“Mas, gimana keadaan Kiara?” pertanyaan itu meluncur tepat setelah aku menutup pintu.Aku agak terkejut sebentar, tapi buru-buru kunetralkan ekspresiku agar Celine tak curiga.“Mas lama banget di dalam. Kiara baik-baik aja, kan?”Sudah pasti Celine curiga, lihat saja dari gerakan matanya. Memindaiku ke sana ke mari, terlihat sedih tapi tak tahu apa sebabnya, terlihat cemas tapi juga bingung.“Kakinya terluka, gak dalam, tapi udah baik-baik aja sekarang. Saya berencana memanggil dokter kalau lukanya infeksi,” jawabku.“Aku mau ngomong sama Kiara,” sahutnya.“Kiara udah tidur, jangan diganggu dulu. Dia masih syok.”“Mas... kenapa lama banget sama Kiara?”Aku terdiam, menatap Celine dalam, napasku bertalu lelah... lama-lama membuatku kesal. “Lama atau sebentar, saya pastikan apa yang saya lakukan di dalam adalah untuk kebaikan Kiara.”“Bu-bukan gitu maksud aku, Mas. Aku cuma gak mau Kiara salah paham.”“Dia gak salah paham. Dia cuma kaget, dan sudah saya luruskan kalau dia cuma salah den
Read more