Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 70- Mimpi Buruk

Share

70- Mimpi Buruk

Author: Sora Carita
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-03 17:31:07

Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.

Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.

Ia mengenali
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
yakin nih takluk? ...
goodnovel comment avatar
evi erfika
Semoga hubungan mrk tdk jalan di tempat, jls2 geza sdh takluk ehh si tala msh bgtu2 ajaaaa, bucinnya kpn hehehe
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
lanjut thorr
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sebelum Tiga Tahun   265- Belum Waktunya

    Dokter yang memeriksa Tala kembali memperhatikan hasil pemeriksaan pada layar monitor—dokter kandungan yang sama saat Tala sempat mengira dirinya hamil tempo hari.Setelah memastikan beberapa hal dari hasil pemeriksaan tersebut, ia tersenyum tipis.“Sejauh ini kondisi rahim dan organ reproduksi kamu baik, Tala. Nggak ada kelainan yang perlu dikhawatirkan.”Tala yang sejak tadi duduk di samping Geza akhirnya mengembuskan napas lega. Sore ini mereka kembali menemui dokter kandungan untuk mengecek kondisi rahim Tala. Setelah badai kemarin dan hubungan mereka lebih baik juga lebih kuat Tala ingin menyeriusi untuk punya anak. Umurnya kini menjelang tiga puluh dua, usia yang sangat pas untuk jadi ibu. Di usia ini Jani bahkan sudah punya Sansa.“Berarti semuanya normal, Dok?” Geza memastikan.“Untuk hasil pemeriksaan hari ini, iya. Tapi ada satu hal yang perlu kamu perhatikan, Tala.” Dokter mengalihkan pandangannya kepada perempuan itu. “Kamu belakangan ini sering merasa kelelahan atau sulit

  • Sebelum Tiga Tahun   264- Begini Sudah Cukup

    Menjatuhkan Wardoyo dan ayahnya, katanya?Seketika, Tala meremang. Bukan apa-apa, Bhuwana merupakan konglomerasi besar dengan jaringan bisnis yang membentang di berbagai sektor. Wardoyo sendiri menduduki posisi wakil direktur dengan kepemilikan saham dan pengaruh yang tidak kecil di dalamnya. Belum lagi Dharma, perusahaannya memang belum sebesar Bhuwana, tetapi memiliki jaringan dan pengaruh bisnis yang cukup luas.Menjatuhkan mereka jelas bukan perkara mudah.“Kamu mau melawan mereka?” tanya Tala, menatap suaminya lekat-lekat.“Ya,” jawab Geza tanpa ragu.Tala menggigit bibir. Ada kegelisahan yang mulai muncul saat memikirkan keputusan suaminya.“Kamu yakin? Secara kondisi, mereka lebih senior, kan? Dan secara posisi, kuasanya jauh lebih besar,” ujarnya.“Memang. Tapi saya nggak bisa lepas gitu aja sebelum Wardoyo jatuh. Akan ada banyak hal yang bisa dia gunakan untuk mengikat saya di Bhuwana dan dia akan ganggu saya terus saat udah resmi keluar. Dia ini lebih merepotkan dibanding Pa

  • Sebelum Tiga Tahun   263- Masih Konsolidasi

    Geza mengembus napas berat sekali saat akan melanjutkan. “Awalnya, semuanya berjalan normal. Wardoyo menjalankan perannya sebagai mentor yang baik. Meskipun pada dasarnya dia adalah kolega Papa, dia justru lebih banyak berdiri di pihak saya. Dia tahu seberapa besar kebencian saya terhadap Papa. Terlebih lagi, dia tahu saya dan Kinan menjalin hubungan.” Geza berdeham sesaat. Ada sedikit kecanggungan ketika ia menyebut hubungan masa lalunya dengan Kinan. “Tapi, seiring waktu, saya paham kalau tujuan Wardoyo mengajari saya tak lain agar dia punya tangan kanan yang bisa dimanfaatkan untuk membantunya berkuasa di Bhuwana, perusahaan yang notabene milik kakak sepupunya sendiri. Dia butuh saya untuk membereskan semua kekurangan anak sulungnya yang nggak kompeten.” Tala terdiam mendengarkan penjelasan itu. Setelah beberapa saat, barulah ia menyela. “Terus, kenapa kamu nggak langsung keluar?” tanyanya. “Karena saya nggak mau keluar begitu aja setelah dimanfaatkan seperti itu. Saya menggun

  • Sebelum Tiga Tahun   262- Konsolidasi Rumah Tangga

    “Jadi, aku harap kamu bisa jujur soal semuanya ke aku. Kalau Kinan aja bisa begitu paham isi kepala kamu, mestinya aku juga bisa. Aku ini istri kamu,” ujar Tala. Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi kecemburuan di balik kalimat itu begitu kentara. Geza menoleh, sedikit geli. “Kamu masih cemburu sama dia? Padahal kemarin kamu baru aja tahu kalau saya udah cinta kamu sejak lama.” “Oh, jelas. Katanya dia paham banget cara kamu berpikir,” balas Tala tanpa ragu. Geza mendengkus. “Sesuai dugaan. Dia bilang apa aja ke kamu?” Tala langsung mendelik. “Kamu bisa sepaham itu juga sama cara pikir Kinan?” Geza merangkul bahu Tala, mendekatkannya sedikit. “Bukan gitu. Cuma kayaknya nggak mungkin kamu tiba-tiba cari tahu ke vendor soal rencana pernikahan kalau Kinan nggak cerita macam-macam.” “Dia cerita semua hal tentang kalian di masa lalu dan ... dia juga bilang kalau dia udah merasa kalah sejak dulu,” ucap Tala. Geza menoleh kepadanya. “Setelah dengar semua cerita dia dan tahu soal ren

  • Sebelum Tiga Tahun   261- Berhasil Mempengaruhi

    Seminggu sudah berlalu sejak obrolan malam itu di taman belakang. Tala memang kembali bersikap wajar kepada Geza, tetapi tetap ada batas yang ia pertahankan. Saat berada di kamar bersama, Tala masih terlihat canggung, sementara Geza berusaha bersikap normal. Hanya saja, pria itu kini jauh lebih menjaga diri. Ia tidak lagi asal memeluk atau menyentuh Tala seperti biasanya. Selama seminggu terakhir, selain sempat berbincang dengan Bastian dan Amika tempo hari, Tala juga beberapa kali mencurahkan isi pikirannya kepada Jia saat sesi pilates. Tentu saja, ia tidak menceritakan masalahnya secara gamblang. Namun, Jia sempat memberikan pandangan bahwa apa pun dalam rumah tangga seharusnya masih bisa dibicarakan dan diperbaiki, selama bukan KDRT atau perselingkuhan. Tala setuju dengan prinsip itu. Mungkin memang sudah waktunya ia bicara baik-baik dengan Geza. Membahas semua hal yang masih mengganjal dan meminta pria itu membuka semua sisi dirinya, termasuk hal-hal yang selama ini disembunyik

  • Sebelum Tiga Tahun   260- Promotor Handal

    Berbicara dengan Bastian soal masalahnya dengan Geza justru membuat kepala Tala semakin penuh. Bagaimanapun, Bastian selalu berada di pihak Geza. Dan setelah mendengar berbagai penjelasannya sejak tadi, Tala mulai merasa sedikit terpengaruh. “Tuh, kan, Mas. Ke sini buat jadi promotor Geza lagi,” sindir Tala. “Eh, nggak. Ini murni POV saya sebagai sahabat, pengacara pribadi, sekaligus rekan bisnis yang selalu direpotin sama dia.” Bastian mengangkat kedua tangan. “Lagipula, saya ke sini mau pacaran. Kebetulan aja ada kamu di sini.” Tala hanya mengibaskan tangan, tak terlalu percaya dengan alasannya. “Tapi kamu tuh memang dukung Geza banget, tahu, Yang. Mihak banget. Kayaknya apa pun yang Geza omongin, kamu tuh setuju aja,” komentar Amika sambil menoleh kepada kekasihnya itu. “Eh, nggak juga. Waktu Geza pertama kali bilang punya ide nikah kontrak, aku justru nolak, Mik. Udah aku ingetin juga. Serius.” Bastian menggeleng. “Aku malahan nyuruh dia buat pedekate yang bener. Sayangnya tu

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status