Tubuh Almira seketika menegang kaku. Matanya membulat lebar, gerakannya terhenti mendadak seolah terpaku, napasnya tercekat di kerongkongan. Rasa cemas perlahan merayap menyelimuti hatinya.“Serius, Bang?” ucap Almira pelan namun berusaha tetap tenang, berjuang sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup sedikit pun.Ziandra mengangguk perlahan. “Iya. Aku sendiri baru menemukannya tadi.” Ia menatap wajah Almira lekat-lekat, lalu bertanya lembut namun penuh selidik. “Selama aku pergi, tidak ada orang asing yang datang ke sini, kan?”Almira menelan ludah, pipinya perlahan memerah meski ia berusaha menyunggingkan senyum paling tenang. Jantungnya berdegup kencang—bukan hanya karena ketakutan, tapi juga karena tatapan Ziandra yang begitu tajam dan dekat.“Nggak ada kok, Bang… tenang saja,” jawabnya pelan, sedikit tercekat namun segera menyambung dengan nada manja yang menggoda. “Cuma ada Abang saja yang boleh masuk ke sini dan ke hati aku.”Tanpa menunggu jawaban, tangan kecilnya perlahan naik
Read more