket itu pelan. Kenangan lama berkelebat begitu saja. Lalu matanya jatuh pada secarik catatan yang diletakkan di sampingnya.Ia mengambilnya dan membuka lipatannya.“Di hari ulang tahun seorang anak, bukan cuma anaknya yang harus dirayakan. Ibunya juga. Karena itu adalah momen pertama seorang perempuan punya peran baru. Dan setiap momen pertama selalu punya cara untuk mengingatkan kita pada siapa diri kita dulu.Selamat bertumbuh lagi, Tala. Semoga kamu selalu menemukan jala
Kali ini Geza benar-benar menatap mata Tala, berharap perempuan itu menangkap makna di balik ucapannya meski kesadarannya sedang berantakan.”Nggak usah ada kontrak lagi di antara kita. Saya mau kamu jadi istri saya. Istri sungguhan.” ulang Geza sekali lagi.Namun Tala justru mengerutkan kening.“Nggak boleh jadi istri. Aku nggak mau diselingkuhin kalau nanti Kinan pulang.”“Siapa yang mau selingkuh, Tala?”Geza menahan napas. Perempuan ini benar-benar sedang mabuk sampai semua ketakutan yang biasanya ia sembunyikan keluar begitu saja.“Mas Eja tuh brengsek...” Tala mengerutkan hidung, suaranya mulai terdengar serak. “Kamu dulu selingkuhin Alleya. Dia teman SMA aku, tahu. Kasihan dia sering ke kampus cari kamu, tapi kamu malah kabur terus.”Tala menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya dengan mata yang mulai berat.“Nanti kalau aku terus jadi istri kamu, kamu juga bisa selingkuh. Apalagi kalau Kinan pulang.”“Tala, saya nggak selingkuhin Alleya.” Suara Geza akhirnya terdengar lebi
Demi Tuhan, Geza ingin mengumpati orang-orang yang membiarkan Tala mabuk.Senin nanti, ia akan mencecar Rena dan Bastian. Keduanya sudah dititipi untuk mengawasi Tala, memastikan perempuan itu tidak minum terlalu banyak. Nyatanya, Tala tetap lolos dan Geza malah menemukan istrinya di rooftop terbuka, sedang curhat kepada Adrian—mantan crush-nya yang menyebalkan itu—dengan Seno yang sudah mabuk di sampingnya. Sementara orang yang dititipi menjaga Tala masih cukup sadar di lounge, meski mulai tipsy.Setelah mengantar Hanum, Geza sempat menghadapi masalah di kamar Bude Sinta dan Sansa yang mengharuskannya berurusan dengan pihak hotel. Urusan itu membuatnya terlambat kembali ke lounge—dan selama itulah Tala minum terlalu banyak.Geza tidak tahu apa saja yang sudah dibocorkan Tala kepada Adrian. Ia hanya sempat menangkap beberapa kalimat sebelum membawanya pergi.Adrian adalah crush-nya yang dia suka setengah mati.Adrian tampan.Dan entah apa lagi.Huh. Mudah sekali perempuan itu mengobral
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







