ANMELDEN"Pasukan eksekusi Dewan Sektor Tujuh sudah menguasai lantai atas sejak sepuluh menit yang lalu," lanjut sang Jenderal. "Dan aku baru saja menyerahkan hak akses penuh mansion ini kepada mereka."
Dante tidak bergeming, pegangannya pada rompi antipeluru Aruna mengencang. Sorot matanya menajam, mengunci wajah ayahnya tanpa sedikit pun rasa gentar. "Kamu beneran tega ngejual anak sendiri demi Dewan?" tanya Dante. Jenderal Arthur mendengus pendek, seulas senyum tipi"Zen, lepasin. Ini koridor umum," desis Aruna, mencoba menyikut perut pemuda itu dengan sikutnya yang tidak terluka. Zen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama ini hanya bisa ia pantau lewat sensor biometrik komputer. "Bentar dulu, Aruna. Aku kangen banget," bisik Zen, suaranya melembut. "Zen, ada Malik di belakang!" Aruna mendesis, tubuhnya menegang sempurna. Zen akhirnya melonggarkan pelukannya, kedua tangannya tetap bertumpu santai di pinggang Aruna. Ia membalikkan tubuh gadis itu agar mereka saling berhadapan. "Biarin aja Si Tukang Cuci Otak itu lihat," Zen melirik Malik dari sudut matanya dengan cengiran provokatif. "Dia kan cuma bisa manipulasi, nggak bisa bikin kamu senyum kayak gini." Malik yang berdiri dua langkah di belakang mereka hanya menatap Zen dengan wajah lempeng. "Tangannya baru dijahit, Zen. Kalau kamu rem
"Bocah! Kirain musuh!" bentak Jenderal, suara beratnya menggelegar di ruang kendali utama hingga membuat Aruna terlonjak di tempatnya mengintip. Sirine darurat yang tadinya meraung panik mati total, digantikan pencahayaan biru redup. Di ambang pintu ruangan, sesosok pemuda pucat berambut hitam lurus sebahu tampak berdiri santai sembari menyandarkan bahunya di kosen pintu. "Maaf Jenderal, saya terpaksa. Anak Anda nggak kasih izin saya ke sini," sahut Zen lempeng. Membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajah androgininya yang tajam tapi cantik. Jenderal mengerutkan keningnya, menatap tajam anak muda berusia dua puluh satu tahun yang mendadak muncul di markas utamanya itu. "Dante? Kenapa?" "Saya disuruh jaga di sektor 7, buat mantau pergerakan Madam," balas Zen sembari merapikan jubah sutra hitamnya yang tampak kontras dengan seragam militer di sekitarnya. "Sedangkan dia malah enak-enakan
"Malik, sembunyi!" bisik Aruna panik, matanya bergerak liar mencari sudut ruangan yang aman. Malik tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan gerakan tangkas tanpa suara, ia meluncur ke bawah meja kayu panjang yang tertutup taplak tebal di dekat sofa. Aruna segera membetulkan posisi duduknya di sofa kulit, membuka buku puisi bersampul hijau daun, dan berpura-pura tenang. Pintu ganda itu terbuka lebar, menampilkan sosok tinggi Dante yang masih mengenakan seragam dinas lengkap dengan lencana yang berkilat dingin. "Siapa yang kasih kamu izin ke sini?" tanya Dante.. Aruna mendongak, mencoba menahan getaran di suaranya. "Aku... cuma mau cari bacaan. Tadi Sophie yang kasih kuncinya." Dante melangkah masuk, ia berhenti tepat di depan sofa, menjulang tinggi di hadapan gadis itu. "Sophie nggak punya hak untuk kasih izin di mansion ini," desis Dante dingin, matanya beralih ke buku di pan
Aruna menarik buku kecil dari jepitan barisan ensiklopedia militer tebal di rak paling bawah. Sampulnya yang usang langsung menarik perhatiannya. "Panduan Menanam Tomat di Lahan Kering Sebelum Kiamat." Aruna berkedip dua kali, memandangi judul unik itu dengan heran. "Malik, lihat deh. Kok ada buku kayak gini di perpustakaan Jenderal?" Malik mendekat, melirik sekilas benda di jemari Aruna. "Paling punya kakeknya komandan. Dulu pengin jadi petani tapi gak kesampaian gara-gara telanjur disuruh pegang senjata." "Tapi ini berguna tahu," cetus Aruna sembari membuka halaman pertama. Ilustrasi tomat bulat bergoresan pensil warna yang sudah agak buram menyambut matanya. "Di belakang kan ada tanah kosong sedikit," lanjut Aruna lagi. "Kalau ditanam tomat kayaknya bagus." Malik mendengus pendek. "Tanah di sini udah tercemar residu mesiu, Aruna. Yang
Aruna menatap Malik dari balik batas selimut yang sudah turun ke dagunya. "Ngapain ditarik sih? Biarin aja." Malik tidak melepas ujung selimut itu. Ia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, hingga Aruna bisa mencium aroma samar minyak kayu cendana dan sisa dingin angin malam yang tertinggal di jaket pria itu. "Nanti kalau kamu sesak napas, aku lagi yang repot," ucap Malik pelan. "Kan ada kotak obat," sahut Aruna ketus, mencoba membela diri walau jantungnya sudah berdegup dua kali lebih cepat. "Tinggal kasih napas buatan." Aruna langsung menggigit bibir bawahnya begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan. 'Bodoh banget,' rutuknya dalam hati. Malik menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum yang nyaris pecah. "Oh, jadi kode nih?" "Bukan! Maksudnya—" Sebelum Aruna sempat menyelesaikan kalimatnya, Malik mendekat. Wajah me
Malik mengubah posisi tidurnya, menyandarkan kepala pada lengannya sendiri sambil menghadap Aruna. "Dulu, sebelum langit ketutup debu polusi militer dan perimeter kota dipasang benteng beton, dunia nggak sepi kayak gini. Isinya cuma perebutan wilayah logistik sisa faksi lama." Aruna tidak menyela. Ia menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, mendengarkan sisa serak suara Malik yang berbaur dengan dengung tipis pendingin ruangan. "Komandan itu anak tunggal Jenderal," lanjut Malik, jemarinya mengetuk-ngetuk kasur dengan ritme lambat. "Sejak umur sepuluh tahun, dia udah dipaksa lihat isi barak. Waktu faksi pemberontak nembus lini pertahanan sektor barat, ibunya nolak dievakuasi lewat jalur udara karena mau jemput Dante di posko medis." Aruna menahan napas kecil. Tatapannya tertuju pada garis rahang Malik yang mendadak mengatup rapat. "Begitu helikopter mereka j
"Akhirnya, aku bisa sendiri," gumam Aruna sambil perlahan menggeser kakinya turun dari tepi ranjang yang empuk. Meskipun pergelangan kakinya masih terasa agak kaku karena balutan perban, Aruna memaksakan diri melangkah pelan mendekati sebuah meja kerja kayu besar di dekat jendela.
"Pegangan, Aruna!" teriak Malik dengan urat leher yang menegang keras. Sepasang tangannya mencengkeram setir dengan kencang, berusaha melawan momentum hantaman yang melempar mobil taktis mereka keluar dari jalur aspal gersang. Aruna tidak sempat menyahut,
Sophie perlahan memundurkan lututnya hingga punggungnya menempel pada dinding besi mobil, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun. Jemarinya yang memegang botol antiseptik bergetar halus, menciptakan bunyi gemerincing kecil yang tenggelam di antara deru mesin kendaraan.
"Eros, bangun!" tangis Aruna parau, memaksakan suaranya keluar di sela telinga yang berdenging sambil terus mengguncang bahu kokoh di pangkuannya. "Jangan banyak gerak, kamu juga terluka," sela Malik dengan suara yang tenang, napasnya memburu pendek. Arun







