MasukVonis mematikan yang dilontarkan Marcus menggantung di udara pagi, meninggalkan gema kepahitan yang menyayat hati.Sang Jenderal Leopard membalikkan badannya dengan napas memburu, meninggalkan tubuh Thomas yang terkapar tak berdaya di atas tanah berlumpur.Namun, melangkah menjauh dari sang rubah pengkhianat sama sekali tidak meredakan neraka yang tengah berkobar di dalam dada Marcus.Justru sebaliknya. Kesadaran bahwa mereka telah gagal, bahwa Liliyana telah lolos membawa satu-satunya kunci untuk menyelamatkan Elloist, menghantam akal sehatnya dengan kekuatan seribu badai."ARGGGHHH!"Raungan brutal yang dipenuhi keputusasaan absolut meledak dari tenggorokan Marcus.Sang Leopard Buas tidak bisa menahannya lagi.Rasa frustasi, ketidakberdayaan, dan ketakutan akan kehilangan wanita yang paling ia cintai mengubahnya menjadi mesin penghancur tanpa akal sehat.Marcus melesat ke arah rimbunnya pepohonan mati di
Tubuh jangkung Sang Penasehat Hukum Utama itu ambruk menghantam tanah dengan bunyi debuman yang teredam oleh lumpur.Jubah sutra peraknya yang koyak dan bersimbah darah kini ternoda oleh kotoran. Mata biru ilusinya terpejam rapat, napasnya berhembus lemah dan putus-putus.Thomas telah sepenuhnya kehilangan kesadaran, ditaklukkan oleh kombinasi luka fisik yang parah dan sihir tidur absolut dari Tabib Anand.Melihat penghalang terakhir mereka tumbang, Jenderal Marcus dan Pangeran Alexander melesat maju dengan kecepatan yang mengoyak udara fajar.Marcus tiba lebih dulu di sisi tubuh Thomas yang tak berdaya. Amarah yang sejak tadi mendidih di dalam darah Sang Leopard Buas kini meledak tanpa bisa dibendung lagi.Di mata Marcus, pria berekor sembilan yang terkapar di bawah kakinya ini bukanlah rekan sesama panglima, apalagi sesama suami dari wanita yang ia cintai.Thomas adalah pengkhianat. Seorang pengecut egois yang lebih m
Dentingan pedang obsidian yang menghantam tanah berlumpur masih menyisakan gema yang menyayat harga diri. Di bawah langit fajar yang semakin terang, udara di perbatasan lembah barat itu terasa luar biasa pekat, seolah seluruh oksigen telah tersedot ke dalam pusaran amarah dan keputusasaan.Pangeran Alexander berdiri kaku dengan kedua tangan kosong yang terkepal erat di sisi tubuhnya. Api naga di sekeliling kakinya memang telah padam, namun sepasang netra keemasannya menyala-nyala oleh murka absolut.Di sebelahnya, Jenderal Marcus memamerkan deretan giginya yang bergemeretak menahan emosi, napasnya memburu layaknya predator yang dipaksa mundur dari mangsanya."Kami sudah menjatuhkan senjata, Thomas!" raung Marcus, urat di lehernya nyaris pecah. "Sekarang lepaskan dia! Jika kau berani menggores urat nadinya satu milimeter saja, aku akan menguliti dagingmu hidup-hidup!"Thomas tertawa getir, darah segar kembali menetes dari sudut bibirnya,
Semburan api biru kehitaman yang dilepaskan Thomas melesat membelah udara pagi layaknya sembilan tombak naga yang mengamuk.Serangan putus asa itu menghantam punggung Pangeran Alexander yang tengah mengudara, memaksa Sang Jenderal Naga untuk membatalkan penerbangannya.Alexander memutar tubuhnya di udara, mengayunkan pedang obsidiannya untuk menangkis ledakan ilusi tersebut hingga ia terhempas kembali ke tanah dengan dentuman keras.Namun, harga yang harus dibayar Thomas untuk menghentikan Alexander teramat mahal.Karena memfokuskan seluruh energinya ke udara, Thomas membiarkan titik butanya terbuka lebar. Cakar zamrud Jenderal Marcus yang melesat dengan kecepatan suara menghantam dada dan bahu kiri Sang Penasehat Hukum Utama tanpa ampun.CRASSSHH!"UARGH!"Thomas menjerit tertahan saat tiga garis luka robek yang sangat dalam menganga di dadanya. Darah segar menyembur deras, mewarnai jubah sutra peraknya menjad
Ledakan demi ledakan mengguncang perbatasan lembah barat yang sunyi. Mengubah tanah berlumpur dan sisa-sisa puing gubuk reyot itu menjadi arena gladiator yang berlumuran darah.Sinar matahari pagi yang mencoba menyusup dari balik awan kelabu seakan enggan menjadi saksi atas pertumpahan darah antara dua panglima perang terkuat di Kerajaan Moon. Jenderal Marcus dan Sang Penasehat Hukum Utama Thomas, yang seharusnya berdiri bahu-membahu untuk menyelamatkan nyawa istri mereka. Kini, justru bertarung layaknya dua monster yang kehilangan akal sehat.TRANG! BAAM!Cakar zamrud Marcus berbenturan keras dengan tiga ekor rubah ilusi Thomas yang memadat seperti tombak baja. Percikan api biru dan kilatan energi hijau meledak ke udara, menciptakan gelombang kejut yang merontokkan dedaunan dari dahan pepohonan mati di sekeliling mereka.Marcus menerjang ke depan dengan kecepatan yang nyaris tak kasatmata. Sang Leopard Buas mengaum beringas, mengayunkan
Dinding perisai ilusi berwarna biru itu berdiri sekokoh pegunungan es, menghalangi satu-satunya akses menuju hutan belantara tempat Liliyana melarikan diri. Di balik perisai tersebut, Thomas berdiri dengan napas terengah-engah. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, menodai jubah sutra peraknya yang telah lama kehilangan keanggunannya.Di seberang perisai, kemurkaan Jenderal Marcus telah mencapai batas yang tidak lagi bisa diukur oleh akal sehat.Sang Leopard Buas menancapkan cakar zamrudnya ke tanah berlumpur, menciptakan parit kecil akibat tekanan aura mematikan yang meledak dari tubuhnya.Urat-urat hijau bermunculan di wajah dan leher Marcus, sementara sepasang netra zamrudnya menyala terang, memancarkan kebencian murni ke arah pria berekor sembilan di hadapannya."Singkirkan perisaimu, Thomas!" raung Marcus. Suara baritonnya menggelegar, memecahkan keheningan fajar layaknya guntur yang membelah langit."Kau menukar ny
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







