Bianca: Kamu gak mau balas pesanku?Bianca: Jangan main-main Jevan.Bianca: mereka anak-anakku, kamu gak ada hak atas mereka.Dan beragam pesan lain yang membuat kepercayaan diriku sedikit menciut.Malam itu setelah makan malam aku menatap Celine yang nampak gelisah, bolak-balik memeriksa ponsel lalu menatapku pias.“Kiara, kita harus pulang. Mama khawatir,” kata Celine.Kiara malah menatapku, sedangkan aku mendengar tapi tak mau menyanggah.“Aku di sini aja,” jawab Kiara. “Kalau Kakak mau pulang, silakan. Aku di sini sama Om Jevan.”“Tapi kita ngerepotin—““Emangnya Om merasa kerepotan karena kita?” Kiara bertanya padaku.Kutatap dua gadis itu, datar. Lalu aku menggeleng.“Tuh kan nggak! Udah deh, Kak, santai aja,” seloroh Kiara.Celine meletakkan ponselnya, berjalan menghampiriku yang sedang duduk di jendela sambil merokok. “Aku mau pulang, Mas. Aku khawatir sama Mama, tolong bujuk Kiara supaya—““Kiara udah dewasa, dia berhak menentukan pilihannya sendiri. Percuma saya larang juga,
Magbasa pa