بيت / Romansa / Gadis Milik Sang Penguasa / Hancurnya Harga Diri

مشاركة

Gadis Milik Sang Penguasa
Gadis Milik Sang Penguasa
مؤلف: Hayati Nur

Hancurnya Harga Diri

مؤلف: Hayati Nur
last update تاريخ النشر: 2026-05-19 16:46:56

Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yang melilit dan menyesakkan napasnya.

Di depannya, duduk seorang pria berwajah arrogant yang namanya bahkan tidak ada yang berani menyebut secara lantang. Xavier Valerius.

Pria itu duduk tenang dengan menyilangkan kakinya, mengenakan setelan jas custom made berwarna hitam gelap. Matanya tajam, dengan tatapan sedalam palung laut dan memancarkan aura predator yang membuat suhu di ruangan itu terasa seperti kekurangan oksigen.

Di atas meja jati di hadapannya tergeletak sebuah map dokumen, dan sebuah cek dengan sepuluh angka nol yang tertulis nyata. Ya, angka senilai sepuluh miliar.

“Tandatangani sekarang juga, Bramasta!” Suara Xavier rendah, namun memiliki otoritas yang mutlak.

Bramasta Wijaya, pria yang selama dua puluh tahun dipanggil dengan sebutan ayah oleh Aura, segera meraih pulpen yang tergeletak di samping map dengan tangan yang gemetar. Ia tidak sedikitpun menoleh pada Aura, seolah dirinya tidak sanggup menatap manik mata hitam gadis itu yang kini sudah berkaca-kaca menahan tangisnya.

“Aku mohon jangan lakukan itu, Pa.” Aura memohon dengan suara yang bergetar menahan tangisnya yang hampir pecah.

Sarah—sang ibu, mencekal erat tangan Aura. “Dengar, Aura. Jika ayahmu tidak menandatangi perjanjian ini, maka perusahaan kita akan bangkrut dalam hitungan jam saja. Apa kau mau melihat orangtuamu ini hidup menjadi gelandangan dan tidur di kolong jembatan?” bisik Sarah dengan menekan setiap kalimat yang dilontarkannya.

Detik itu juga dunia Aura seakan runtuh. Ia bukan lagi seorang putri dari keluarga Bramasta yang terpandang. Ia hanya sebuah aset yang sedang dipindahtangankan untuk melunasi hutang perusahaan keluarganya, dan memenuhi keserakahan orangtuanya yang tidak mempunyai belas kasihan terhadap dirinya.

“Ma—“ Suara Aura tercekat.

Sorot matanya penuh dengan permohonan, berharap Sarah dan Bramasta akan berubah pikiran untuk membatalkan semuanya.

“Sudah, tidak perlu banyak drama. Mama sudah siapkan semua baju-baju dan barang pribadimu itu di dalam koper,” ujar Sarah tanpa ada rasa bersalah dan belas kasih sedikitpun.

Hati Aura berdenyut nyeri. Ia menoleh ke arah pintu, di sana terdapat satu koper berukuran kecil berwarna merah yang berisi baju dan barang pribadi miliknya yang sudah dikemas oleh Sarah.

“Bawa dia ke mobil!” titah Xavier dengan tenang, tanpa emosi sedikitpun.

Suara guntur menggelegar di atas langit Jakarta, getarannya merambat hingga ke lantai yang dipijak oleh Aura. Namun kebisingan di luar sana terasa sunyi, dibandingkan dengan hancurnya harga diri yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.

Dua orang pengawal Xavier siap menyeret Aura ke arah mobil. Cengkeraman mereka terasa dingin dan kuat di lengan gadis itu. Aura tidak melawan. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya kini berubah menjadi abu.

Gadis itu menoleh ke arah belakang untuk terakhir kalinya, melihat wajah kedua orangtuanya.

Lelaki yang selama ini dia sebut dengan panggilan ayah itu, nampak sedang menggenggam cek dari Xavier di tangannya dengan mata yang berbinar, sebuah tatapan yang penuh gairah atas kemenangan.

“Lepaskan aku,” lirih Aura saat dua pengawal itu menyeretnya untuk melewati ambang pintu, suaranya serak dan pecah oleh tangis kesedihan. “Aku bisa jalan sendiri.”

Xavier Valerius berdiri dari kursi yang di dudukinya. Gerakannya tenang, terkesan malas namun nampak mematikan. Ia berjalan keluar mengikuti langkah para pengawalnya, mengabaikan Bramasta—lelaki serakah yang tengah sibuk memuja barisan angka di atas kertas berharga itu.

Bagi Xavier, transaksi ini sudah selesai. Barang sudah dibeli, dan dia tidak punya waktu lagi untuk berbasa-basi dengan penjualnya yang serakah itu.

Langkah kaki mereka bergema di atas lantai rumah tersebut. Setiap lukisan dan foto-foto yang terpajang di dinding yang mereka lewati, seolah menertawakan nasib buruk Aura yang menyedihkan.

Udara malam yang basah langsung menerpa wajah Aura saat pintu depan di buka dengan paksa. Hujan badai yang belum juga kunjung reda, menyapu gaun putih yang dikenakannya. Kain halus itu berubah menjadi berat dan semakin melekat di tubuh ramping Aura.

Sebuah Rolls-Royce hitam mengkilat sudah menunggu di depan teras rumah Kediaman Bramasta, mesinnya menderu rendah seperti geraman binatang buas yang siap untuk menerkam mangsanya.

“Masuk,” perintah Xavier, yang berdiri di bawah payung besar yang di pegang oleh Kenzo, asisten pribadi yang sekaligus menjadi orang kepercayaannya.

Cahaya dari lampu taman yang temaram, menonjolkan fitur wajah Kenzo yang kejam, tidak berbeda jauh dengan tuannya—Xavier Valerius.

Tubuh Aura sedikit di dorongnya untuk masuk ke kursi belakang yang luas. Sesaat kemudian, Xavier menyusul masuk dan duduk di sampingnya. Pintu mobil pun tertutup dengan suara gedebuk yang solid, seketika memutus suara bising hujan di luar.

Keheningan di dalam kabin mobil itu jauh lebih menakutkan daripada suara guntur dan badai. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal melekat di tubuh tegap Xavier memenuhi ruangan sempit itu, memenuhi indra penciuman Aura.

Mobil mulai melaju, membelah banjir yang menggenangi Jakarta. Aura menempelkan keningnya pada kaca mobil, menatap pada lampu-lampu kota yang buram oleh air hujan.

“Kau tidak bertanya kemana aku akan membawamu?” Suara rendah Xavier memecah keheningan diantara mereka.

Aura tidak menoleh, pandangan matanya terus tertuju ke arah luar kaca jendela mobil. “Untuk apa? Tidak ada gunanya aku tahu kemana kau akan membawaku pergi. Bukankah barang tidak punya hak untuk bertanya ke mana pemiliknya akan membawanya?”

Xavier Valerius menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai tarikan otot daripada sebuah senyuman. “Barang yang mahal biasanya lebih cerewet. Kau memiliki keberanian yang cukup menarik, Aura ... tapi sayangnya, keberanianmu itu tidak akan berguna ditempatku nanti.”

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Aura dengan sorot matanya yang penuh amarah, menggantikan sisa-sisa rasa sedih. “Kau punya segalanya. Kau bisa mendapatkan wanita manapun di dunia ini ... tanpa harus membeliku dari pria bangkrut seperti ayahku.”

Jemari Xavier bergerak naik ke leher Aura, menyentuh garis rahangnya dengan ujung kuku yang tajam. “Satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak pernah membeli sesuatu yang tidak aku inginkan secara obsesif. Dan kau sekarang adalah milikku. Bukan karena hutang itu, tapi karena aku memutuskan ... bahwa kau adalah milikku sejak pertama kali aku melihat fotomu di atas meja kerjaku.”

Aura memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh perlahan melewati pipinya. Ia adalah seorang gadis malang, yang dilempar oleh orangtuanya ke dalam pelukan Xavier, seorang CEO kejam. Di balik matanya yang memancarkan kesedihan, nampak sebuah api yang mulai menyala, yang suatu saat akan membakar habis kerajaan gelap Xavier.

“Aku bersumpah, jika aku harus hidup sebagai tawanan pria ini ... aku tidak akan hancur sebagai korban.” Aura bersumpah dalam diamnya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 20 Ancaman Xavier

    Atmosfer di dalam ruangan rahasia itu mendadak menjadi pekat, seolah oksigen ditarik paksa keluar hingga ruangan tersebut terasa seperti hampa udara. Xavier berdiri di ambang pintu, bersandar kaku pada bingkai kayu tebal. Kemeja hitam yang dipakainya sedikit terbuka pada bagian atas, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak beraturan.Meskipun wajah pria itu masih sepucat mayat akibat sisa-sisa serangan Gerd dan gangguan kecemasan yang belum sepenuhnya mereda, namun tatapan matanya tetap tajam mengunci pergerakan Aura hingga gadis itu tidak bisa berkutik."Seharusnya kau menuruti perintahku untuk tidur, Aura." Suara Xavier terdengar rendah, bergetar halus oleh kombinasi rasa sakit fisik dan amarah yang berusaha ia tahan.Dia melangkah maju, menyeret kakinya yang terasa berat. "Tapi kau justru dengan lancang masuk ke ruang kerjaku ... dan melanggar aturan ku."Aura menelan kasar air liurnya. Kakinya terasa gemetar, namun ia berusaha tetap mempertahankan posisinya yang berdir

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 19 Bayang-bayang Rahasia

    Aura terpaku. Tenggorokannya terasa tersumbat saat mendengar kalimat itu dari bibir pucat Xavier. Seolah pria itu ingin berkata, 'dunia ini bukan hanya tentang dirimu, dan kamu harus mencaritahu semuanya sendiri.' Kata yang mungkin terdengar biasa, tapi bagi Aura itu adalah sebuah tantangan dan dia harus mencaritahu sendiri."Xavier, katakan padaku ... ada rahasia apa sebenarnya tentangku yang tidak aku ketahui?" cecar Aura, yang sejenak melupakan kalau saat ini kondisi Xavier sedang dalam keadaan sakit.Xavier tidak menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, memejamkan mata perlahan, menahan rasa sakit yang menyesakkan. Garis-garis keletihan di wajah tampannya tampak semakin jelas di bawah temaram lampu kamar."Kau ingin aku mencaritahu sendiri tentang semua kebenaran yang kau sembunyikan itu, Tuan Valerius?" "Tidurlah, Aura. Ini sudah terlalu malam, kau harus istirahat," bisik Xavier parau, mengabaikan tatapan mata menuntut yang dilemparkan istrinya."Bag

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 18 Antara Benci Dan Peduli

    Tubuh jangkung Xavier roboh tepat ke arah Aura. Tanpa memikirkan perih di pipinya yang masih berdenyut, Aura langsung menahan beban tubuh pria itu dengan sekuat tenaga.Napas Xavier terdengar berat, sementara tangannya masih mencengkeram erat bagian ulu hatinya. Serangan Gerd dan stres berat kembali menghantamnya."Xavier! Buka matamu, Xavier!" pekik Aura dengan gemetar. Langkah kaki yang tergesa memecah ketegangan di taman belakang. Mina pelayan senior di kediaman Valerius, bersama dua pengawal bertubuh tegap datang dengan langkah setengah berlari. Raut wajah mereka terlihat panik. Tanpa menunggu diperintah lagi, kedua pengawal itu langsung mengangkat tubuh Xavier dan membawanya ke kamar utama yang terletak di lantai dua.Aura mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup kencang. Pikiran dan perasaannya kini bercampur aduk menjadi satu adonan yang membingungkan."Xavier, apa sebenarnya yang terjadi padamu?" gumam Aura di tengah rasa khawatirnya yang mencekik.Pria yang beberapa

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 17 Hinaan Untuk Aura

    "Aku bilang berlutut!" bentak Eleanor dengan suara yang mulai meninggi, memecah keheningan di area taman belakang.Keanggunan dan ketenangan yang semula ia pertontonkan, akhirnya menguap menjadi arogansi seorang wanita penguasa yang penuh dengan keangkuhan."Kau tidak memiliki hak untuk berdiri sejajar denganku di rumah ini! Kau harus tahu diri dan tahu dimana semestinya posisimu!" Jari telunjuk wanita yang berusia sudah tidak lagi muda itu menunjuk pada tanah halaman yang ditumbuhi oleh rerumputan hias.Degg.Jantung Aura berdetak kencang, ada kecewa dan amarah yang bergemuruh di dalam sana. Namun ia tidak mempunyai niat untuk membalas Eleanor saat itu juga."Ambilkan teh hangat untukku, dan serahkan dengan posisi berlutut di hadapanku." Wanita itu semakin menjadi, seolah ia mencari kepuasan di dalam penderitaan Aura.Jemari Aura mengepal dengan kuat, hingga buku-bukunya nampak memutih. Hinaan tentang dirinya yang dijual oleh Bramasta memang menghantam ulu hatinya, tetapi diperlakuka

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 16 Kedatangan Sang Ratu

    Dua jam berlalu seperti kedipan mata yang begitu cepat. Ketika deru mobil Rolls-Royce berwarna hitam berhenti di pelataran utama kediaman Valerius, atmosfer di dalam mansion pun berubah sepenuhnya. Udara mendadak terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum.Eleanor Valerius melangkah masuk dengan langkah anggun dan wajah yang terlihat tenang. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengenakan gaun haute couture berwarna abu-abu gelap dengan perhiasan mutiara yang berkilau sempurna. Setiap gerakannya memancarkan wibawa bangsawan yang dingin, angkuh dan perfectionist.Xavier berdiri dengan arrogant di atrium utama, menyambut ibunya dengan ekspresi datar yang sudah terlatih. Di sampingnya, berdiri Aura dalam balutan gaun sutra simpel berwarna krem, hasil riasan kilat dan perintah ketat dari Xavier. "Xavier ... Putraku," ucap Eleanor Valerius. Suaranya halus namun memotong kesunyian dengan presisi yang mengerikan. Sorot matanya yang tajam menyapu ke sekeliling sebelum

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 15 Tekanan Dalam Dua Jam

    Aura tersentak pelan. Senyum sinisnya membeku seketika, saat melihat sosok tinggi tegap berdiri di ambang pintu kamarnya.Xavier Valerius.Pria itu berdiri memakai kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga ke siku. Tampak sempurna, dominan dan tidak tersentuh seperti biasanya. Namun jika Aura memperhatikannya dengan lebih jeli, ada guratan samar pucat di sekitar rahangnya dan manik matanya yang sedikit lebih meredup dari biasanya. Ya, saat ini Xavier masih bertarung habis-habisan melawan rasa sakitnya, tapi dia memaksakan diri untuk terlihat kuat di depan Aura dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa padanya."Siapa yang kau maksud tadi, kelinci kecil?" Xavier mengulang kembali pertanyaannya.Dia berjalan perlahan, berusaha agar langkah kakinya yang masih sangat lemas tetap seimbang demi bertemu dengan Aura.Mina yang melihat tuannya, langsung menundukkan kepala dalam-dalam. "T-Tuan Muda....""Keluarlah, Mina." Suara Xavier terdengar dingin, lebih parau dari biasanya."Baik, Tuan,"

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

    Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 4 Kebenaran Yang Dirahasiakan

    Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memuta

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 3 Topeng Kepalsuan

    Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjad

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 2 Sangkar Emas Sang Penguasa

    Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status