Keesokan harinya, kafe berjalan seperti biasa. Lilia tampak sibuk di dapur, menyiapkan pesanan pelanggan dengan telaten. Baginya, dapur bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tempat ia bereksperimen dengan rasa."Mbak!" pekik Sila tiba-tiba, membuat Lilia tersentak."Ada apa, Sil? Bikin kaget saja," balas Lilia sambil mengelus dada."Ada yang nyariin, Mbak. Orangnya sombong banget lagi!" adu Sila dengan wajah kesal."Siapa?" tanya Lilia penasaran. Sila hanya menggeleng pelan, namun perasaan Lilia mulai tidak enak.Benar saja, saat ia melangkah ke area depan, pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita yang duduk anggun di salah satu sudut. Stevia."Oh, si Pelakor," gumam Lilia pelan.Seketika, senyum sinis terbit di bibirnya. Jiwa Arunika kini mengambil alih tubuh Lilia yang biasanya lembut dan tidak tegaan.Ini saatnya beraksi, batin Arunika terkekeh. Dulu, saat membaca novel ini, aku hanya bisa mengeluh karena tidak bisa membalas dendam. Tapi sekarang? Tubuh ini milikku, dan ak
Read more