Home / Romansa / Gadis Milik Sang Penguasa / Belenggu Sang Monster

Share

Belenggu Sang Monster

Author: Hayati Nur
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-29 15:34:33

Suara teriakan Aura seolah tertahan oleh dinding-dinding kamar yang kokoh. Ia terus menggedor daun pintu hingga telapak tangannya memerah, berharap agar Xavier Valerius atau siapapun itu akan membukakan pintu kamarnya yang kini semakin terasa seperti penjara berlapis emas baginya.

Aura mulai terlihat frustasi, tubuhnya yang terasa lemas merosot dengan punggung yang bersandar pada pintu kamarnya yang menjadi benteng kokoh, sebagai pembatas dirinya dan dunia luar.

"Pernikahan?" Gadis bertubuh ramping itu bergumam dibarengi dengan seringaian sinisnya. "Dua hari lagi ... yaa, dua hari lagi dia akan benar-benar menjadikanku tawanannya seumur hidup."

Gaun satin yang melekat ditubuhnya, terasa seperti kain yang melilit hingga membuatnya sesak. "Dia gila ... Xavier Valerius benar-benar sudah gila! Semudah itu dia ingin melakukan pernikahan."

Otaknya kini berputar, dipaksa untuk bekerja lebih keras agar dia bisa mendapat jeda meskipun tidak mungkin lepas dari pernikahan tersebut.

Semakin cepat dirinya dan Xavier menikah, maka ia akan benar-benar tidak dapat melepaskan dirinya lagi dari pria monster itu.

"Ayo, Aura ... berpikirlah lebih cepat. Waktu tidak akan menunggumu untuk tetap berdiam di istana neraka ini," gumam Aura bermonolog.

Xavier tidak hanya sekedar ingin memiliki tubuhnya. Pria berwatak arrogant itu juga menginginkan kendali penuh atas diri Aura Arabelle, dan atas masa lalu mereka berdua yang tidak pernah Aura ingat diusia dewasanya kini.

"Aku tahu dia seorang manusia yang kejam. Dan aku tidak mau menjadi sasaran dari kekejamannya."

Bagaimanapun juga Aura Arabelle sudah pernah mendengar cerita tentang Xavier Valerius dari banyak orang. Tidak munafik, ia pun merasa takut jika suatu saat pria itu akan berbuat kasar dan semena-mena terhadapnya.

Tidak ingin berlama-lama meratapi nasibnya, Aura bangkit berdiri sembari mengusap kasar air mata yang sempat lolos dari kelopak matanya dengan punggung tangannya.

Gadis bertubuh mungil itu sadar, menangis hanyalah sebuah kelemahan baginya, dan dia sudah berjanji untuk tidak menjadi seorang wanita yang lemah lagi. "Ingat, Aura ... Kau sekarang bukan lagi seorang wanita yang lemah. Jangan buang air matamu hanya untuk menangisi hal yang tidak perlu kamu tangisi," ujarnya pada diri sendiri.

Ia melangkahkan kakinya menuju ke jendela besar, tempat dimana semalam dia menghabiskan banyak waktunya berdiri dan merenung di sana.

Dari lantai dua tersebut, matanya bisa melihat dengan jelas luasnya halaman belakang kediaman Valerius, lengkap dengan beberapa orang petugas keamanan di rumah itu yang bertubuh tegap sedang berpatroli.

"Ini benar-benar seperti penjara buatku. Tidak ada celah sedikitpun untuk bisa keluar dari tempat ini." Matanya menyipit tajam, berpikir bagaimana caranya untuk dapat keluar dari penjara berlapis emas itu.

"Jika pintu depan terkunci dan pengawalannya cukup ketat, itu artinya aku harus mencari cara lain," gumamnya.

Dia bisa menerima kenyataan bahwa dirinya akan segera menikah dan menjadi istri dari seorang CEO yang berdarah dingin, juga terkenal kejam tanpa memiliki bekas kasihan. Namun bukan berarti ia harus terkurung di istana milik Xavier tersebut, karena bagaimanapun juga Aura harus memikirkan usaha yang dibangun olehnya meski secara kecil-kecilan.

"Bagaimana dengan nasib toko-ku?" keluh Aura. "Tuan Valerius, kau adalah manusia paling menyebalkan yang pernah aku temui."

Melarikan diri dari Xavier Valerius, itu artinya sama dengan menyerahkan leher sendiri pada tukang jagal. Aura harus lebih berhati-hati, dan berusaha sebisa mungkin agar Xavier bisa memberinya kebebasan.

Cklekk

Tiba-tiba terdengar suara kunci pintu yang diputar dari arah luar.

Aura langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah daun pintu, dan segera memasang kembali topeng ketegarannya yang seolah memperlihatkan bahwa dia adalah seorang wanita yang tangguh.

Pintu sedikit terbuka, muncul seorang pelayan wanita yang membawa nampan berisi menu makan siang dan segelas air putih untuk Aura.

Wanita itu tidak datang sendiri, melainkan dengan seorang pengawal pria bertubuh tegap yang berdiri di belakangnya.

"Selamat siang, Nona Aura. Saya membawa makanan untuk makan siang Anda," ucap wanita pelayan itu sopan dengan wajah yang tertunduk, tanpa berani menatap pada Aura Arabelle sedikitpun.

Dia meletakkan makanan untuk Aura di atas meja tidak jauh dari jendela kamar.

Aura tidak langsung menyentuh makanan tersebut, melainkan ia berjalan perlahan mendekat pada wanita pelayan itu. "Siapa namamu?"

"Nama saya Mina, Nona," jawab wanita tersebut masih dengan wajah yang tertunduk.

Aura menganggukkan kepalanya perlahan sembari melipat kedua tangan di depan dadanya. "Mina, katakan pada Tuanmu yang seperti monster itu, aku ingin bicara dengannya. Dia tidak bisa mengurungku seperti tawanan di sini." Intonasi suara Aura mulai meninggi.

Mina yang berdiri di hadapannya pun kian menundukkan kepalanya, tubuh wanita itu nampak sedikit gemetar. "Ma-maaf, Nona ... tapi apa yang sudah menjadi perintah dari Tuan Xavier Valerius tidak bisa dibantah. Tugas saya hanya mengantar makanan, tidak punya wewenang untuk menyampaikan apapun."

Wanita pelayan tersebut terlihat seperti merasa tertekan dan ketakutan, terlebih di belakangnya ada seorang pengawal yang tidak mengijinkannya untuk berkata lebih dengan Aura.

Melihat Mina yang berdiri tertunduk di depannya, Aura pun sadar bahwa dia tidak akan menghasilkan apa-apa dari wanita itu, selain membuat tubuhnya gemetar karena ketakutan.

Aura menghembuskan napas panjang, berusaha untuk menahan emosinya.

"Baiklah," ucap Aura dengan suara sedikit lebih pelan. "Lalu, dimana Xavier sekarang? Aku harus bicara dengannya."

"Maaf, Nona ... Tuan Xavier dan Tuan Kenzo sedang pergi untuk meeting di luar sekarang," jawab Mina dengan cepat.

"Beliau berpesan agar Nona menghabiskan menu makan siang dan segera istirahat ... karena sore nanti designer gaun pengantin akan datang untuk mengukur tubuh Nona." Lanjut Mina lagi.

Setelah mengatakan hal tersebut, Mina pun diminta untuk segera meninggalkan kamar Aura oleh pengawal pria yang berdiri tegap di belakangnya.

Pintu kamar kembali dikunci rapat dari arah luar.

Aura berjalan mendekat pada meja yang terletak depan sofa kamarnya. Ia menatap pada makanan yang tersaji mewah dengan pandangan kosong.

Xavier tidak pernah bermain-main dengan apa yang sudah terucap dari mulutnya. Pria itu bergerak dengan sangat cepat, mengisolasi Aura dari dunia luar dan membiarkannya terkurung.

Aura mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, hingga kuku-kukunya memutih. "Kau pikir bisa menjinakan-ku dengan mengurungku di sini, Tuan Valerius?"

Bibirnya menyunggingkan senyuman miris, seolah tengah mengejek dirinya sendiri atas semua kenyataan yang dijalaninya.

Prangggg

Tanpa sengaja Aura menyenggol meja hias kecil di samping jendela kamarnya. Sebuah bingkai foto yang terpajang di atas meja tersebut jatuh, dan pecah dengan kaca berserakan.

Pandangannya terkunci pada foto tersebut. Dengan perlahan ia mengambilnya, dan nampak seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun dalam foto itu. "Foto siapa ini?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 22 Kau Suamiku!

    Aura mengusap air matanya, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut. Tujuannya saat ini adalah perusahaan Valerius Group. Ia akan mencari Xavier di sana, dan meminta maaf pada pria berwatak dingin itu.Rasa bersalah kian menghantam jiwa Aura. Pria yang dia anggap sebagai monster kejam yang tidak memiliki rasa belas kasihan, nyatanya adalah seorang pria yang pernah ada di masa kecilnya dulu dan berusaha untuk menyelamatkannya dari kejahatan ayahnya sendiri."Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak bisa mengingat kalau Xavier pernah menjadi bagian dari masa laluku?" lirih Aura seraya terus berjalan meninggalkan ruang kerja Xavier."Nyonya Muda ... anda mau ke mana?"Mendengar suara seorang pria yang sudah familiar di telinganya, Aura pun menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik badan dan menatap lurus pada seorang pelayan berusia hampir lima puluh tahunan."Paman Jo," ucap Aura dengan bibir gemetar. "Aku ... Aku ingin menemui Xavier, Paman."Bola mata gadis itu kembali berkaca-ka

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 21 Rahasia Yang Terungkap

    Mina menatap Aura dengan sepasang mata yang memancarkan kejujuran sekaligus kejutan halus. Perubahan sikap Aura yang begitu mendadak, dari dingin menjadi kembali ramah seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, membuat pelayan setia itu merasa lega. Rasa simpatinya pada wanita muda di hadapannya mengalahkan seluruh keraguannya."Tentu saja, Nyonya Muda," sahut Mina lembut seraya mengangguk pelan. "Apa yang bisa saya bantu? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"Aura menelan ludah, berusaha keras menyembunyikan getaran gugup di jemarinya. Ia mengusap pipi kirinya yang memar, memasang raut wajah penuh kesakitan seolah tak sanggup lagi menahan rasa perih."Pipi bekas tamparan Nyonya Elea kemarin ... rasanya mendadak sangat panas dan perih lagi, Mina," ujar Aura dengan suara yang dipelankan, sengaja dibuat lirih dan agak gemetar. "Krim dari dokter tidak mempan sama sekali. Dulu, aku selalu mengoleskan salep herbal khusus untuk luka memar. Tapi salep itu susah didapat, hanya bisa dibeli di

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 20 Ancaman Xavier

    Atmosfer di dalam ruangan rahasia itu mendadak menjadi pekat, seolah oksigen ditarik paksa keluar hingga ruangan tersebut terasa seperti hampa udara. Xavier berdiri di ambang pintu, bersandar kaku pada bingkai kayu tebal. Kemeja hitam yang dipakainya sedikit terbuka pada bagian atas, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak beraturan.Meskipun wajah pria itu masih sepucat mayat akibat sisa-sisa serangan Gerd dan gangguan kecemasan yang belum sepenuhnya mereda, namun tatapan matanya tetap tajam mengunci pergerakan Aura hingga gadis itu tidak bisa berkutik."Seharusnya kau menuruti perintahku untuk tidur, Aura." Suara Xavier terdengar rendah, bergetar halus oleh kombinasi rasa sakit fisik dan amarah yang berusaha ia tahan.Dia melangkah maju, menyeret kakinya yang terasa berat. "Tapi kau justru dengan lancang masuk ke ruang kerjaku ... dan melanggar aturan ku."Aura menelan kasar air liurnya. Kakinya terasa gemetar, namun ia berusaha tetap mempertahankan posisinya yang berdir

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 19 Bayang-bayang Rahasia

    Aura terpaku. Tenggorokannya terasa tersumbat saat mendengar kalimat itu dari bibir pucat Xavier. Seolah pria itu ingin berkata, 'dunia ini bukan hanya tentang dirimu, dan kamu harus mencaritahu semuanya sendiri.' Kata yang mungkin terdengar biasa, tapi bagi Aura itu adalah sebuah tantangan dan dia harus mencaritahu sendiri."Xavier, katakan padaku ... ada rahasia apa sebenarnya tentangku yang tidak aku ketahui?" cecar Aura, yang sejenak melupakan kalau saat ini kondisi Xavier sedang dalam keadaan sakit.Xavier tidak menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, memejamkan mata perlahan, menahan rasa sakit yang menyesakkan. Garis-garis keletihan di wajah tampannya tampak semakin jelas di bawah temaram lampu kamar."Kau ingin aku mencaritahu sendiri tentang semua kebenaran yang kau sembunyikan itu, Tuan Valerius?" "Tidurlah, Aura. Ini sudah terlalu malam, kau harus istirahat," bisik Xavier parau, mengabaikan tatapan mata menuntut yang dilemparkan istrinya."Bag

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 18 Antara Benci Dan Peduli

    Tubuh jangkung Xavier roboh tepat ke arah Aura. Tanpa memikirkan perih di pipinya yang masih berdenyut, Aura langsung menahan beban tubuh pria itu dengan sekuat tenaga.Napas Xavier terdengar berat, sementara tangannya masih mencengkeram erat bagian ulu hatinya. Serangan Gerd dan stres berat kembali menghantamnya."Xavier! Buka matamu, Xavier!" pekik Aura dengan gemetar. Langkah kaki yang tergesa memecah ketegangan di taman belakang. Mina pelayan senior di kediaman Valerius, bersama dua pengawal bertubuh tegap datang dengan langkah setengah berlari. Raut wajah mereka terlihat panik. Tanpa menunggu diperintah lagi, kedua pengawal itu langsung mengangkat tubuh Xavier dan membawanya ke kamar utama yang terletak di lantai dua.Aura mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup kencang. Pikiran dan perasaannya kini bercampur aduk menjadi satu adonan yang membingungkan."Xavier, apa sebenarnya yang terjadi padamu?" gumam Aura di tengah rasa khawatirnya yang mencekik.Pria yang beberapa

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 17 Hinaan Untuk Aura

    "Aku bilang berlutut!" bentak Eleanor dengan suara yang mulai meninggi, memecah keheningan di area taman belakang.Keanggunan dan ketenangan yang semula ia pertontonkan, akhirnya menguap menjadi arogansi seorang wanita penguasa yang penuh dengan keangkuhan."Kau tidak memiliki hak untuk berdiri sejajar denganku di rumah ini! Kau harus tahu diri dan tahu dimana semestinya posisimu!" Jari telunjuk wanita yang berusia sudah tidak lagi muda itu menunjuk pada tanah halaman yang ditumbuhi oleh rerumputan hias.Degg.Jantung Aura berdetak kencang, ada kecewa dan amarah yang bergemuruh di dalam sana. Namun ia tidak mempunyai niat untuk membalas Eleanor saat itu juga."Ambilkan teh hangat untukku, dan serahkan dengan posisi berlutut di hadapanku." Wanita itu semakin menjadi, seolah ia mencari kepuasan di dalam penderitaan Aura.Jemari Aura mengepal dengan kuat, hingga buku-bukunya nampak memutih. Hinaan tentang dirinya yang dijual oleh Bramasta memang menghantam ulu hatinya, tetapi diperlakuka

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

    Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 4 Kebenaran Yang Dirahasiakan

    Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memuta

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 3 Topeng Kepalsuan

    Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjad

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 2 Sangkar Emas Sang Penguasa

    Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status