ANMELDENAncaman yang meluncur dari bibir Pangeran Alexander menggetarkan udara pagi yang dingin. Hawa membunuh dari tiga panglima perang terkuat di Benua Moon itu menyatu, menciptakan tekanan gravitasi yang luar biasa mencekik di sekitar sisa-sisa gubuk reyot tersebut.Di bawah tatapan mematikan itu, Liliyana mencengkeram erat jubah sutra perak kakaknya. Tubuh gadis remaja itu gemetar hebat, namun bukan semata-mata karena ketakutan.Di balik rasa ngerinya menghadapi tiga predator puncak, kebencian purba yang mengakar di dalam jiwanya terhadap Elloist kembali meronta beringas saat melihat pria-pria hebat ini rela membunuh demi wanita iblis tersebut.Marcus, yang tak lagi memiliki sisa kesabaran, mengambil satu langkah lebar ke depan. Sang Jenderal Leopard merendahkan tubuhnya, cakar zamrudnya menancap dalam ke tanah berlumpur. Urat-urat hijau di leher dan lengannya menonjol mengerikan, memancarkan amarah seorang suami yang nyaris kehilangan belahan jiwany
Hembusan angin fajar yang menembus celah-celah gubuk reyot itu terasa membekukan tulang. Namun, hawa dingin itu sama sekali tak sebanding dengan sorot mata Liliyana.Gadis remaja bersuku rubah itu menatap punggung tangan Thomas yang terulur gemetar ke arahnya, lalu menatap wajah kakaknya dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan absolut.Sang Penasehat Hukum Utama yang selalu memiliki ribuan rencana di dalam kepalanya, kini hanya bisa berdiri mematung. Wajah tampan Thomas sepucat kertas.Bibirnya terbuka, namun tak ada satupun kata yang keluar. Ego, keserakahan, dan cinta yang saling bertabrakan di dalam dadanya telah melumpuhkan pita suaranya.Melihat kakaknya hanya terdiam kaku tanpa bisa memberikan jawaban pasti, sisa-sisa kesabaran di hati Liliyana menguap tak bersisa."Kau benar-benar menyedihkan, Kak Thomas," desis Liliyana, suaranya tajam bagai serpihan kaca.Gadis itu menepis tangan Thomas yang menggantung di udara
Hembusan angin fajar yang menelusup dari atap gubuk reyot itu terasa seperti pisau es yang menyayat kulit. Namun, bagi Thomas, rasa dingin itu sama sekali tak sebanding dengan kebekuan yang kini merantai detak jantungnya.Sang Penasehat Hukum Utama, pria berekor sembilan yang terkenal dengan kelicikan dan kemampuannya memanipulasi setiap kata dan situasi di Pengadilan Tinggi Kerajaan Moon, kini berlutut tak berdaya. Wajah tampannya yang biasa dihiasi senyum meremehkan kini pucat pasi, dipenuhi oleh garis-garis keputusasaan yang teramat dalam.Di hadapannya, Liliyana berdiri tegak dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya. Sembilan ekor perak gadis remaja itu berayun pelan, memancarkan aura penolakan absolut yang tak bisa ditembus oleh sihir ilusi mana pun."Lili ... kumohon, dengarkan aku," bujuk Thomas dengan suara parau yang bergetar. Ia mendongak, menatap adiknya dengan sorot mata memohon yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun
Cengkeraman tangan Thomas di kedua bahu Liliyana bergetar luar biasa hebat.Hawa dingin dari sisa-sisa atap gubuk yang hancur seolah tak mampu menandingi kebekuan yang kini menjalar di aliran darah Sang Penasehat Hukum Utama.Sepasang netra biru ilusi Thomas membelalak lebar, memancarkan teror, permohonan, dan keputusasaan yang merobek seluruh sisa kewarasannya.Di bawah tatapan kakaknya yang sehancur itu, sisa-sisa pertahanan ego Liliyana akhirnya runtuh.Gadis remaja itu selalu menganggap kakaknya sebagai sosok yang tak tersentuh, pilar baja yang tak akan pernah goyah oleh badai emosi apapun.Namun kini, pria di hadapannya itu nyaris kehilangan akal sehatnya hanya karena membayangkan kematian seorang wanita.Bukti itu terlalu telak untuk ditampik.Sang rubah penipu benar-benar telah menyerahkan hatinya secara mutlak kepada Sang Putri Mahkota.Melihat kengerian yang menyiksa mata kakaknya, bibir Liliyana berget
Sumpah yang dituntut oleh Liliyana menggantung di udara, menjelma menjadi belati tak kasatmata yang menempel tepat di urat nadi kesadaran Thomas.Di dalam gubuk kayu yang nyaris rubuh itu, hanya terdengar suara angin fajar yang berembus melalui celah-celah papan lapuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.Bersumpah demi roh ibunya yang telah tiada?Bersumpah demi penderitaan adik satu-satunya yang baru saja kembali dari neraka ketiadaan?Bagi Thomas, ingatan tentang sang ibu dan Liliyana adalah dua hal paling suci yang tersisa di dalam hatinya yang telah lama membusuk.Menggunakan nama mereka untuk sebuah kebohongan adalah sebuah dosa besar yang tak bisa dimaafkan.Namun, untuk mengucapkannya dengan jujur, untuk mengatakan bahwa ia sama sekali tidak peduli jika Elloist mati perlahan-lahan di dasar jurang sana, lidahnya seketika terasa kaku.Tenggorokan Sang Penasehat Hukum Utama itu seolah disumbat oleh bon
Suara mesin EKG dari dunia nyata yang berbunyi lambat dan monoton itu terus terngiang di telinga Elloist, beradu dengan dengungan milyaran jiwa Orb yang mencoba mencabik-cabik kewarasannya di dasar Jurang Dunia Hampa.Bayangan pria misterius yang menangis putus asa sambil menggenggam tangannya di ruang ICU yang dingin itu seolah menjadi jangkar terakhir yang menahan jiwanya agar tidak terseret arus kematian.Ada seseorang yang menunggunya pulang.Seseorang yang menolak melepaskannya.Di atas tahta obsidian yang sedingin es, kelopak mata Elloist yang sebelumnya nyaris tertutup rapat kini terbuka lebar.Pendaran pelangi di sudut matanya yang sempat meredup, tiba-tiba meledak dengan intensitas cahaya keemasan yang seribu kali lebih terang.Cahaya suci itu menyapu miasma ungu kehitaman yang mencekik lehernya, memaksa pasukan Orb mundur beberapa jengkal."Kau benar, Momo," bisik Elloist dengan suara serak, darah seg
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu t
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!







