/ Romansa / Gadis Milik Sang Penguasa / Bab 3 Topeng Kepalsuan

공유

Bab 3 Topeng Kepalsuan

작가: Hayati Nur
last update 게시일: 2026-05-19 16:51:07

Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjadi pribadi yang dingin dan mungkin mulai belajar untuk kejam.

Ia berusaha untuk berdiri dengan tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa pening di kepalanya akibat kurang tidur.

Di depan cermin besar di pojok kamar, Aura berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu lemah dengan wajahnya yang pucat. Luka di hatinya tidak mungkin bisa hilang hanya dalam satu malam saja. Ia akan membungkusnya dengan sutra yang terlihat cantik di pandang mata.

“Selamat datang di neraka yang baru, Aura,” gumamnya dengan dibarengi seringaian devil yang menakutkan.

Ia melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar pribadinya, lalu membiarkan air hangat membasuh debu penolakan dari kulitnya.

Setidaknya ia tahu, untuk menghadapi pria dingin dan kejam seperti Xavier Valerius tidak bisa dengan air mata. Pria itu terlalu kebal terhadap rasa iba. Dia adalah seorang pemburu, dan satu-satunya cara untuk menaklukan pemburu adalah dengan menjadi mangsa yang terlalu indah untuk ia lepaskan.

“Kau harus lebih dari kuat untuk menghadapi monster itu, Aura,” bisiknya pada diri sendiri.

Setelah memastikan dirinya berpenampilan jauh lebih segar dan terlihat cantik, ia pun menghela napas panjang dan mulai keluar dari kamar dengan diiringi oleh seorang pelayan wanita yang bertugas untuk menjaganya.

Dengan langkah ringan Aura menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, Xavier sudah duduk dengan tablet di tangannya dan secangkir kopi hitam tanpa gula di atas meja makan. Atmosfer di sekitar pria iti terasa mencekam, seolah oksigen pun enggan untuk mendekat.

Aura tidak duduk di ujung meja yang jauh, melainkan ia berjalan mendekat dan dengan gerakan yang berani namun halus, ia menarik kursi tepat di sebelah Xavier.

“Selamat pagi, Tuan Valerius,” bisiknya dengan suara yang lembut seperti hembusan angin dingin.

“Siapa yang memberimu ijin untuk duduk sedekat ini denganku, Aura?” Xavier tidak menoleh. Ia bertanya dengan suara yang berat dan datar.

“Bukankah kau bilang ... aku ini milikmu? Dan itu artinya kau pun milikku.” Aura mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik mulai menyentuh lengan kemeja Xavier yang tergulung, lalu menelusuri garis urat tangan kekar pria itu dengan gerakan yang menggoda.

“Sebagai barang yang sudah kau beli dengan harga mahal ... tentu saja aku ingin memastikan kau mendapatkan pelayanan terbaik pagi ini.”

Xavier mengalihkan sorot mata elangnya dari tablet, lalu beralih menatap tajam pada manik mata Aura yang kini terlihat berkilau, bukan karena tangisan melainkan karena tipu daya.

“Kau sedang mengajakku bermain api, little bird?” Xavier nampak geram. Suaranya terdengar rendah, seolah menciptakan getaran halus yang aneh di udara.

Untuk menutupi rasa takut dan gugupnya, Aura pun terkekeh kecil. Tawanya terdengar manis di telinga, namun sebenarnya mengandung bisa.

“Aku sudah terbakar habis oleh keluargaku sendiri ... dan hangus, Tuan Valerius. Ku harap, bermain api denganmu bisa membuatku terasa lebih hangat seperti dalam pelukan.”

Aura mengambil cangkir kopi milik Xavier yang masih hangat, lalu menyesapnya sedikit dan meletakannya kembali di atas meja. 

Xavier terkejut dengan sikap berani gadis itu, tapi ia berusaha untuk menutupi keterkejutannya tersebut. “Sepertinya kau mulai semakin berani menyalakan api itu, gadis nakal. Baiklah ... kuharap, kau tidak akan menyesal karena sudah mengajakku bermain-main.”

Auara menelan kasar air liurnya. Semangatnya mulai goyah, terlebih saat ia melihat sorot mata mengerikan dari Xavier. ‘Tidak, Aura. Kau tidak boleh terlihat takut di depan monster ini. Ingat tujuanmu, kau harus bisa secepatnya terbebas dari pria berbahaya ini.’

“Minumlah kopimu selagi hangat, Tuan Valerius. Kau harus mulai terbiasa, karena mulai hari ini ... aku tidak akan berpaling sedikitpun darimu.”

Tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu dan berbagi udara dengan Xavier, Aura pun bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan Xavier yang terpaku sesaat dengan menatap punggung wanita yang semalam terlihat meratap dengan sedih itu.

Entah setan apa yang merasuki Aura semalam, hingga pagi ini ia terlihat begitu tegar dan berjalan dengan anggun layaknya seorang ratu yang sudah sangat siap untuk mendampingi singa seperti Xavier.

“Tunggu!” Suara Xavier terdengar bergema di ruang makan.

Aura yang baru saja akan memijakkan kakinya pada anak tangga, langsung menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak.

Pria bertubuh tinggi itu masih tetap duduk di kursinya, tanpa menoleh ke arah Aura yang ada di belakangnya. “Tidak ada yang memberimu ijin untuk meninggalkan meja makan, Aura!”

Mendengar suara berat dari pria itu, membuat Aura kembali harus menelan air liurnya. “Maaf, Tuan Valerius ... tapi sepertinya pagi ini selera makanku sedang bermasalah. Mungkin karena semalam tidurku tidak cukup, jadi ....”

“Aku tidak suka dibantah, Aura!” Xavier memotong kalimat Aura dengan cepat dan terdengar tegas. “Kembali ke kursimu, dan habiskan makananmu yang bahkan belum kau sentuh.”

Tidak ingin menambah masalah dengan pria arrogant itu, Aura pun berbalik badan dan kembali menuju kursinya tempat ia terduduk semula.

“Semua yang ada di sini harus tunduk pada perintahku ... jangan bersikap seenaknya tanpa ijinku.”

Aura Arabelle terdiam, tanpa membantah sedikitpun. Ia tidak ingin Xavier semakin marah terhadapnya, dan tentu saja itu akan membuatnya semakin sulit untuk keluar dari kungkungan pria monster tersebut.

Sepanjang hari Aura menghabiskan waktunya dengan terkurung di dalam kamarnya. Xavier benar-benar tidak memberi kebebasan sedikitpun.

“Aku tidak bisa seperti ini terus. Bagaimana dengan toko jahitku?” gumam Aura seraya berjalan ke arah jendela raksasa kamarnya.

Gadis itu mengkhawatirkan usaha pribadi miliknya yang belum lama dibangun. Meskipun dirinya putri dari seorang pengusaha yang hidupnya terlihat enak dan berkecukupan, namun Aura tidak bisa menikmati semua itu.

Sebagai seorang anak, Aura merasa tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orangtuanya dan selalu diperlakukan semena-mena oleh Bramasta dan Sarah—sebagai orangtua.

“Aku harus keluar dari sini.” Aura mulai berpikir untuk mencari cara agar dirinya diijinkan untuk keluar meskipun hanya sebentar saja. “Tapi bagaimana caranya? Monster jahat itu pasti tidak akan membiarkanku pergi.”

Aura berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya. Ia pun berjalan keluar dari kamar, dan berniat untuk keluar tanpa meminta ijin pada siapapun yang ada di sana.

“Dengar, Bramasta. Jangan kau pikir, aku tidak tahu asal-usul Aura.”

Degghh!

Jantung Aura berdegub kencang, saat ia tidak sengaja mendengar suara Xavier yang sedang melakukan percakapan melalui ponselnya. Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya, lalu berjalan mengendap-endap dan berdiri di depan pintu ruang kerja Xavier yang tidak tertutup rapat.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” 

Aura terperanjat kaget mendengar suara itu. Ia menelan kasar air liurnya, dan berusaha memberanikan diri untuk menatap pada pemilik suara tersebut.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 19 Bayang-bayang Rahasia

    Aura terpaku. Tenggorokannya terasa tersumbat saat mendengar kalimat itu dari bibir pucat Xavier. Seolah pria itu ingin berkata, 'dunia ini bukan hanya tentang dirimu, dan kamu harus mencaritahu semuanya sendiri.' Kata yang mungkin terdengar biasa, tapi bagi Aura itu adalah sebuah tantangan dan dia harus mencaritahu sendiri."Xavier, katakan padaku ... ada rahasia apa sebenarnya tentangku yang tidak aku ketahui?" cecar Aura, yang sejenak melupakan kalau saat ini kondisi Xavier sedang dalam keadaan sakit.Xavier tidak menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, memejamkan mata perlahan, menahan rasa sakit yang menyesakkan. Garis-garis keletihan di wajah tampannya tampak semakin jelas di bawah temaram lampu kamar."Kau ingin aku mencaritahu sendiri tentang semua kebenaran yang kau sembunyikan itu, Tuan Valerius?" "Tidurlah, Aura. Ini sudah terlalu malam, kau harus istirahat," bisik Xavier parau, mengabaikan tatapan mata menuntut yang dilemparkan istrinya."Bag

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 18 Antara Benci Dan Peduli

    Tubuh jangkung Xavier roboh tepat ke arah Aura. Tanpa memikirkan perih di pipinya yang masih berdenyut, Aura langsung menahan beban tubuh pria itu dengan sekuat tenaga.Napas Xavier terdengar berat, sementara tangannya masih mencengkeram erat bagian ulu hatinya. Serangan Gerd dan stres berat kembali menghantamnya."Xavier! Buka matamu, Xavier!" pekik Aura dengan gemetar. Langkah kaki yang tergesa memecah ketegangan di taman belakang. Mina pelayan senior di kediaman Valerius, bersama dua pengawal bertubuh tegap datang dengan langkah setengah berlari. Raut wajah mereka terlihat panik. Tanpa menunggu diperintah lagi, kedua pengawal itu langsung mengangkat tubuh Xavier dan membawanya ke kamar utama yang terletak di lantai dua.Aura mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup kencang. Pikiran dan perasaannya kini bercampur aduk menjadi satu adonan yang membingungkan."Xavier, apa sebenarnya yang terjadi padamu?" gumam Aura di tengah rasa khawatirnya yang mencekik.Pria yang beberapa

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 17 Hinaan Untuk Aura

    "Aku bilang berlutut!" bentak Eleanor dengan suara yang mulai meninggi, memecah keheningan di area taman belakang.Keanggunan dan ketenangan yang semula ia pertontonkan, akhirnya menguap menjadi arogansi seorang wanita penguasa yang penuh dengan keangkuhan."Kau tidak memiliki hak untuk berdiri sejajar denganku di rumah ini! Kau harus tahu diri dan tahu dimana semestinya posisimu!" Jari telunjuk wanita yang berusia sudah tidak lagi muda itu menunjuk pada tanah halaman yang ditumbuhi oleh rerumputan hias.Degg.Jantung Aura berdetak kencang, ada kecewa dan amarah yang bergemuruh di dalam sana. Namun ia tidak mempunyai niat untuk membalas Eleanor saat itu juga."Ambilkan teh hangat untukku, dan serahkan dengan posisi berlutut di hadapanku." Wanita itu semakin menjadi, seolah ia mencari kepuasan di dalam penderitaan Aura.Jemari Aura mengepal dengan kuat, hingga buku-bukunya nampak memutih. Hinaan tentang dirinya yang dijual oleh Bramasta memang menghantam ulu hatinya, tetapi diperlakuka

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 16 Kedatangan Sang Ratu

    Dua jam berlalu seperti kedipan mata yang begitu cepat. Ketika deru mobil Rolls-Royce berwarna hitam berhenti di pelataran utama kediaman Valerius, atmosfer di dalam mansion pun berubah sepenuhnya. Udara mendadak terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum.Eleanor Valerius melangkah masuk dengan langkah anggun dan wajah yang terlihat tenang. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengenakan gaun haute couture berwarna abu-abu gelap dengan perhiasan mutiara yang berkilau sempurna. Setiap gerakannya memancarkan wibawa bangsawan yang dingin, angkuh dan perfectionist.Xavier berdiri dengan arrogant di atrium utama, menyambut ibunya dengan ekspresi datar yang sudah terlatih. Di sampingnya, berdiri Aura dalam balutan gaun sutra simpel berwarna krem, hasil riasan kilat dan perintah ketat dari Xavier. "Xavier ... Putraku," ucap Eleanor Valerius. Suaranya halus namun memotong kesunyian dengan presisi yang mengerikan. Sorot matanya yang tajam menyapu ke sekeliling sebelum

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 15 Tekanan Dalam Dua Jam

    Aura tersentak pelan. Senyum sinisnya membeku seketika, saat melihat sosok tinggi tegap berdiri di ambang pintu kamarnya.Xavier Valerius.Pria itu berdiri memakai kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga ke siku. Tampak sempurna, dominan dan tidak tersentuh seperti biasanya. Namun jika Aura memperhatikannya dengan lebih jeli, ada guratan samar pucat di sekitar rahangnya dan manik matanya yang sedikit lebih meredup dari biasanya. Ya, saat ini Xavier masih bertarung habis-habisan melawan rasa sakitnya, tapi dia memaksakan diri untuk terlihat kuat di depan Aura dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya."Siapa yang kau maksud tadi, kelinci kecil?" Xavier mengulang kembali pertanyaannya.Dia berjalan perlahan, berusaha agar langkah kakinya yang masih sangat lemas tetap seimbang demi bertemu dengan Aura.Mina yang melihat tuannya, langsung menundukkan kepala dalam-dalam. "T-Tuan Muda....""Keluarlah, Mina." Suara Xavier terdengar dingin, lebih parau dari biasanya."Baik, Tuan,"

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 14 Salah Paham Di Balik Bayang-bayang

    Keheningan di dalam rumah mewah itu semakin mengencang. Pandangan mata Aura masih terkunci pada ruang kerja Xavier yang terbuka sedikit. Seorang wanita keluar dari dalam ruangan tersebut dengan langkah yang tergesa-gesa.Ya, wanita itu adalah Mina. Dia yang menjadi pelayan pribadi Aura saat ini.Aura menyipitkan matanya. Jantungnya berdegup kencang oleh gelombang prasangka yang menyeruak. "Apa yang dia lakukan di ruang kerja Xavier?"Mina keluar dari ruang kerja Xavier dengan seragam kerja yang terlihat sedikit berantakan. Hal tersebut membuat Aura semakin yakin, bahwa antara Xavier dan wanita pelayan itu terjalin hubungan yang bukan hanya sebagai tuan dan pelayan semata. "Sangat menjijikan!" gumam Aura sambil tersenyum sinis."Baiklah, sepertinya aku salah karena sudah berpikir kalau dia sedang sakit. Ternyata aku disuruh menjauh darinya ... karena dia akan melakukan hal rendahan bersama Mina."Dada Aura bergemuruh hebat. Otaknya langsung menyimpulkan prasangka yang paling liar. Xav

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

    Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 4 Kebenaran Yang Dirahasiakan

    Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memuta

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 2 Sangkar Emas Sang Penguasa

    Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangu

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Hancurnya Harga Diri

    Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status