MasukMalam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.
Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap kerlip lampu kota dari kejauhan. Terbersit rasa rindu akan rumah yang pernah ia huni semenjak kecil bersama orangtuanya, tapi beberapa detik kemudian perasaan itu pun menguap saat mengingat kembali semua perlakuan orangtuanya terhadap dirinya selama ini.
Dadanya bergemuruh, kata-kata Xavier siang tadi tentang asal-usulnya dan kepalsuan, terus berdengung di kepalanya seperti suara ribuan lebah yang tengah merasa terusik. “Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku, Tuan Valerius?”
Gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan punggung terbuka yang sengaja ia pakai malam ini, terasa dingin di kulitnya. Ini adalah malam penentuan, Aura harus memenangkan permainan dan menaklukkan pria monster itu agar ia dapat terlepas dari jeratnya.
Pintu kamar terbuka. Suara langkah yang berat dan berwibawa itu terdengar semakin mendekat ke arah Aura. Tanpa menoleh pun gadis itu sudah tahu siapa yang datang ke kamarnya. Xavier Valerius. Aroma maskulin dari tubuh pria itu yang khas langsung menguasai indra penciumannya.
“Kau sudah menungguku, Aura?” Suara berat Xavier memecah keheningan, terdengar begitu dekat di telinga Aura.
Gadis itu membalikkan tubuh, sorot matanya mengunci pandangan sang CEO kejam berdarah dingin tersebut. Ia memaksakan sebuah senyuman memikat, untuk menyembunyikan getaran ketakutan di balik topeng keberanian yang tengah ia pertontonkan di hadapan Xavier.
“Aku selalu menepati janjiku, Tuan Xavier Valerius. Bukankah kau sendiri yang meminta duniaku malam ini?”
Xavier menatap gadis itu dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. Ada kilatan kepuasan dari tatap matanya, sekaligus gairah yang sudah terlalu lama ia tahan.
Pria berwatak dingin itu menanggalkan jas formalnya begitu saja, hanya menyisakan kemeja putih yang sengaja ia buka dua kancing di bagian atasnya. “Kau terlihat sangat luar biasa ... sebagai seorang wanita yang menginginkan kehancuranku, Aura.”
Xavier melangkah maju, hingga tubuh mereka kini saling berdekatan, nyaris tanpa ada jarak.
Aura tidak mundur. Dengan berani ia mengulurkan jemari lentiknya untuk meraba dada bidang Xavier, merasakan detak jantung pria itu yang mulai berpacu dengan cepat. “Aku tidak sedang merencanakan kehancuranmu, Tuan Xavier Valerius. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita yang bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapanku.”
Mendengar perkataan gadis itu membuat Xavier terkekeh sinis. Suara rendahnya terdengar sangat seksi, tapi sarat akan ancaman. Dalam satu gerakan tangan yang cepat, ia mencengkeram pinggang ramping Aura dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada tubuh kekarnya. “Bertekuk lutut? Mimpimu terlalu tinggi, kelinci kecil.”
Detik berikutnya Xavier menyergap bibir Aura dengan rakus. Ciuman itu tidak lembut, itu adalah klaim kepemilikan yang menuntut dan penuh dengan gairah.
Aura terengah hampir kehabisan napas, namun gadis itu menolak untuk kalah. Dia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Xavier, membiarkan dirinya merasakan hanyut dalam pusaran gairah yang begitu membakar jiwanya.
“Kau menantangku untuk melakukan yang lebih dari ini, Aura,” bisik Xavier dengan suara berat dan terdengar serak penuh hasrat yang terpendam.
Xavier mengangkat tubuh Aura dengan sangat mudah, dan membawanya ke atas ranjang king size yang terletak di tengah ruangan tersebut. Di bawah kungkungan tubuh kekar Xavier, Aura tampak begitu kecil dan rapuh.
Sentuhan tangan pria itu di kulit punggungnya yang terbuka, mengirimkan sengatan yang mendebarkan dadanya. Perpaduan antara ketegangan dan gairah yang kian memuncak.
Di sela napasnya yang kian memburu, Aura berbisik dengan suara serak yang terdengar seksi. “Sekarang ... cepat katakan padaku, Tuan Valerius. Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentang hidupku?”
Xavier menghentikan gerakannya sesaat. Matanya menatap Aura yang mulai terkulai lemas dengan rambut yang berantakan dan bibir sedikit membengkak. Seringaian iblis kembali muncul di wajah tampan Xavier.
“Sepertinya kau sudah tidak sabar, Aura.” Xavier balas berbisik, dengan jemarinya yang liar menelusuri rahang Aura. Gerakannya lembut, namun penuh dengan tekanan yang tak terbantahkan.
“Permainan kita bahkan belum dimulai ... tapi kau sudah terburu-buru memintaku untuk mengatakan semuanya.” Xavier Valerius menarik diri dari tubuh Aura yang terkulai tidak berdaya.
Dia berjalan ke arah sofa yang terletak di pojok kamar, dan mendudukkan dirinya di sana dengan menyilangkan kakinya. Ia menatap lurus pada gadis yang masih terpaku di atas tempat tidurnya, membayangkan hal apa yang akan ia lakukan setelah Aura dimiliki sepenuhnya oleh dirinya.
“Jangan membuatku menunggu lebih lama, Tuan Xavier Valerius!” Aura terduduk dengan balas menatap tajam pada pria monster itu. “Kau butuh tubuhku, bukan? Dan aku akan memberikannya padamu malam ini juga. Asalkan ... kau ceritakan semua yang kau tahu tentang hidupku.”
Xavier masih terdiam dengan ekspresi wajahnya yang datar dan tatapan matanya yang dingin. Dia sedang menikmati pemandangan indah yang sudah sekian lama ia rindukan itu. Aura Arabelle. Akan tetap menjadi satu-satunya dunia yang ingin Xavier miliki seutuhnya.
“Bersabarlah, Aura. Tunggu sampai pernikahan itu terlaksana ... dan kau akan tahu semua jawabannya.” Xavier bangkit dari duduknya dan meninggalkan Aura begitu saja dalam keadaan yang berantakan.
“Xavier Valerius, kau benar-benar monster yang sangat menyebalkan!” umpat Aura dengan penuh rasa kesal.
Di balik pintu kamar, Xavier tersenyum dengan rasa puas. Paling tidak, dia sudah merasakan bagaimana candunya aroma tubuh Aura. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Aura. Bersabarlah sampai waktunya tiba.”
Di dalam kamar yang luas dan sunyi, Aura membeku di atas ranjangnya. Berbagai tanya memenuhi isi kepalanya, menuntut dirinya untuk segera mencaritahu tentang kebenaran yang disembunyikan oleh Xavier.
“Pastikan dia tidak bisa keluar dari kamarnya! Dan kau hanya boleh masuk ke dalam kamarnya untuk memberinya makan.” Xavier memberikan perintah pada seorang pelayan wanita yang ditugaskan untuk menjaga Aura.
Pelayan itu mengangguk patuh, dan kemudian beranjak dari hadapan Xavier untuk kembali melakukan tugasnya.
“Ken, jangan beri celah pada Bramasta untuk bisa menemui Aura. Aku ingin lelaki itu merasakan akibat dari perbuatannya.”
“Baik, Tuan. Saya pastikan Bramasta tidak akan bisa mendekati Aura dalam radius seratus meter,” sahut Kenzo meyakinkan tuannya.
“Satu lagi ... persiapkan acara pernikahanku dengan Aura dalam waktu dua hari. Aku ingin semuanya terlihat sempurna di hari itu,” ujar Xavier sembari membayangkan betapa cantiknya Aura di hari pernikahan mereka nanti.
Sedangkan di dalam kamar, Aura sedang berusaha untuk keluar. “Buka pintunya, Xavier! Kau memang benar-benar pria monster!” teriaknya yang mulai frustasi.
"Siapa yang mengijinkanmu masuk ke sini, jalang kecil? Keluar kau dari ruangan ku!" Xavier menatap Aura dengan sorot mata yang dipenuhi dengan kebencian palsu."Aku tahu kau pasti sedang sakit, Xavier. Biarkan aku membantumu," ujar Aura terdengar lirih dan penuh kecemasan."Apa kau tuli? Aku bilang, keluar!" Untuk kesekian kalinya Xavier kembali membentak Aura. "Aku muak melihatmu! Keluar, dan jangan tunjukkan wajah menjijikkanmu itu di hadapanku!"Aura terkesiap, langkahnya mundur seketika. Rasa sakit kembali menancap di dadanya, mendengar makian kasar dari mulut Xavier tersebut.Melihat sorot pilu dari tatapan mata Aura, membuat Xavier semakin merasakan sakit pada salah satu organ tubuh bagian dalamnya. Namun dengan sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya itu.Bentakan keras dan pecahan vas kristal yang berserakan di lantai, membuat tubuh Aura membeku. Kakinya seolah terpaku, sementara dadanya terasa dihantam oleh rasa sesak yang sangat luar biasa."Baiklah, Tuan Valerius. Jika kehad
Mendengar bisikan Kenzo, Xavier perlahan mendongak. Sorot matanya yang dingin langsung membidik ke arah balkon lantai dua. Di sana, di balik pilar yang gelap, Xavier menangkap siluet tubuh Aura yang sedang terduduk ketakutan menutup wajah dengan kedua tangannya. Xavier tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia menyerahkan pistolnya kepada Kenzo dengan gerakan santai. "Urus mayat tikus ini, Ken. Jangan sampai meninggalkan noda satu milimeter pun di tempat ini.""Baik, Tuan." Kenzo mengangguk patuh, lalu ia memberi komando pada anak buahnya untuk membersihkan darah yang berceceran di atas rumput taman belakang kediaman Valerius tersebut. Xavier dengan sikapnya yang terlihat tenang, berjalan masuk ke dalam mansion, menaiki anak tangga satu demi satu tanpa suara. Ketika ia masuk ke dalam kamar yang terletak di samping kamar pribadinya, ia mendapati Aura sedang meringkuk di atas ranjang menyelimuti sekujur tubuhnya hingga ke kepala. Aura pura-pura tidur, namun detak jantungnya sepert
Bramasta dan Sarah memang sepasang manusia serakah dan mempunyai pikiran yang picik. Bagi mereka, Aura tak lebih dari sekedar mesin pencetak uang yang bisa dimanfaatkan kapanpun mereka butuh. Otak licik Bramasta pun tidak lepas dari dukungan istrinya yang sama-sama haus akan kekayaan. Pria itu menyeringai layaknya iblis, membayangkan semua rencananya akan berhasil dan mereka pun segera meraup banyak keuntungan dari Xavier. Sementara dua pria bertubuh kekar suruhan Bramasta, kini mulai menjalankan tugasnya dengan beraksi sebagai pengintai. "Kau tetap berjaga di sini. Aku akan mencaritahu seluk-beluk toko Nona Aura," ujar salah satu dari pria berpenampilan seperti preman itu. Sedangkan di dalam kediaman pribadi Valerius, saat ini Aura sedang terduduk di tepi ranjangnya. Dia memakai baju tidur berbahan sutra warna biru muda, yang cocok dengan warna kulitnya yang putih susu. Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan muncul sosok Xavier yang baru saja selesai dengan urusannya. Ia m
Xavier menaikkan sebelah alisnya. Matanya yang tajam seperti elang, menyelami manik mata Aura. Keheningan di dalam ruang bawah tanah itu terasa semakin mencekik saat pria berwatak dingin tersebut melipat tangan di depan dadanya. Bahkan Mina dan dua pengawal kepercayaan Xavier pun terdiam seribu bahasa sambil tertunduk, tanpa ada yang berani mengangkat wajah mereka. "Persyaratan?" Xavier Valerius terkekeh sumbang, sebuah suara rendah yang sarat akan nada meremehkan. "Kau sedang dalam posisi tidak bisa menawar, Aura. Kau sudah aku beli dengan membayar lunas dari pria picik yang kau panggil ayah itu. Tapi ... karena aku masih bisa berbaik hati padamu, cepat katakan persyaratan apa yang kau inginkan?"Aura menarik napas dalam-dalam, mengabaikan hawa dingin di sekelilingnya dengan berusaha kembali memasang topeng keberanian di depan Xavier. "Aku ingin kau memberikan kebebasan padaku untuk tetap mengurus usaha kecil-ku di dunia fashion, Tuan Valerius. Aku sudah merintisnya beberapa bula
Nona Aura, sebaiknya kita menunggu Tuan Muda di sana saja. Di ruang gym itu tidak ada yang menarik untuk dilihat," ujar Mina berusaha untuk membujuk Aura. Aura menyunggingkan senyuman sinis. Melihat dari wajah Mina dan kedua pengawal pria yang menegang itu, dia dapat menyimpulkan kalau di sana bukanlah ruang olahraga biasa. Ia dapat memastikan, di kediaman Valerius banyak misteri yang disembunyikan. Salah satunya adalah foto gadis kecil dalam bingkai yang pecah di kamar Aura. "Nona, silahkan menunggu di gazebo sebelum Tuan Muda Xavier memanggil!" Salah satu dari pria pengawal itu seakan memaksa Aura untuk segera beranjak dari sana. "Minggir!" perintah Aura dingin sambil mendorong dada pria tersebut. "Jika itu memang ruang gym, kenapa kalian harus melarangku untuk melihat ke sana? Apa aku tidak berhak melihat fasilitas apa saja yang ada di rumah calon suamiku sendiri? Bukankah aku dan Tuan kalian akan melakukan 'Pernikahan'?" Aura menghujani ketiga orang tersebut dengan pertanyaan
Xavier membalikkan tubuhnya perlahan. Dia menatap dingin pada Aura dengan rahangnya yang mengatup begitu rapat, hingga urat-urat lehernya nampak menegang. "Anak perempuan?" Xavier berbisik rendah, namun suaranya mampu membuat bulu kuduk Aura meremang. Pria bertubuh tinggi itu terlihat seperti tengah berpikir. Bola matanya seketika tertuju pada sebuah lembar foto yang tergeletak di atas nakas. Perlahan bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, yang bahkan hampir tidak terlihat oleh mata. Xavier kembali mendekati ranjang tempat dimana Aura terbelenggu di atasnya. Tiap ketukan pantofelnya yang berbenturan dengan lantai marmer, terdengar seperti bunyi lonceng kematian di telinga Aura. "Kau ingin tahu siapa anak itu, Aura?" Senyuman tipis di bibir Xavier kembali terukir, kali ini sedikit terlihat nyata. "Kau pikir dia anakku? Tebakanmu sangat dangkal. Andai kau tahu siapa dia ... aku pastikan kau menyesal karena sudah memancing kemarahanku."Pria itu membungkuk, menopang tubuh dengan ked
Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memuta
Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjad
Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangu
Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yan







