首頁 / Romansa / Gadis Milik Sang Penguasa / Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

分享

Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

作者: Hayati Nur
last update publish date: 2026-05-19 16:54:42

Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.

Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap kerlip lampu kota dari kejauhan. Terbersit rasa rindu akan rumah yang pernah ia huni semenjak kecil bersama orangtuanya, tapi beberapa detik kemudian perasaan itu pun menguap saat mengingat kembali semua perlakuan orangtuanya terhadap dirinya selama ini.

Dadanya bergemuruh, kata-kata Xavier siang tadi tentang asal-usulnya dan kepalsuan, terus berdengung di kepalanya seperti suara ribuan lebah yang tengah merasa terusik. “Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku, Tuan Valerius?”

Gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan punggung terbuka yang sengaja ia pakai malam ini, terasa dingin di kulitnya. Ini adalah malam penentuan, Aura harus memenangkan permainan dan menaklukkan pria monster itu agar ia dapat terlepas dari jeratnya.

Pintu kamar terbuka. Suara langkah yang berat dan berwibawa itu terdengar semakin mendekat ke arah Aura. Tanpa menoleh pun gadis itu sudah tahu siapa yang datang ke kamarnya. Xavier Valerius. Aroma maskulin dari tubuh pria itu yang khas langsung menguasai indra penciumannya.

“Kau sudah menungguku, Aura?” Suara berat Xavier memecah keheningan, terdengar begitu dekat di telinga Aura.

Gadis itu membalikkan tubuh, sorot matanya mengunci pandangan sang CEO kejam berdarah dingin tersebut. Ia memaksakan sebuah senyuman memikat, untuk menyembunyikan getaran ketakutan di balik topeng keberanian yang tengah ia pertontonkan di hadapan Xavier.

“Aku selalu menepati janjiku, Tuan Xavier Valerius. Bukankah kau sendiri yang meminta duniaku malam ini?”

Xavier menatap gadis itu dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. Ada kilatan kepuasan dari tatap matanya, sekaligus gairah yang sudah terlalu lama ia tahan.

Pria berwatak dingin itu menanggalkan jas formalnya begitu saja, hanya menyisakan kemeja putih yang sengaja ia buka dua kancing di bagian atasnya. “Kau terlihat sangat luar biasa ... sebagai seorang wanita yang menginginkan kehancuranku, Aura.”

Xavier melangkah maju, hingga tubuh mereka kini saling berdekatan, nyaris tanpa ada jarak.

Aura tidak mundur. Dengan berani ia mengulurkan jemari lentiknya untuk meraba dada bidang Xavier, merasakan detak jantung pria itu yang mulai berpacu dengan cepat. “Aku tidak sedang merencanakan kehancuranmu, Tuan Xavier Valerius. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita yang bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapanku.”

Mendengar perkataan gadis itu membuat Xavier terkekeh sinis. Suara rendahnya terdengar sangat seksi, tapi sarat akan ancaman. Dalam satu gerakan tangan yang cepat, ia mencengkeram pinggang ramping Aura dan menarik tubuh gadis itu hingga menempel sempurna pada tubuh kekarnya. “Bertekuk lutut? Mimpimu terlalu tinggi, kelinci kecil.”

Detik berikutnya Xavier menyergap bibir Aura dengan rakus. Ciuman itu tidak lembut, itu adalah klaim kepemilikan yang menuntut dan penuh dengan gairah.

Aura terengah hampir kehabisan napas, namun gadis itu menolak untuk kalah. Dia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Xavier, membiarkan dirinya merasakan hanyut dalam pusaran gairah yang begitu membakar jiwanya.

“Kau menantangku untuk melakukan yang lebih dari ini, Aura,” bisik Xavier dengan suara berat dan terdengar serak penuh hasrat yang terpendam.

Xavier mengangkat tubuh Aura dengan sangat mudah, dan membawanya ke atas ranjang king size yang terletak di tengah ruangan tersebut. Di bawah kungkungan tubuh kekar Xavier, Aura tampak begitu kecil dan rapuh.

Sentuhan tangan pria itu di kulit punggungnya yang terbuka, mengirimkan sengatan yang mendebarkan dadanya. Perpaduan antara ketegangan dan gairah yang kian memuncak.

Di sela napasnya yang kian memburu, Aura berbisik dengan suara serak yang terdengar seksi. “Sekarang ... cepat katakan padaku, Tuan Valerius. Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentang hidupku?” 

Xavier menghentikan gerakannya sesaat. Matanya menatap Aura yang mulai terkulai lemas dengan rambut yang berantakan dan bibir sedikit membengkak. Seringaian iblis kembali muncul di wajah tampan Xavier.

“Sepertinya kau sudah tidak sabar, Aura.” Xavier balas berbisik, dengan jemarinya yang liar menelusuri rahang Aura. Gerakannya lembut, namun penuh dengan tekanan yang tak terbantahkan.

“Permainan kita bahkan belum dimulai ... tapi kau sudah terburu-buru memintaku untuk mengatakan semuanya.” Xavier Valerius menarik diri dari tubuh Aura yang terkulai tidak berdaya.

Dia berjalan ke arah sofa yang terletak di pojok kamar, dan mendudukkan dirinya di sana dengan menyilangkan kakinya. Ia menatap lurus pada gadis yang masih terpaku di atas tempat tidurnya, membayangkan hal apa yang akan ia lakukan setelah Aura dimiliki sepenuhnya oleh dirinya.

“Jangan membuatku menunggu lebih lama, Tuan Xavier Valerius!” Aura terduduk dengan balas menatap tajam pada pria monster itu. “Kau butuh tubuhku, bukan? Dan aku akan memberikannya padamu malam ini juga. Asalkan ... kau ceritakan semua yang kau tahu tentang hidupku.”

Xavier masih terdiam dengan ekspresi wajahnya yang datar dan tatapan matanya yang dingin. Dia sedang menikmati pemandangan indah yang sudah sekian lama ia rindukan itu. Aura Arabelle. Akan tetap menjadi satu-satunya dunia yang ingin Xavier miliki seutuhnya.

“Bersabarlah, Aura. Tunggu sampai pernikahan itu terlaksana ... dan kau akan tahu semua jawabannya.” Xavier bangkit dari duduknya dan meninggalkan Aura begitu saja dalam keadaan yang berantakan.

“Xavier Valerius, kau benar-benar monster yang sangat menyebalkan!” umpat Aura dengan penuh rasa kesal.

Di balik pintu kamar, Xavier tersenyum dengan rasa puas. Paling tidak, dia sudah merasakan bagaimana candunya aroma tubuh Aura. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Aura. Bersabarlah sampai waktunya tiba.”

Di dalam kamar yang luas dan sunyi, Aura membeku di atas ranjangnya. Berbagai tanya memenuhi isi kepalanya, menuntut dirinya untuk segera mencaritahu tentang kebenaran yang disembunyikan oleh Xavier.

“Pastikan dia tidak bisa keluar dari kamarnya! Dan kau hanya boleh masuk ke dalam kamarnya untuk memberinya makan.” Xavier memberikan perintah pada seorang pelayan wanita yang ditugaskan untuk menjaga Aura.

Pelayan itu mengangguk patuh, dan kemudian beranjak dari hadapan Xavier untuk kembali melakukan tugasnya.

“Ken, jangan beri celah pada Bramasta untuk bisa menemui Aura. Aku ingin lelaki itu merasakan akibat dari perbuatannya.” 

“Baik, Tuan. Saya pastikan Bramasta tidak akan bisa mendekati Aura dalam radius seratus meter,” sahut Kenzo meyakinkan tuannya.

“Satu lagi ... persiapkan acara pernikahanku dengan Aura dalam waktu dua hari. Aku ingin semuanya terlihat sempurna di hari itu,” ujar Xavier sembari membayangkan betapa cantiknya Aura di hari pernikahan mereka nanti.

Sedangkan di dalam kamar, Aura sedang berusaha untuk keluar. “Buka pintunya, Xavier! Kau memang benar-benar pria monster!” teriaknya yang mulai frustasi.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

    Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap kerlip lampu kota dari kejauhan. Terbersit rasa rindu akan rumah yang pernah ia huni semenjak kecil bersama orangtuanya, tapi beberapa detik kemudian perasaan itu pun menguap saat mengingat kembali semua perlakuan orangtuanya terhadap dirinya selama ini.Dadanya bergemuruh, kata-kata Xavier siang tadi tentang asal-usulnya dan kepalsuan, terus berdengung di kepalanya seperti suara ribuan lebah yang tengah merasa terusik. “Rahasia apa yang sebenarnya kau ketahui tentangku, Tuan Valerius?”Gaun malam berbahan satin hitam dengan potongan punggung terbuka yang sengaja ia pakai malam ini, terasa dingin di kulitnya. Ini adalah malam penentuan, Aura harus memenangkan permainan dan menaklukkan pria

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 4 Kebenaran Yang Dirahasiakan

    Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memutar tubuhnya untuk menghadap pada pemilik suara tadi. “Kau mengagetkanku, Tuan Ken ... zo. Hmm, namamu Tuan Kenzo, kan, kalau tidak salah?”Gadis itu membiarkan punggungnya bersandar pada dinding dekat pintu ruang kerja Xavier yang sedikit terbuka.Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan provokasi, lalu menatap Kenzo dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki. “Aku ada di sini hanya untuk memastikan kalau pemilikku saat ini dalam keadaan baik dan penuh semangat ... tapi sepertinya dia sedang sibuk.”Mata gadis itu mengunci pandangan Kenzo. Ia sangat tahu betul kalau pria yang saat ini ada di hadapannya bukan hanya sekedar asisten pribadi saja, melainkan ia pun adalah mata dan telinga bagi X

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 3 Topeng Kepalsuan

    Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjadi pribadi yang dingin dan mungkin mulai belajar untuk kejam.Ia berusaha untuk berdiri dengan tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa pening di kepalanya akibat kurang tidur.Di depan cermin besar di pojok kamar, Aura berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu lemah dengan wajahnya yang pucat. Luka di hatinya tidak mungkin bisa hilang hanya dalam satu malam saja. Ia akan membungkusnya dengan sutra yang terlihat cantik di pandang mata.“Selamat datang di neraka yang baru, Aura,” gumamnya dengan dibarengi seringaian devil yang menakutkan.Ia melangkahkan kakinya dengan gontai ke arah kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar pribadinya, lalu membiarkan air hangat membasuh debu penolak

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 2 Sangkar Emas Sang Penguasa

    Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangunan itu di dominasi oleh kaca yang gelap dan beton ekspos. Di kelilingi oleh hutan pinus, yang seolah membentengi rahasia di dalamnya dari dunia luar yang penuh dengan kemunafikan.Mobil terhenti tepat di depan lobi utama yang diterangi oleh cahaya lampu yang temaram. Aura turun dengan langkah kaki yang gontai. Kakinya yang beralas sepatu pantofel tipis terasa gemetar saat menyentuh lantai granit yang dingin. Hujan telah mereda, menyisakan rasa dingin yang seakan menusuk hingga ke tulang sumsum, membuat Aura memeluk dirinya sendiri.“Ikut aku,” perintah Xavier singkat dan acuh. Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dijaga oleh barisan pria dan wanita yang berpakaian serba hitam, denga

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Hancurnya Harga Diri

    Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yang melilit dan menyesakkan napasnya.Di depannya, duduk seorang pria berwajah arrogant yang namanya bahkan tidak ada yang berani menyebut secara lantang. Xavier Valerius.Pria itu duduk tenang dengan menyilangkan kakinya, mengenakan setelan jas custom made berwarna hitam gelap. Matanya tajam, dengan tatapan sedalam palung laut dan memancarkan aura predator yang membuat suhu di ruangan itu terasa seperti kekurangan oksigen.Di atas meja jati di hadapannya tergeletak sebuah map dokumen, dan sebuah cek dengan sepuluh angka nol yang tertulis nyata. Ya, angka senilai sepuluh miliar.“Tandatangani sekarang juga, Bramasta!” Suara Xavier rendah, namun memiliki otoritas yang mutlak.Bramasta Wijaya, p

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status