LOGINTala turun dari kamarnya untuk mengisi botol minum. Jam menunjukkan pukul dua belas malam saat ia memasuki area dapur dan mendapati Geza sedang sibuk di depan kompor. Dari ujung sofa, Tala hanya memperhatikan bagaimana pria itu bergerak kikuk, tampak kerepotan untuk membuat sebungkus mie instan dengan posisi ponsel menempel di telinga.Pria itu...Sejak malam mereka tidur bertiga di kamar Sansa, Geza hampir tak pernah pulang lebih awal. Selalu larut, lalu baru kembali terlihat saat sarapan keesokan paginya. Hari-hari berat yang sering ia sebutkan itu rupanya benar-benar menyita seluruh waktunya.Di satu sisi, Tala lega. Ia tak perlu lagi pusing menghadapi "hormon korsletnya" setiap kali Geza mendadak mencari sentuhan.Di sisi lain...Ia justru mulai merindukan perdebatan-perdebatan receh dengan pria itu. Sesederhana mempermasalahkan desain fasad yang menurut Geza terlalu cantik atau hitungan anggaran yang menurut Tala terlalu kaku.Enam belas bulan.Ternyata waktu sependek itu mampu m
Apa katanya?Mau dibantu nggak... bikinnya?Maksud pria itu apa, sih?Tala seharusnya tidak semalu ini. Toh itu hanya celetukan untuk menanggapi omongan polos anak tiga tahun.Masalahnya...Candaan itu terdengar terlalu menjurus. Lebih parah lagi, Sus Lia ada di sana. Orang yang pernah memergoki mereka nyaris berciuman di dapur. Orang yang pernah mendapati mereka saling adu mulut—dalam arti yang sesungguhnya—di kantor. Dan mungkin juga memergoki mereka saling cumbu di sofa abu. Untuk yang terakhir ini, Tala benar-benar berharap jangan sampai.Makin dipikir, rasanya mereka memang seperti pasangan yang sulit menjaga diri."Tidak, terima kasih, Om Eja. Silakan kamu mandi aja. Bau," balas Tala tegas dengan nada sarkastis."Yaya, ayo sikat gigi." Tala mengulurkan tangan hendak menggendong bocah itu."Oh... jadi harus mandi dulu ya kalau mau bantu?" ujar Geza dengan intonasi datar yang justru terdengar makin menyebalkan.Astaga. Masih saja.Tala menoleh. Senyum tengil pria itu terpampang je
Sansa, si bocah tiga tahun itu, termasuk anak yang anteng dan menggemaskan. Tala nyaris tak pernah melihatnya tantrum atau mengacak-acak isi rumah seperti kebanyakan balita. Masa tersulit mengasuh Sansa hanyalah saat bocah itu baru mengalami kecelakaan sekaligus kehilangan kedua orang tuanya. Selebihnya, semakin besar usianya, semakin banyak hal yang membuat Tala takjub.Hanya saja, bertambahnya kemampuan Sansa juga berarti bertambah liar pula ide-ide di kepalanya.Dan di situlah Tala sering dibuat kewalahan.Bayangkan saja. Perempuan yang bahkan belum pernah menikah atau memiliki anak itu, mendadak harus menghadapi logika seorang bocah tiga tahun yang tak pernah kehabisan akal.Rasanya sungguh nano-nano menjadi orang tua pengganti.Padahal Tala termasuk orang yang sabar dan sangat menyukai anak kecil. Namun menghadapi imajinasi Sansa yang seolah tak berbatas, ia tetap saja sering angkat tangan.Mulai dari merengek agar Tala dan Geza memasak bersamanya, memaksa mereka ikut bermain pet
Dari balik dinding kaca area tunggu, pandangan Tala tidak lepas dari sosok Sansa yang tampak menggemaskan dengan baju renang bermotif bunga matahari. Ini adalah trial class pertama anak itu, dan karena ini pengalaman pertamanya masuk ke kolam dalam, Geza sengaja ikut menceburkan diri untuk menemani dan menenangkan Sansa di dalam air.”Jadi amunisi dari gue udah dipake belum?” tanya Amika setengah berbisik, nadanya terdengar penuh selidik sekaligus menggoda.Amika si cerewet itu memang sengaja mengekori Tala ke kolam renang sore ini. Kakinya sudah pulih dan karena tidak punya agenda apa pun di akhir pekan, jadilah ia hadir di sana hanya untuk merecoki dan menggoda Tala.Tala sontak menoleh tajam, beruntung mereka duduk terpisah jauh dari para orang tua yang lain.“Heh, itu ngaco banget tahu! Ngirim barang laknat gitu terang-terangan banget. Gue gak butuh,” balas Tala ketus dengan suara tertahan.”Belum butuh kali. Gue tuh sedia payung sebelum hujan,” sergah Amika cepat, tak mau kalah.
"Om, lo tuh mesum banget sih! Bisa gak sih jangan kayak gitu di tempat umum?" protes Hanum berapi-api begitu mereka semua sudah duduk mengitari meja panjang di restoran dekat kantor. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa syok pasca-menonton pertunjukan gratis tadi.Sama syoknya dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu—Sania, Hanum, Adrian, Jia, Sus Lia, dan tentu saja Sansa.Lengkap.Kurang security saja, pikir Tala miris."Salah?" tanya Geza cuek. Pria itu dengan santai menuangkan air putih ke gelas Tala, sama sekali tidak terlihat terganggu atau malu."Kan istri sendiri.""Itu kantor, Hei! Kantor!" sahut Hanum lagi, gregetan dengan ekspresi lempeng Geza. "Untung Sansa gak lihat.”Terimakasih sus Lia yang sangat bisa gerak cepat di situasi darurat."Itu ruangan istri saya. Kalian harusnya ketuk dulu kalau mau masuk," balas Geza tak mau kalah.Sania yang duduk di ujung meja ikut menyahut pelan sambil meringis. "Udah kali, Pak. Saya udah ketuk tiga kali, tapi bapaknya aja yang ke
Geza melangkah maju, lalu dengan santai duduk di kursi tepat di depan meja kerja Tala. Tangannya terulur, ikut membuka dan membalik map yang tengah Tala cek sejak tadi."Ada yang urgent banget sampai harus dikerjain weekend gini?" tanya Geza, matanya beralih menatap Tala dengan intensitas yang sama seperti subuh tadi.Tala menelan ludah pelan.Yang urgent itu sebenarnya jarak kita sekarang, Geza, jerit Tala dalam hati."Buat persiapan bidding Senin besok, biar gak ada kendala.” jawab Tala seformal mungkin, mencoba membentengi diri.Padahal kendala yang sebenarnya sudah muncul sejak dini hari tadi.Dan nama kendala itu...Geza Ragendra."Kamu... tahu dari mana aku lembur di sini?"Geza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengulas senyum miring yang teramat tipis. "Sania report ke saya."Ah, sial. Tala memejamkan matanya sesaat, merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa satu fakta penting; sekoperatif apa pun Sania padanya sekarang, gadis itu tetaplah salah satu "antek-antek"
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







