Kepala itu masih bersandar di perut Tala. Seharusnya ia mendorong Geza menjauh, bukan?Namun tubuhnya justru membeku. Tak ada satu otot pun yang bergerak menolak.Perlahan, Geza memiringkan kepala. Kini telinga kirinya menempel pada perut Tala. Salah satu tangannya terulur, meraih jemari Tala yang masih kaku, lalu meletakkannya di atas rambutnya sendiri."Dan gini..." pelan-pelan, ia menuntun jemari Tala menyusuri rambutnya.Seperti orang bodoh, Tala menurut dengan usapan yang terasa canggung, nyaris kikuk. Aroma sampo yang masih melekat di rambut Geza menguar pelan, bercampur dengan wangi sabun yang begitu bersih dan akrab. Jarak yang terlalu dekat, aroma sesudah mandi dan Geza yang anteng adalah kombinasi paling mematikan bagi kewarasan Tala.”Lima menit aja Ta, saya lagi capek.” ujarnya.Tala merasakan jantungnya berdetak semakin tak beraturan.Ia harus mengakhiri ini. "Za... udah malem.""Iya."Namun alih-alih melepaskan pelukannya, Geza justru mengeratkannya sedikit."Tala...""H
閱讀更多