Ziandra menatap wajah istrinya yang panik, lalu menghela napas panjang. Semua benteng pertahanan yang ia bangun sekuat tenaga runtuh seketika di depan mata yang memandangnya dengan penuh ketakutan itu. Tangannya bergerak, menyentuh pipi Almira dengan lembut.“Kalau aku pergi ….” Ziandra mulai berbicara, suaranya bergetar pelan, “aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian, apalagi melepaskanmu. Perceraian itu tidak ada dalam kamus hidupku, Almira. Tidak akan pernah," sambung Ziandra. Pertahanan yang ia bangun luluh lantak.Almira menahan napas, matanya berkaca-kaca. “Tapi, tugas itu berbahaya, kan? Bagaimana kalau Abang tidak kembali? Bagaimana kalau aku …, aku tidak bisa menjaga diri sendiri?”Ziandra mendekatkan wajahnya, keningnya menempel erat pada kening Almira. “Maka biarkan aku mengikat hatiku padamu sekuat mungkin malam ini. Agar tak ada ruang sedikit pun dalam pikiranmu untuk ragu, dan agar aku pun punya alasan paling kuat untuk berjuang pulang.”Perlahan namun penuh hasrat,
続きを読む