Home / Romansa / Gadis Milik Sang Penguasa / Bab 2 Sangkar Emas Sang Penguasa

Share

Bab 2 Sangkar Emas Sang Penguasa

Author: Hayati Nur
last update publish date: 2026-05-19 16:49:06

Mansion Xavier tidak seperti rumah minimalis kediaman keluarga Bramasta Wijaya, yang terlihat hangat di permukaan namun busuk di dalam. Tempat ini adalah sebuah monumen kekuasaan yang jujur, dingin, megah dan tak tertembus oleh orang sembarangan. Terletak di puncak perbukitan yang terisolasi, bangunan itu di dominasi oleh kaca yang gelap dan beton ekspos. Di kelilingi oleh hutan pinus, yang seolah membentengi rahasia di dalamnya dari dunia luar yang penuh dengan kemunafikan.

Mobil terhenti tepat di depan lobi utama yang diterangi oleh cahaya lampu yang temaram. Aura turun dengan langkah kaki yang gontai. Kakinya yang beralas sepatu pantofel tipis terasa gemetar saat menyentuh lantai granit yang dingin. Hujan telah mereda, menyisakan rasa dingin yang seakan menusuk hingga ke tulang sumsum, membuat Aura memeluk dirinya sendiri.

“Ikut aku,” perintah Xavier singkat dan acuh. 

Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dijaga oleh barisan pria dan wanita yang berpakaian serba hitam, dengan kepala yang tertunduk memberikan hormat pada tuannya. Tidak ada satu pun yang berkedip atau berani menatap pada Aura. Gadis itu benar-benar diperlakukan seperti benda mati yang sedang lewat.

Xavier membawanya ke lantai dua, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran yang rumit berwarna coklat tua.

“Ini kamarmu. Semua yang kau butuhkan sudah ada di dalam,” ujar Xavier sembari membuka pintu tersebut.

Sejenak Aura terpana. Kamar itu lebih luas daripada ruang tamu di rumahnya sendiri. Dindingnya berwarna abu-abu dengan aksen emas, sebuah tempat tidur king size dengan sprai sutra hitam yang mendominasi ruangan. Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah sebuah jendela kaca besar yang membentang dari lantai hinga ke langit-langit, memperlihatkan pemandangan jurang di luar dan kelipan lampu Kota Jakarta dari arah kejauhan nan tinggi.

“Aku akan dikurung di sini?” tanya Aura pelan, hampir tidak terdengar.

Xavier tidak menjawabnya. Ia menyusul melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya hingga menimbulkan suara klik yang tegas. Pria itu berjalan perlahan mendekati Aura, membuat gadis tersebut mundur beberapa langkah ke belakang hingga punggungnya menyentuh kaca jendela yang dingin.

Xavier tidak menyentuhnya. “Kau ingin tahu kenapa aku terobsesi membelimu, bukan?” Xavier mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa centi saja dari wajah Aura. “Seperti yang kau tahu ... Bramasta, tidak sanggup membayar hutang-hutangnya. Dan aku, butuh kau untuk kepentingan pribadiku.”

Auara mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Kau!” sela Xavier dengan suara yang menggetarkan, sekaligus mengejutkan Aura. “Kau akan menjadi istriku, dengan ataupun tanpa persetujuanmu.”

Jantung Aura berdegup kencang mendengarnya, meskipun ia sudah tahu hal itu akan terjadi terhadapnya.

Bola mata Xavier menatap lurus pada Aura yang masih terpaku di tempatnya. “Tugasmu hanya patuh dan tunduk pada setiap perkataanku. Ingat, Aura ... Aku tidak suka dibantah!”

Aura menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh lagi. Baginya menangis pun tidak berguna, karena semua itu tidak akan pernah merubah keadaannya.

“Aku sudah lama menunggu saat ini tiba, Aura. Enam belas tahun, aku hidup untuk menjadi bayang-bayang yang tidak pernah kau sadari keberadaannya.” Xavier menyeringai, sebuah ekspresi yang bahkan sangat mengerikan bagi Aura. “Jadilah gadis baik yang penurut ... dan tunggu sampai hari pernikahan kita tiba.”

Xavier maju selangkah, tangannya perlahan terangkat untuk menyentuh leher belakang Aura. Sentuhannya yang hangat membuat bulu kuduk gadis itu meremang, dan sekujur tubuhnya kembali gemetar.

“Hentikan! Kau mau apa?” Aura berusaha untuk menepis kasar tangan Xavier.

Pria itu menyeringai. “Memangnya apa yang kau pikirkan? Otakmu terlalu liar.”

Aura terdiam. Ada rasa malu karena sudah berpikiran kotor terhadap Xavier. Ia pun memalingkan wajahnya untuk menghindar dari sorot mata pria bertubuh tinggi tegap itu.

“Aku membelimu karena Bramasta tidak mampu membayar hutang-hutangnya, dan dia pun mengharapkan uang lebih untuk kepentingan pribadinya.” Xavier terdiam sejenak. “Dan aku membutuhkanmu untuk kepentingan pribadiku.”

Aura menatap pria di depannya itu dengan perasaan yang penuh kebencian. Kedua tangannya mengepal erat, menahan rasa sakit hati dan amarah yang membuncah terhadap kenyataan pahit yang harus ia terima.

Xavier terdiam, ia menatap bibir mungil Aura yang bergetar, lalu perlahan beralih menatap pada bola mata indah gadis itu. “Ingat, Aura ... kau sekarang adalah milikku!” tegas Xavier seraya mendekatkan bibirnya pada wajah Aura.

Pria itu menghirup aroma tubuh gadis yang kini menjadi tawanannya. Untuk sesaat, Xavier merasa terbuai. Aroma parfume vanilla yang melekat pada tubuh Aura, membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Tidak ingin terhanyut dalam suasana, Xavier pun bergegas berbalik dan berjalan keluar meninggalkan kamar itu. Suara kunci yang terdengar di putar dari arah luar kamar, semakin memperjelas bahwa Aura kini adalah seorang tawanan di bawah kepemilikan sang penguasa.

Gadis itu terduduk lemas di atas lantai kamar yang dingin, memeluk lututnya sambil menatap kegelapan di luar jendela kamar. 

“Pa, Ma ... kenapa kalian tega membuatku seperti ini?” lirihnya, meratapi hidup yang harus dia jalani.

Satu kenyataan yang semakin ia sadari saat ini, bahwa dirinya tidak lebih penting dari uang dan harta yang dimiliki oleh orangtuanya. Seharusnya ia tidak perlu merasa sedih dan meratapi nasibnya seperti sekarang, karena sedari kecil pun dirinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Bramasta Wijaya dan Sarah sebagai orangtuanya.

Aura mengusap kasar air matanya dengan punggung tangannya. Ia berjanji, mulai malam ini dan seterusnya tidak akan pernah menangis untuk meratapi nasibnya lagi. Jika memang ini takdir yang harus dijalani olehnya, maka ia akan hadapi tanpa harus memperlihatkan titik kelemahannya.

Malam itu di sangkar emasnya, Aura Arabelle mulai merubah dirinya menjadi lebih kuat dan lebih berani untuk menghadapi kehidupan barunya di bawah kungkungan Xavier.

Ia akan menghadapi kenyataan lebih pahit yang kemungkinan akan menimpanya pada esok hari. Sebagai tawanan seorang CEO yang terkenal kejam, Aura mulai mempersiapkan diri untuk mendapatkan perlakuan kasar dari pria itu.

Luka hati atas perlakuan kedua orangtuanya yang tidak pernah memberinya kasih sayang dengan tulus, berusaha untuk ia kubur dalam-dalam. Aura akan menganggap hidupnya sebatang kara, tanpa memiliki ikatan darah dengan keluarga Wijaya yang selama ini selalu ia banggakan.

“Tuan Xavier Valerius! Jika kau pikir aku seorang wanita yang lemah, maka anggaplah itu benar. Ambil saja sisa hidupku untuk tujuanmu. Aku barang yang sudah berhasil kau beli.” Aura bergumam dibarengi dengan tawa tipis yang terdengar lirih dan menyedihkan.

Malam beranjak semakin larut, dan udara pun terasa semakin dingin. Namun Aura masih terjaga dengan posisi yang sama, duduk memeluk dirinya sendiri di atas dinginnya lantai kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 22 Kau Suamiku!

    Aura mengusap air matanya, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut. Tujuannya saat ini adalah perusahaan Valerius Group. Ia akan mencari Xavier di sana, dan meminta maaf pada pria berwatak dingin itu.Rasa bersalah kian menghantam jiwa Aura. Pria yang dia anggap sebagai monster kejam yang tidak memiliki rasa belas kasihan, nyatanya adalah seorang pria yang pernah ada di masa kecilnya dulu dan berusaha untuk menyelamatkannya dari kejahatan ayahnya sendiri."Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak bisa mengingat kalau Xavier pernah menjadi bagian dari masa laluku?" lirih Aura seraya terus berjalan meninggalkan ruang kerja Xavier."Nyonya Muda ... anda mau ke mana?"Mendengar suara seorang pria yang sudah familiar di telinganya, Aura pun menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik badan dan menatap lurus pada seorang pelayan berusia hampir lima puluh tahunan."Paman Jo," ucap Aura dengan bibir gemetar. "Aku ... Aku ingin menemui Xavier, Paman."Bola mata gadis itu kembali berkaca-ka

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 21 Rahasia Yang Terungkap

    Mina menatap Aura dengan sepasang mata yang memancarkan kejujuran sekaligus kejutan halus. Perubahan sikap Aura yang begitu mendadak, dari dingin menjadi kembali ramah seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, membuat pelayan setia itu merasa lega. Rasa simpatinya pada wanita muda di hadapannya mengalahkan seluruh keraguannya."Tentu saja, Nyonya Muda," sahut Mina lembut seraya mengangguk pelan. "Apa yang bisa saya bantu? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"Aura menelan ludah, berusaha keras menyembunyikan getaran gugup di jemarinya. Ia mengusap pipi kirinya yang memar, memasang raut wajah penuh kesakitan seolah tak sanggup lagi menahan rasa perih."Pipi bekas tamparan Nyonya Elea kemarin ... rasanya mendadak sangat panas dan perih lagi, Mina," ujar Aura dengan suara yang dipelankan, sengaja dibuat lirih dan agak gemetar. "Krim dari dokter tidak mempan sama sekali. Dulu, aku selalu mengoleskan salep herbal khusus untuk luka memar. Tapi salep itu susah didapat, hanya bisa dibeli di

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 20 Ancaman Xavier

    Atmosfer di dalam ruangan rahasia itu mendadak menjadi pekat, seolah oksigen ditarik paksa keluar hingga ruangan tersebut terasa seperti hampa udara. Xavier berdiri di ambang pintu, bersandar kaku pada bingkai kayu tebal. Kemeja hitam yang dipakainya sedikit terbuka pada bagian atas, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun tidak beraturan.Meskipun wajah pria itu masih sepucat mayat akibat sisa-sisa serangan Gerd dan gangguan kecemasan yang belum sepenuhnya mereda, namun tatapan matanya tetap tajam mengunci pergerakan Aura hingga gadis itu tidak bisa berkutik."Seharusnya kau menuruti perintahku untuk tidur, Aura." Suara Xavier terdengar rendah, bergetar halus oleh kombinasi rasa sakit fisik dan amarah yang berusaha ia tahan.Dia melangkah maju, menyeret kakinya yang terasa berat. "Tapi kau justru dengan lancang masuk ke ruang kerjaku ... dan melanggar aturan ku."Aura menelan kasar air liurnya. Kakinya terasa gemetar, namun ia berusaha tetap mempertahankan posisinya yang berdir

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 19 Bayang-bayang Rahasia

    Aura terpaku. Tenggorokannya terasa tersumbat saat mendengar kalimat itu dari bibir pucat Xavier. Seolah pria itu ingin berkata, 'dunia ini bukan hanya tentang dirimu, dan kamu harus mencaritahu semuanya sendiri.' Kata yang mungkin terdengar biasa, tapi bagi Aura itu adalah sebuah tantangan dan dia harus mencaritahu sendiri."Xavier, katakan padaku ... ada rahasia apa sebenarnya tentangku yang tidak aku ketahui?" cecar Aura, yang sejenak melupakan kalau saat ini kondisi Xavier sedang dalam keadaan sakit.Xavier tidak menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, memejamkan mata perlahan, menahan rasa sakit yang menyesakkan. Garis-garis keletihan di wajah tampannya tampak semakin jelas di bawah temaram lampu kamar."Kau ingin aku mencaritahu sendiri tentang semua kebenaran yang kau sembunyikan itu, Tuan Valerius?" "Tidurlah, Aura. Ini sudah terlalu malam, kau harus istirahat," bisik Xavier parau, mengabaikan tatapan mata menuntut yang dilemparkan istrinya."Bag

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 18 Antara Benci Dan Peduli

    Tubuh jangkung Xavier roboh tepat ke arah Aura. Tanpa memikirkan perih di pipinya yang masih berdenyut, Aura langsung menahan beban tubuh pria itu dengan sekuat tenaga.Napas Xavier terdengar berat, sementara tangannya masih mencengkeram erat bagian ulu hatinya. Serangan Gerd dan stres berat kembali menghantamnya."Xavier! Buka matamu, Xavier!" pekik Aura dengan gemetar. Langkah kaki yang tergesa memecah ketegangan di taman belakang. Mina pelayan senior di kediaman Valerius, bersama dua pengawal bertubuh tegap datang dengan langkah setengah berlari. Raut wajah mereka terlihat panik. Tanpa menunggu diperintah lagi, kedua pengawal itu langsung mengangkat tubuh Xavier dan membawanya ke kamar utama yang terletak di lantai dua.Aura mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup kencang. Pikiran dan perasaannya kini bercampur aduk menjadi satu adonan yang membingungkan."Xavier, apa sebenarnya yang terjadi padamu?" gumam Aura di tengah rasa khawatirnya yang mencekik.Pria yang beberapa

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 17 Hinaan Untuk Aura

    "Aku bilang berlutut!" bentak Eleanor dengan suara yang mulai meninggi, memecah keheningan di area taman belakang.Keanggunan dan ketenangan yang semula ia pertontonkan, akhirnya menguap menjadi arogansi seorang wanita penguasa yang penuh dengan keangkuhan."Kau tidak memiliki hak untuk berdiri sejajar denganku di rumah ini! Kau harus tahu diri dan tahu dimana semestinya posisimu!" Jari telunjuk wanita yang berusia sudah tidak lagi muda itu menunjuk pada tanah halaman yang ditumbuhi oleh rerumputan hias.Degg.Jantung Aura berdetak kencang, ada kecewa dan amarah yang bergemuruh di dalam sana. Namun ia tidak mempunyai niat untuk membalas Eleanor saat itu juga."Ambilkan teh hangat untukku, dan serahkan dengan posisi berlutut di hadapanku." Wanita itu semakin menjadi, seolah ia mencari kepuasan di dalam penderitaan Aura.Jemari Aura mengepal dengan kuat, hingga buku-bukunya nampak memutih. Hinaan tentang dirinya yang dijual oleh Bramasta memang menghantam ulu hatinya, tetapi diperlakuka

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 5 Gairah Di Atas Ranjang

    Malam yang menegangkan itu terasa merayap dengan sangat cepat di kediaman Valerius. Kamar tidur berukuran luas yang di dominasi dengan warna hitam dan abu, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi.Aura berdiri di dekat jendela besar kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk, menatap

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 4 Kebenaran Yang Dirahasiakan

    Kepanikan menyergap Aura sejenak, namun ia segera mengingat topeng kepalsuan yang baru saja ia kenakan pagi ini. Ia harus bersikap seolah tidak merasa melakukan kesalahan apapun, tidak boleh terlihat seperti maling yang tertangkap basah.Dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat tenang, Aura memuta

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Bab 3 Topeng Kepalsuan

    Semburat jingga di ufuk timur mulai menembus celah gorden, mengakhiri malam panjang yang membekukan sel saraf Aura. Tubuhnya masih terasa lemas, namun matanya memancarkan api yang berbeda dari tadi malam. Bukan api kemarahan, melainkan api yang penuh dengan kobaran semangat untuk bangkit dan menjad

  • Gadis Milik Sang Penguasa   Hancurnya Harga Diri

    Malam itu, Jakarta diguyur oleh hujan badai yang seolah meramalkan sebuah kehancuran. Di ruang kerja yang berbau cerutu dan alkohol mahal, Aura Arabelle berdiri kaku dengan jemari yang saling bertautan. Gaun putih yang melekat pada tubuhnya pemberian dari Sarah—ibunya, terasa seperti kain kafan yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status