“Aarrgghh...!” Bianca berteriak keras, menarik satu kakiku dan dipeluknya erat.“Kamu gak bisa begini, Mas! Semua itu cuma fitnah. Ponselku pasti disadap, ada yang mau menjebakku. Aku gak mungkin menjual anak-anakku sendiri!” teriaknya frustrasi.Tangisnya menggema tak tahu malu, berkali-kali ia memukul kepalanya sendiri, berusaha menyakiti diri demi sebuah empati.Kemudian dia berdiri, menghampiri Kiara dan berlutut di hadapannya. “Kiara, maafin Mama. Sekarang kamu bilang ke Jevan, bilang ke dia kalau Mama gak pernah bermaksud menjual kamu.”Kiara diam saja. Bingung menatap ibunya seperti itu.“Bilang kalau apa yang terjadi di ballroom VVIP hanya khilaf. Mama yang salah, Mama yang teledor, tapi Mama gak pernah jual kamu.”“Tolong Mama, Kiara...,” mohonnya lemas.Kiara menatapku, wajahnya pias, bingung, takut. Jelas dia tidak akan mengatakan apa-apa padaku, gadis itu sudah mengatakan semuanya tentang usaha sang ibu menjual dirinya demi sejumlah uang bernilai fantastis, demi sebuah ker
Read more