"Apa kalian gila?!"Suara Almira melengking memecah keheningan yang mencekam. Napasnya memburu, matanya yang sembap menatap bergantian ke arah dua kubu yang masih saling menodongkan moncong senjata. Belasan pria berjas hitam di satu sisi, dan pasukan militer lengkap di sisi lain."Nenekku baru saja dikubur beberapa menit yang lalu! Dan sekarang kalian mau membuat tempat ini jadi kuburan massal warga?!" pekik Almira lagi, suaranya serak karena emosi dan rasa lelah yang bertumpuk."Andrea, kami—" Laura mencoba memotong dengan suara terisak, namun kalimatnya langsung disambar oleh Ziandra."Almira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ziandra dengan nada yang mendadak melembut, meski sorot matanya tetap tajam mengawasi pergerakan anak buah Valerius.Almira menggeleng kuat, meremas kotak kayu peninggalan neneknya. "Tuan, Nyonya... Maaf, saya tidak tahu siapa yang kalian maksud dengan Andrea. Tapi yang saya ingat sekarang, nama saya Almira. Nama pemberian Nenek Sarmila.""Kami bisa membantu m
続きを読む