Beberapa jam kemudian, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Mayor Ziandra berdiri tegap di landasan udara, mengenakan seragam tempur lengkap. Sorot matanya yang biasa setenang telaga kini membara oleh campur aduk emosi. Di belakangnya, Irwan menggeledah isi ransel dengan wajah panik, berusaha bersikap seolah ucapan konyolnya tadi cuma angin lalu. Untuk pertama kalinya sejak menjadi bawahan Ziandra, Irwan melihat sosok perkasa yang biasanya tak tergoyahkan itu berjalan membawa beban batin yang teramat berat. "Komandan," panggil Irwan pelan, berusaha profesional. Ziandra tidak menoleh sedikitpun. "Pastikan seluruh personel Operasi Sektor Bravo sudah naik ke helikopter." "Sudah saya cek dua kali, Komandan. Aman terkendali," jawab Irwan tangkas. "Bagus." Jawaban itu singkat, datar, dan terlalu dingin. Irwan paham betul, tubuh komandannya ada di pangkalan udara Jakarta ini, tetapi jiwanya melayang ke tempat lain. Tak jauh dari area keberangkatan, seorang wanita paruh b
Read more