Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 69- Impian Tala

Share

69- Impian Tala

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-07-03 16:19:33

Ujian sekamar dengan Geza masih belum selesai. Ini adalah hari ketiga sekaligus malam terakhir Hanum menginap di rumah mereka. Selama tiga hari ini, Tala sudah cukup tersiksa menghadapi kombinasi mematikan dari seorang Geza. Geza yang anteng, Geza yang bertingkah menggemaskan, Geza yang baru selesai mandi dengan aroma segar yang menguar dalam jarak dekat. Dan malam ini, pria itu punya tambahan pesona baru yang jauh lebih berbahaya—Geza yang terlihat rapuh dan kesepian.

Malam ini, mereka duduk b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
sabar yak, nikahnya baru setahun musuhannya udah 6 tahun jadi jadiii ya...adu mulut terooos sampe kebablasan ...
goodnovel comment avatar
Teteng Yeni
Mereka yg gak Nemu Nemu ujungnya mau kemana.......aku yg baca ikut pusing ....capek....kayak g ada jalan aja ...gitu gitu aja....gak ada kelanjutan.....cape' Thor.....
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
kenapa hubungan kalian gitu2 aja sih..gak ada kemajuan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   175- Koleksi Jahanam

    Geza terdiam sesaat. Tatapannya turun ke bibir Tala, lalu ia mencuri satu kecupan di sana.“Mas..””Masih mau bahas Adrian?” Geza menyasar bibir Tala lagi. Menyesapnya lebih dalam.”Mood saya tiba-tiba jelek.” gumamnya saat sesapan itu berhenti.“Kamu mesti kasih saya kompensasi.” Geza mengeratkan lingkupan tangannya yang masih bertaut di pinggang Tala.Di bawah sana, Tala bisa merasakan inti tubuh Geza sudah menegang sempurna menubruk tubuhnya. Seketika, sensasi berdenyut merambat di sepanjang aliran darahnya. Berada di pangkuan Geza, dikecup, dan beradu tatap sedekat ini jelas membuat naluri biologisnya sulit diajak berkompromi.“Kompensasinya pijit, ya,” kata Tala, berusaha tetap santai.Geza menggeleng, hanya saja jemarinya sudah menyasar punggung Tala melepas kaitan bra yang membalut tubuh atas perempuan itu sejak tadi. Tak berhenti di sana, ia meraih puncak yang membuncah itu, yang basah terkena air. Mengusapnya lagi dan lagi, lalu tubuhnya turun sedikit agar bisa menyesapnya.T

  • Sebelum Tiga Tahun   174- Tahu dari Mana?

    “Buka bajunya. Mau mandi, kan?”Pria itu sudah lebih dulu bertelanjang dada dan masuk ke dalam bath tub, seolah tidak ada yang aneh dengan situasi mereka. Harusnya memang tidak aneh, bukan? Dengan status mereka sekarang.“Mau saya bantu bukain?”“Udah, ah. Kamu duluan aja. Ganti-gantian,” balas Tala.“Kayak nggak pernah saling telanjangin aja.”Tala mendelik.Ia sendiri masih mematung di dekat pintu, sibuk mengamati seisi kamar mandi yang mendadak terasa asing.Asing karena kini ada seorang pria berendam di sana dengan tatapan yang membuat Tala merasa ia bisa diterkam kapan saja.Kamar mandi vila itu tidak terlalu luas, tapi dirancang begitu pas untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Nuansanya tetap sederhana khas vila tropis—kayu, batu alam, dan dinding putih berpadu tanpa banyak ornamen.Salah satu sisinya memiliki bukaan lebar yang membiarkan udara laut masuk bersama suara ombak yang samar. Dari sana, gelapnya laut malam terlihat di balik kaca, membuat ruangan kecil itu terasa j

  • Sebelum Tiga Tahun   173- Cincin Pinjaman

    Tala masih memutar cincin baru pemberian Geza. Kali ini, cincin itu benar-benar dipesan khusus untuknya—bukan cincin lungsuran yang dulu disiapkan Geza untuk pernikahannya dengan Kinan, lalu berakhir di jari Tala saat mereka nikah kontrak.Ah, menyebalkan sekali kalau mengingat bagian itu.Satu hal yang harus diakui Tala, Geza masih piawai menebak ukuran cincin. Ukurannya benar-benar pas. Desainnya pun sesuai selera Tala—tak jauh berbeda dari cincin milik Kinan yang pernah ia kenakan, tapi kali ini jauh lebih ringkas dengan detail yang lebih elegan. Tala suka ini. Sangat.Sebuah lengan tiba-tiba melingkar dari belakang, memeluknya santai sementara satu tangan lainnya menggenggam sebotol wine.Tala mendongak dari kursi santainya di teras vila. Di hadapannya, laut malam terbentang tenang di bawah langit gelap yang masih dihiasi bintang. Ia bahkan belum mandi atau berganti pakaian. Gaun yang dikenakannya saat dinner masih melekat di tubuhnya.“Wine?” tawar Geza.Tala menoleh sedikit, lal

  • Sebelum Tiga Tahun   172- Ada yang Ketinggalan

    “Mas, apaan sih?”Terus terang, Tala masih terpaku pada kelakuan Geza barusan. Matanya bahkan masih tertuju pada laut gelap tempat cincin itu menghilang.Betulan pria ini sedang mengerjainya?Geza masih diam. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar cincin pernikahan ke tengah laut.“Mas!” Tala mulai kesal. “Itu cincin nikah!”“Saya tahu.”“Terus kenapa dibuang?! Maksud kamu apa, sih?”Nada Tala mulai berubah. Ada curiga yang perlahan menyusup di balik kebingungannya.Jangan-jangan benar dugaannya tadi. Jangan-jangan semua yang Geza katakan sepanjang malam ini hanya permainan untuk membalas penolakannya.Geza mengusap punggung tangannya pelan.“Dua tahun lalu saya pernah minta kamu jadi istri saya karena kepentingan. Menjebak kamu lebih tepatnya.” aku Geza pelan.Ia berhenti sejenak, membiarkan Tala mencerna pengakuan itu.“Sekarang saya mau minta sekali lagi.”Jantung Tala berdegup semakin cepat.Lalu Geza berlutut.Begitu saja.Tanpa aba-aba, tanpa satu pun kat

  • Sebelum Tiga Tahun   171- Prank Murahan

    “Kalau lihat ke arah sana, itu Orion,” salah satu staf menunjuk ke langit. “Tiga bintang yang berjajar itu bagian dari Orion’s Belt.”Sebuah teleskop sudah disiapkan di atas tripod, diarahkan ke langit malam.Tala mendongak mengikuti arah yang ditunjukkan.Malam itu, sesi stargazing digelar di ujung jetty yang menjorok ke laut. Lampu-lampu di sepanjang dermaga diredupkan agar tidak mengganggu pandangan, menyisakan penerangan seperlunya untuk langkah kaki. Di hadapan mereka, laut membentang gelap tanpa banyak cahaya di kejauhan.“Kalau yang terang itu?”“Sirius. Salah satu bintang paling terang yang bisa kita lihat dari Bumi.”Tala mengangguk-angguk antusias. Sesekali ia berpindah posisi untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, rambutnya yang terurai ikut diterpa angin laut.Staf tersebut kemudian mengajak mereka bergantian melihat melalui teleskop. Beberapa objek langit yang sebelumnya hanya tampak sebagai titik kecil terlihat jauh lebih jelas melalui lensa.Tala bahkan beberap

  • Sebelum Tiga Tahun   170- Selama Mungkin, Seumur Hidup

    Jabatan tangan itu hanya berlangsung sebentar. Detik berikutnya, Geza membalik tangan Tala, menariknya perlahan menuju bibir, lalu mengecup punggung tangannya lama. Tatapannya terangkat pada Tala, menyimpan binar yang sukses membuat jantung perempuan itu bertalu-talu.Pria yang selama ini sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar tipenya ternyata justru mampu membuatnya jatuh sejauh ini.Tala selalu terbiasa menurunkan ekspektasi, membangun tembok denial, menyisakan kemungkinan terburuk sebagai bentuk perlindungan diri. Barangkali perasaannya akan berakhir sama seperti dulu dengan Adrian—hanya menjadi miliknya sendiri, tanpa pernah benar-benar sampai kepada orang yang ia cintai. Sebab jatuh lebih dulu selalu terasa seperti mengambil risiko paling besar.Namun kali ini berbeda. Perasaannya disambut. Dan yang paling membuatnya takut sekaligus bahagia, pria yang menyambutnya adalah Geza.Geza menurunkan tangan Tala, tetapi belum juga melepaskannya. Ia justru meraih satu tangan lainnya,

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun   2- Warisan Rumit

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status