Hembusan angin fajar yang menelusup dari atap gubuk reyot itu terasa seperti pisau es yang menyayat kulit. Namun, bagi Thomas, rasa dingin itu sama sekali tak sebanding dengan kebekuan yang kini merantai detak jantungnya.Sang Penasehat Hukum Utama, pria berekor sembilan yang terkenal dengan kelicikan dan kemampuannya memanipulasi setiap kata dan situasi di Pengadilan Tinggi Kerajaan Moon, kini berlutut tak berdaya. Wajah tampannya yang biasa dihiasi senyum meremehkan kini pucat pasi, dipenuhi oleh garis-garis keputusasaan yang teramat dalam.Di hadapannya, Liliyana berdiri tegak dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya. Sembilan ekor perak gadis remaja itu berayun pelan, memancarkan aura penolakan absolut yang tak bisa ditembus oleh sihir ilusi mana pun."Lili ... kumohon, dengarkan aku," bujuk Thomas dengan suara parau yang bergetar. Ia mendongak, menatap adiknya dengan sorot mata memohon yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun
Read more