แชร์

Bab 44

ผู้เขียน: Marsalsa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-22 01:52:25

"Tutup hidungmu, Aruna!" teriak Dante.

Suara tembakan beruntun memecah keheningan paviliun. Pecahan kaca jendela berserakan di atas lantai marmer.

Dante menerjang maju, menggunakan berat tubuhnya untuk menabrak pria bermata safir sebelum tabung gas kedua sempat ditembakkan.

Pria bermata safir itu terjungkal ke belakang, menghantam dinding kamar mandi.

Masker gasnya terlepas, menampakkan wajah yang meringis menahan sakit. Pelontar gas di tangannya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 62

    "Kalau saya tidak mau?" tanya Aruna.Ia melangkah mundur hingga punggungnya membentur tiang ranjang kayu yang kokoh. Kedua tangannya meraba ke belakang, mencengkeram permukaan kayu kasar demi menopang kakinya yang mulai goyah.Dante menurunkan alat komunikasi militer di tangannya. Sepasang matanya yang gelap menatap Aruna tanpa ekspresi, sedingin dinding beton di sekitar mereka."Ini perintah Dewan Pusat, Aruna. Bukan pilihan," sahut Dante."Mau dijadiin kelinci percobaan lagi?" Aruna mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya. "Di Sektor 7 kemarin belum cukup?"Dante melangkah satu kali ke depan. Mantel tempur hitamnya yang tebal menyapu udara, membawa aroma mesiu dan debu tanah kering ke dalam kamar."Aset 02 dalam kondisi kritis. Valeska membutuhkan pembanding biologis sekarang," balas Dante.Aruna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 62

    "Keluar," ucap Dante.Suaranya tidak keras, tapi getarannya membuat udara di dalam kamar terasa berat. Dante tidak bergerak dari ambang pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar dengan tubuh tegapnya.Zen tidak langsung bergerak dari kasur Aruna. Ia justru merapikan jubah sutra hitamnya yang sedikit kusut, lalu menatap Dante dengan ujung bibir yang tertarik ke atas."Galak banget, Komandan," sahut Zen santai. "Baru juga mau reuni kecil-kecilan."Dante melangkah masuk ke dalam kamar. Sol sepatu boot militernya meninggalkan jejak debu kelabu di atas lantai kayu yang bersih.Aruna melangkah mundur hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang. Tangannya meraba sprei di belakang tubuhnya, mencari tumpuan untuk tangannya yang mulai basah oleh keringat dingin."Saya tidak akan mengulang perintah, Zen," desis Dante.Jarak di antara kedua pria itu kini hanya tersisa dua langkah. Dante berdiri menjulang, membuat sos

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 61

    "Madam berencana mau ratain sektor bawah," bisik Zen.Langkah kakinya melambat di samping Aruna. Jubah sutra hitam yang ia kenakan menyapu lantai marmer putih yang dingin. Sepasang matanya terus bergerak menyusuri setiap celah beton di dinding koridor."Dia mau nyeleksi orang-orang nggak berguna bagi Dewan Pusat."Aruna menghentikan langkah kakinya tiba-tiba. Sol sepatunya berdecit nyaring di atas lantai marmer. Ia menatap Zen dengan dada yang naik turun dengan cepat."Dia manusia apa bukan sih?" tanya Aruna. "Enak banget main rata-ratain gitu aja."Zen meloloskan tawa pendek dari tenggorokannya. Rambut hitam lurusnya yang panjang bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis."Manusia Excel itu," sahut Zen. "Apa-apa berdasarkan data, statistik gitu aja terus.""Dia nggak inget umurnya kah?" gerutu Aruna. "Udah tua, bukannya tobat malah makin jadi."Malik yang berjalan di

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 63

    "Lepaskan dia," ucap Zen. Suaranya tidak lagi menyisakan nada bercanda yang biasanya terdengar. Dia melangkah keluar dari lift, menghalangi jalan para penjaga berseragam hitam dengan tubuh rampingnya. Kedua penjaga itu melirik ke arah Dante, menunggu instruksi lebih lanjut tanpa melonggarkan cengkeraman pada lengan Aruna. Aruna meringis pelan saat merasakan perban di lengan kanannya semakin basah. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di dahi. "Ini perintah langsung dari Madam Valeska, Zen," sahut Dante dingin. Pria bertubuh besar itu melangkah maju. Zen memicingkan matanya, menatap tetesan darah di lantai dengan sudut bibir yang melengkung sinis. Dia menarik napas panjang, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah sutra hitamnya. "Aku tidak peduli pada wanita tua itu," balas Zen dengan n

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 60

    "Zen, lepasin. Ini koridor umum," desis Aruna, mencoba menyikut perut pemuda itu dengan sikutnya yang tidak terluka. Zen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia pantau lewat sensor biometrik komputer. "Bentar dulu, Aruna. Aku kangen banget," bisik Zen, suaranya melembut. "Zen, ada Malik di belakang!" Aruna mendesis, tubuhnya menegang sempurna. Zen akhirnya melonggarkan pelukannya, kedua tangannya tetap bertumpu santai di pinggang Aruna. Ia membalikkan tubuh gadis itu agar mereka saling berhadapan. "Biarin aja Si Tukang Cuci Otak itu lihat," Zen melirik Malik dari sudut matanya dengan cengiran provokatif. "Dia kan cuma bisa manipulasi, nggak bisa bikin kamu senyum kayak gini." Malik yang berdiri dua langkah di belakang mereka hanya menatap Zen dengan wajah lempeng. "Tangannya baru dijahit, Zen. Kalau kamu rem

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 59

    "Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 34

    "Pegangan, Aruna!" teriak Malik dengan urat leher yang menegang keras. Sepasang tangannya mencengkeram setir dengan kencang, berusaha melawan momentum hantaman yang melempar mobil taktis mereka keluar dari jalur aspal gersang. Aruna tidak sempat menyahut,

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 32

    "Itu apa?" tanya Malik setengah berteriak dari kursi kemudi. Sepasang matanya melirik tajam ke arah kaca spion tengah, menatap pendar cahaya ungu pekat yang kian terang dari dalam tas Aruna. Mobil taktis itu melesat membelah jalanan gersang yang gelap dengan kecepatan tinggi. "Aku juga nggak ta

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 31

    "Kamu kuat lari kan?" Napas pria itu terasa amat panas di ceruk leher Aruna, berbau anyir darah pekat. Kecepatan lari Eros mulai melambat begitu mereka berhasil keluar beberapa ratus meter dari gerbang luar hanggar. "Bisa, tapi nggak secepat kamu," jawab Aruna dengan jantung yang berdegup kenc

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 30

    "Hey, bangun, udah jam satu." Aroma familier kayu cedar menyeruak, memaksa Aruna membuka mata secara perlahan. Di atas ranjang steril, Eros sedang membungkuk menatapnya dengan rahang tegas. "Aku masih ngantuk," gumam Aruna parau. Ia mencoba menarik kembali selimut jubah sutranya karena sekuju

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status