بيت / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 14- Kado Pernikahan Private Edition

مشاركة

14- Kado Pernikahan Private Edition

مؤلف: Sora Carita
last update تاريخ النشر: 2026-05-23 22:50:36

Sinar matahari Sabtu pagi masuk dengan hangat melalui kaca besar ruang tengah. Di atas karpet bulu, Sansa sedang duduk bersila, fokus menumpuk balok kayu warna-warni di bawah panduan Nina—terapis anak yang hampir tiga bulan mendampingi mereka.

Tala berdiri tak jauh dari sana, ponselnya terangkat diam-diam. Jemarinya dengan cekatan merekam momen itu. Sansa tertawa kecil saat baloknya hampir roboh, dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tawa itu terdengar jernih.

Di sisi lain lingkar
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Cindi Maelani
ahhh seneng nya ayo pake tala 🫣
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Sebelum Tiga Tahun   53- Malam Kemenangan Tala

    Pertanyaan Geza menggantung di antara mereka, bergesekan dengan udara kamar yang mendadak terasa gerah. Tala menyunggingkan senyum tipis—sebuah lengkung samar yang penuh arti.Tangannya bergerak menutupi jemari Geza yang masih tertahan di resleting dressnya menuntun tangan pria itu untuk tetap di sana, merasakannya langsung lewat sekat kain gaun yang tipis.“Menyesal?” suara Tala mengalun rendah melebur dengan kesunyian malam. “Pion nggak pernah punya pilihan buat jalan mundur, bukan?”Geza menyentak, menepis tangan Tala yang menutupi jemarinya di atas resleting dress wanita itu. Dalam satu gerakan cepat, tangannya naik ke tengkuk Tala, meremasnya dengan tekanan yang menuntut.“Nggak ada pion yang punya kuasa buat mengacaukan isi kepala saya kayak gini.” balas Geza dengan suara menggeram.Bersamaan dengan kalimat itu, Geza melangkah maju. Dorongan tubuhnya membuat Tala mundur tertatih, kehilangan keseimbangan hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang dan di detik berikutn

  • Sebelum Tiga Tahun   52- Sengatan Halus

    “Tell me.” ucap Tala lagi, ujung telunjuknya bergerak lambat menyusuri dada Geza.Geza segera mencekal jemari itu. “Kamu mabuk, Tala.”“Nggak, aku masih cukup sadar buat bisa lawan semua fans kamu yang buas itu.” sanggah Tala.“Kenapa? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Geza.“Nggak secara langsung.”“Sorry Ta, ada beberapa hal yang harus saya urus di sini. Jadi sering ninggalin kamu.” sesal Geza.Tala terkekeh. “GM residential development….”“... pasti sesibuk itu sih,” lanjut Tala, nadanya mengayun ringan.Efek segelas setengah wine tadi mulai bekerja, membuat tubuhnya terasa seringan kapas, sekaligus menyulut lebih banyak keberanian. Aroma bergamot yang maskulin dan familier dari jas Geza yang tersampir di bahunya perlahan menguar, mengepung indra penciuman. Aroma itu egois, persis seperti pemiliknya, mengklaim Tala di tengah dinginnya angin malam.Di bawah lampu balkon, tatapannya yang agak sayu menyisir garis rahang kokoh Geza.“Jadi,” Tala memulai lagi, menatap Geza tanpa berkedip,

  • Sebelum Tiga Tahun   51- Pengakuan Dosa

    Suara sumbang itu sukses membuat Tala kesal."Selingkuh? Nggak mungkin ah. Pak Geza nggak kelihatan kayak cowok yang begitu. Kerjaannya aja udah segunung.”Bukan peselingkuh? Komentar itu justru sedikit menggelitik Tala, mengingat beberapa fakta masa lalu yang ia ketahui."Tapi gue tetap nggak rela aja. Yang diucapin terima kasih malah cewek lain, padahal Mbak Kinan yang nemenin semua prosesnya."Realistis. Tapi yang membuat Tala semakin kesal adalah kenyataan bahwa Geza sengaja menyeretnya ke bawah sorotan yang bukan miliknya."Iya sih, gue kalau jadi Mbak Kinan nangis parah. Eh tapi sis, kalau nggak selingkuh nggak mungkin dong tiba-tiba nikah gitu aja."Tala mengenali bahwa suara-suara ini berbeda dari para penggosip yang ia dengar kemarin sore.Astaga. Ternyata jumlah hatersnya lebih banyak dari yang ia kira. Harusnya Tala keluar saja daripada menguping omongan sampah macam itu.Harusnya.Tapi tubuhnya bicara lain. Ia malah tetap berdiri di depan wastafel, berpura-pura merapikan r

  • Sebelum Tiga Tahun   50- Pusat Perhatian

    Tala baru saja menyapukan blush on di pipi saat pesan dari Rena masuk.Pakai lipstik merah, Mbak. Pasti cantik. Tunjukin kalau Mbak nggak apple to apple sama mantan. Soalnya Mbak levelnya di atas.Tala hanya terkekeh membacanya.Dari obrolan sore tadi, Rena cuma bilang kalau Kinan pernah bekerja di Bhuwana sebelum akhirnya pindah ke luar negeri. Hanya itu. Tala juga tidak berniat mencari tahu lebih jauh. Toh itu bukan urusannya.Ini malam kedua retreat. Bhuwana menggelar dinner sekaligus malam apresiasi atas pencapaian Divisi Residential Development sepanjang tahun ini. Acara itu turut mengundang keluarga para karyawan dan jajaran manajemen, menjadikannya lebih dari sekadar makan malam biasa.Artinya Tala harus kembali tersenyum, berbasa-basi, menjadi istri Geza di depan publik dan jelas menghadapi lebih banyak tatapan penasaran serta bisik-bisik tentang dirinya dan pria itu. Malam saat welcoming BBQ kemarin tingkah Geza yang berlebihan sukses menjadi bahan bakar baru bagi para penggo

  • Sebelum Tiga Tahun   49- Golden Boy

    “Bisa ternyata ya, Ta. Nikah sama orang yang kamu benci. Dulu dimaki-maki sekarang malah satu rumah.”Kalimat itu diucapkan sambil tersenyum, tetapi Tala menangkap maksud lain di baliknya.“Begitulah, Mbak. Jodoh kan emang jorok,” balas Tala seringan mungkin.Ana—wanita usia pertengahan tiga puluh itu tertawa kecil. “Tapi udah gak dendam dong Ta.”“Kalau dendam, saya gak mungkin nikah sama mas Geza.” balas Tala.Semoga cukup sampai di situ.“Hebat sih, Ta. Kamu bisa nerima dia. Kalau saya jadi kamu, lihat mukanya aja nggak mau.”Tala tersenyum tipis.Sungguh provokatif sekali.Padahal setahunya, dulu Ana dan Geza sama-sama berdiri di sisi yang sama—saling melindungi. Namun kenapa saat diungkit sekarang kesannya dosa yang Geza lakukan lebih besar?“Duluan ya.” Ana pamit, mengajak salah satu rekannya untuk bergabung dengan kelompok lain.Tala mengenal Ana empat tahun lalu, saat proyek kolaborasi antara Bhuwana dan firma tempatnya bekerja mempertemukan mereka. Dari proyek itu pula, ia ber

  • Sebelum Tiga Tahun   48- Aroma Bergamot

    “Ta, kata Geza minggu depan ada gathering Bhuwana di Ciawi ya? Kamu ikut kan?” tanya bude Sinta sambil menyesap teh.“Nggak bude.” Tala menjawab sambil menyusun lego Sansa membentuk sebuah menara sesuai permintaan anak itu yang kini sedang ke toilet bersama sus Lia.“Lah kenapa? Ikut aja Ta, biar Sansa sama bude di sini. Udah anteng ini anaknya.” bujuk bude Sinta.“Bude nggak jadi pulang minggu depan kok,” imbuhnya.“Bude masih betah?”“Iya nih, Ta. Di sana paling mentok cuma ngemong cucu. Di sini juga sama, tapi ya mending di sini lah. Bisa ketemu banyak saudara sama teman-teman lama Bude,” jelasnya sambil tersenyum.Anak tunggal Bude Sinta sudah lama menetap dan bekerja di Jepang. Sementara itu, aset-aset warisan keluarga yang menjadi haknya dikelola secara profesional sehingga ia tak perlu direpotkan urusan manajemen yang memusingkan. Di masa pensiunnya, Bude Sinta memilih menikmati hidup dengan santai.“Ya udah bude di sini aja.”Sejujurnya Tala senang mendengar hal itu, hanya saj

  • Sebelum Tiga Tahun   12- Mentor Otoriter

    Geza tidak langsung bergerak. Ia membiarkan jemarinya menangkup dagu Tala, menahan wajah itu agar tetap terkunci dalam pandangannya. Napas Geza yang hangat menyapu permukaan bibir Tala, meruntuhkan pertahanan wanita itu seketika.Mata Tala semakin terpejam rapat. Jantungnya berdegup liar, memukul ru

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status