Mendengar sumpah disertai pertanyaan yang meluncur dari bibir Roman, Sabiya tidak serta-merta luluh. Alih-alih merasa tenang, ekspresinya justru semakin mengeras. Ia menghentikan pijatan di pelipis pria itu, lalu menarik tangannya perlahan."Roman, aku tidak mau lagi membahas tentang perselingkuhan antara kau dan Clara,” tegas Sabiya.Roman menatap wanita itu dengan cemas. "Tapi, Sabiya—""Percaya atau tidak percaya padamu, itu tidak berdampak apa-apa. Kita tidak akan bisa mengubah masa lalu yang hancur," pungkas Sabiya, memotong sisa kalimat Roman. "Ini sangat penting bagiku, Sabiya," sanggah Roman parau, manik abu-abunya menyiratkan keputusasaan. "Aku tidak ingin kau terus-menerus salah paham dan membenciku. Apa pun yang pernah diucapkan Clara, termasuk pesan-pesan yang dia kirimkan padamu, sebagian hanya rekayasa. Dia ingin memisahkan kita.”Sabiya memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri. "Cukup bicaranya, Roman. Lebih baik kau tidur."Tanpa menunggu persetujuan pria
اقرأ المزيد