Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 70- Mimpi Buruk

Share

70- Mimpi Buruk

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-07-03 17:31:07

Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.

Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.

Ia mengenali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
yakin nih takluk? ...
goodnovel comment avatar
evi erfika
Semoga hubungan mrk tdk jalan di tempat, jls2 geza sdh takluk ehh si tala msh bgtu2 ajaaaa, bucinnya kpn hehehe
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
lanjut thorr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   175- Koleksi Jahanam

    Geza terdiam sesaat. Tatapannya turun ke bibir Tala, lalu ia mencuri satu kecupan di sana.“Mas..””Masih mau bahas Adrian?” Geza menyasar bibir Tala lagi. Menyesapnya lebih dalam.”Mood saya tiba-tiba jelek.” gumamnya saat sesapan itu berhenti.“Kamu mesti kasih saya kompensasi.” Geza mengeratkan lingkupan tangannya yang masih bertaut di pinggang Tala.Di bawah sana, Tala bisa merasakan inti tubuh Geza sudah menegang sempurna menubruk tubuhnya. Seketika, sensasi berdenyut merambat di sepanjang aliran darahnya. Berada di pangkuan Geza, dikecup, dan beradu tatap sedekat ini jelas membuat naluri biologisnya sulit diajak berkompromi.“Kompensasinya pijit, ya,” kata Tala, berusaha tetap santai.Geza menggeleng, hanya saja jemarinya sudah menyasar punggung Tala melepas kaitan bra yang membalut tubuh atas perempuan itu sejak tadi. Tak berhenti di sana, ia meraih puncak yang membuncah itu, yang basah terkena air. Mengusapnya lagi dan lagi, lalu tubuhnya turun sedikit agar bisa menyesapnya.T

  • Sebelum Tiga Tahun   174- Tahu dari Mana?

    “Buka bajunya. Mau mandi, kan?”Pria itu sudah lebih dulu bertelanjang dada dan masuk ke dalam bath tub, seolah tidak ada yang aneh dengan situasi mereka. Harusnya memang tidak aneh, bukan? Dengan status mereka sekarang.“Mau saya bantu bukain?”“Udah, ah. Kamu duluan aja. Ganti-gantian,” balas Tala.“Kayak nggak pernah saling telanjangin aja.”Tala mendelik.Ia sendiri masih mematung di dekat pintu, sibuk mengamati seisi kamar mandi yang mendadak terasa asing.Asing karena kini ada seorang pria berendam di sana dengan tatapan yang membuat Tala merasa ia bisa diterkam kapan saja.Kamar mandi vila itu tidak terlalu luas, tapi dirancang begitu pas untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Nuansanya tetap sederhana khas vila tropis—kayu, batu alam, dan dinding putih berpadu tanpa banyak ornamen.Salah satu sisinya memiliki bukaan lebar yang membiarkan udara laut masuk bersama suara ombak yang samar. Dari sana, gelapnya laut malam terlihat di balik kaca, membuat ruangan kecil itu terasa j

  • Sebelum Tiga Tahun   173- Cincin Pinjaman

    Tala masih memutar cincin baru pemberian Geza. Kali ini, cincin itu benar-benar dipesan khusus untuknya—bukan cincin lungsuran yang dulu disiapkan Geza untuk pernikahannya dengan Kinan, lalu berakhir di jari Tala saat mereka nikah kontrak.Ah, menyebalkan sekali kalau mengingat bagian itu.Satu hal yang harus diakui Tala, Geza masih piawai menebak ukuran cincin. Ukurannya benar-benar pas. Desainnya pun sesuai selera Tala—tak jauh berbeda dari cincin milik Kinan yang pernah ia kenakan, tapi kali ini jauh lebih ringkas dengan detail yang lebih elegan. Tala suka ini. Sangat.Sebuah lengan tiba-tiba melingkar dari belakang, memeluknya santai sementara satu tangan lainnya menggenggam sebotol wine.Tala mendongak dari kursi santainya di teras vila. Di hadapannya, laut malam terbentang tenang di bawah langit gelap yang masih dihiasi bintang. Ia bahkan belum mandi atau berganti pakaian. Gaun yang dikenakannya saat dinner masih melekat di tubuhnya.“Wine?” tawar Geza.Tala menoleh sedikit, lal

  • Sebelum Tiga Tahun   172- Ada yang Ketinggalan

    “Mas, apaan sih?”Terus terang, Tala masih terpaku pada kelakuan Geza barusan. Matanya bahkan masih tertuju pada laut gelap tempat cincin itu menghilang.Betulan pria ini sedang mengerjainya?Geza masih diam. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar cincin pernikahan ke tengah laut.“Mas!” Tala mulai kesal. “Itu cincin nikah!”“Saya tahu.”“Terus kenapa dibuang?! Maksud kamu apa, sih?”Nada Tala mulai berubah. Ada curiga yang perlahan menyusup di balik kebingungannya.Jangan-jangan benar dugaannya tadi. Jangan-jangan semua yang Geza katakan sepanjang malam ini hanya permainan untuk membalas penolakannya.Geza mengusap punggung tangannya pelan.“Dua tahun lalu saya pernah minta kamu jadi istri saya karena kepentingan. Menjebak kamu lebih tepatnya.” aku Geza pelan.Ia berhenti sejenak, membiarkan Tala mencerna pengakuan itu.“Sekarang saya mau minta sekali lagi.”Jantung Tala berdegup semakin cepat.Lalu Geza berlutut.Begitu saja.Tanpa aba-aba, tanpa satu pun kat

  • Sebelum Tiga Tahun   171- Prank Murahan

    “Kalau lihat ke arah sana, itu Orion,” salah satu staf menunjuk ke langit. “Tiga bintang yang berjajar itu bagian dari Orion’s Belt.”Sebuah teleskop sudah disiapkan di atas tripod, diarahkan ke langit malam.Tala mendongak mengikuti arah yang ditunjukkan.Malam itu, sesi stargazing digelar di ujung jetty yang menjorok ke laut. Lampu-lampu di sepanjang dermaga diredupkan agar tidak mengganggu pandangan, menyisakan penerangan seperlunya untuk langkah kaki. Di hadapan mereka, laut membentang gelap tanpa banyak cahaya di kejauhan.“Kalau yang terang itu?”“Sirius. Salah satu bintang paling terang yang bisa kita lihat dari Bumi.”Tala mengangguk-angguk antusias. Sesekali ia berpindah posisi untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, rambutnya yang terurai ikut diterpa angin laut.Staf tersebut kemudian mengajak mereka bergantian melihat melalui teleskop. Beberapa objek langit yang sebelumnya hanya tampak sebagai titik kecil terlihat jauh lebih jelas melalui lensa.Tala bahkan beberap

  • Sebelum Tiga Tahun   170- Selama Mungkin, Seumur Hidup

    Jabatan tangan itu hanya berlangsung sebentar. Detik berikutnya, Geza membalik tangan Tala, menariknya perlahan menuju bibir, lalu mengecup punggung tangannya lama. Tatapannya terangkat pada Tala, menyimpan binar yang sukses membuat jantung perempuan itu bertalu-talu.Pria yang selama ini sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar tipenya ternyata justru mampu membuatnya jatuh sejauh ini.Tala selalu terbiasa menurunkan ekspektasi, membangun tembok denial, menyisakan kemungkinan terburuk sebagai bentuk perlindungan diri. Barangkali perasaannya akan berakhir sama seperti dulu dengan Adrian—hanya menjadi miliknya sendiri, tanpa pernah benar-benar sampai kepada orang yang ia cintai. Sebab jatuh lebih dulu selalu terasa seperti mengambil risiko paling besar.Namun kali ini berbeda. Perasaannya disambut. Dan yang paling membuatnya takut sekaligus bahagia, pria yang menyambutnya adalah Geza.Geza menurunkan tangan Tala, tetapi belum juga melepaskannya. Ia justru meraih satu tangan lainnya,

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status