Ucapan Ziandra meluncur begitu saja, jujur, dingin, dan telak menghantam ulu hati Almira. Kenapa begitu sulit mencairkan bongkahan es yang ada di hadapannya? Suasana kamar yang tadinya dipenuhi candaan absurd mendadak berubah drastis. Atmosfernya mendingin, menyisakan rasa sesak yang tak kasatmata. Almira menatap Ziandra lama, binar jenaka di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kabut tipis yang mulai menggenang."Bang, cinta itu bisa datang kalau dicoba," cicit Almira, suaranya tidak lagi melengking nyaring, melainkan terdengar bergetar. "Gimana Abang mau suka sama aku, kalau pintu hati Abang aja dikunci rapat-rapat pake gembok militer? Jangankan masuk, mau ketuk pintu aja aku udah digertak duluan.""Aku butuh waktu," jawab Ziandra kaku, memalingkan wajahnya karena tidak tahan melihat perubahan drastis pada raut wajah istrinya."Sampai kapan, Bang? Keburu aku jamuran di rumah ini," sahut Almira, mencoba bercanda namun tawa kecilnya terdengar sangat hambar dan dipaksakan.Ziandr
続きを読む