Se connecterPria itu menghela napas seolah pertanyaan tersebut tidak perlu diajukan. “Yang Mulia, Anda membuang-buang waktu untuk orang-orang kasar itu. Mereka hidup di tempat yang kotor, dikelilingi sampah dan penyakit. Lingkungan semacam itu tidak akan pernah menjadi sehat selama mereka terus tinggal di sana.” Perempuan tua di sampingnya segera menyambung. “Dan sekarang Anda membawa orang-orang sakit itu ke kota. Mereka duduk di ruang tunggu yang sama dengan penduduk lain. Bagaimana jika penyakit mereka menular kepada orang-orang yang tinggal di sini?” Cecilie menatap keduanya. Ia baru saja melihat para pasien yang menunggu dengan tertib, mendengarkan petunjuk dokter, dan berharap mendapatkan perawatan yang layak. Kini, kedua bangsawan itu berbicara seolah mereka sedang membahas sesuatu yang harus dijauhkan dari pandangan. “Jadi,” ujar Cecilie akhirnya, “menurut Anda, mereka seharusnya tidak mendapatkan pengobatan hanya karena tinggal di pemukiman yang tidak layak?” Pria itu tampak sedi
“Lady Carwyn memang pandai membuat orang tertarik membaca beritanya.” Tilly melirik ke luar jendela. “Namun, saya rasa bukan hanya karena korannya. Selama ini, tidak banyak bangsawan yang bersedia repot-repot mengurus penduduk di pemukiman kumuh belakang pelabuhan.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Banyak orang menganggap kawasan itu kotor dan tidak sehat. Mereka lebih suka menjaga jarak daripada mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan para penghuninya. Mungkin karena itulah orang-orang bingung melihat Anda melakukan sesuatu yang tidak biasa mereka saksikan.” Cecilie mengikuti arah pandang Tilly. Seorang pedagang tua yang berdiri di depan tokonya membungkuk ketika kereta mereka lewat. Tidak jauh darinya, seorang perempuan mengangkat tangan untuk memberi salam. Cecilie membalas dengan anggukan kecil. “Saya tidak pernah berpikir bahwa membantu orang sakit adalah sesuatu yang luar biasa.” “Bagi Anda mungkin tidak, Yang Mulia.” Tilly tersenyum. “Tetapi bagi
Kedua tangan Cecilie saling menangkup di pangkuan. Wajahnya tampak lebih serius ketika ia kembali menatap Tilly. “Menjadi sekretaris saya.” Tilly terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi Cecilie, seolah khawatir telah salah mendengar. “Sekretaris... Yang Mulia?” Cecilie mengangguk. “Ya. Selama beberapa hari terakhir, saya melihat sendiri cara Anda mengatur kegiatan pemeriksaan kesehatan di pemukiman buruh. Anda teliti, cekatan, dan mampu mengkoordinasikan banyak orang tanpa membuat pekerjaan menjadi kacau.” Tilly buru-buru menundukkan kepala. “Yang Mulia terlalu memuji saya. Saya hanya melakukan apa yang diperlukan.” “Justru itu yang saya butuhkan.” Cecilie tersenyum. “Saya memerlukan seseorang yang bisa membantu mengatur pekerjaan saya agar semua urusan berjalan dengan baik. Seseorang yang dapat saya percaya untuk memastikan tidak ada hal penting yang terlewat.” Tilly meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Ia tidak pernah membayangkan akan menerima
Lady Carwyn tidak langsung menjawab. Di atas meja, sebuah eksemplar Carwyn Mercury tergeletak dengan judul besar mengenai arwah Lady Celeste Vane yang konon kembali menghantui Emberfall. Berita itu telah membuat banyak orang membicarakan kastel Grand Duke selama beberapa hari terakhir. Kini, muncul berita lain tentang Grand Duchess yang turun langsung ke pemukiman buruh. Lady Carwyn mengetukkan ujung jarinya pada meja dan tersenyum tipis. “Ini berita menarik,” ujarnya. “Terima kasih, Cade.” Staf redaksi itu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan. Lady Carwyn kembali menatap catatan di tangannya. Ia tidak tahu apakah Grand Duchess sengaja ingin memperbaiki citranya setelah berita mengenai hantu Emberfall beredar. Namun, jika Cecilie benar-benar melakukan semua itu tanpa meminta perhatian pers, maka ada sesuatu yang lebih menarik untuk ditulis daripada sekadar rumor hantu. Lady Carwyn tersenyum tipis. Dan ia selalu menyukai berita yang dapat membuat pembacanya mempertanyakan
“Ini justru urusan kami,” balas buruh tua itu. “Anak-anak kami yang sakit. Istri kami yang kesulitan mencari pertolongan. Kalau Grand Duchess bersedia membantu, mengapa kami harus menolaknya?” Suara persetujuan terdengar dari beberapa orang lain. “Benar.” “Dokter akhirnya datang kemari.” “Putriku sudah menunggu berhari-hari untuk diperiksa.” Wajah pria itu semakin masam ketika ia menyadari bahwa kehadirannya tidak menghasilkan reaksi yang diharapkan. Cecilie tidak perlu menambahkan apa-apa lagi. Ia hanya menatap mereka dengan tenang. “Pelayanan kesehatan akan tetap berlangsung hari ini,” ujarnya. “Bahan makanan juga akan dibagikan setelah pemeriksaan selesai. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan boleh datang.” Ia menoleh kepada Tilly. “Silakan lanjutkan pekerjaan kita, Nyonya Stone.” “Baik, Yang Mulia.” Tilly segera kembali mengatur antrean. Dokter Graem dan Dokter Monroy pun melanjutkan pemeriksaan, sementara para pelayan kembali mengurus persediaan. Kelompo
Setelah itu, semua orang mulai bekerja. Beberapa pelayan membantu warga membentuk antrean di depan ruang pemeriksaan. Pelayan lainnya menurunkan persediaan dari kereta dan menyusun obat-obatan serta kain bersih di tempat yang telah disediakan. Bahan makanan dibawa ke sisi bangunan yang lebih luas agar dapat dibagikan setelah pemeriksaan selesai. Dokter Graem dan Dokter Monroy tidak membuang waktu. Mereka mulai memeriksa anak-anak dan warga yang sakit, dibantu beberapa orang yang bertugas mencatat nama serta keluhan setiap pasien. Cecilie berdiri di sisi ruangan, mengamati kesibukan itu. Seorang anak laki-laki yang sejak tadi tampak lemas duduk di hadapan Dokter Graem. Ibunya berdiri di sampingnya dengan wajah cemas, sesekali meremas ujung celemeknya. Setelah pemeriksaan awal selesai, dokter itu berbicara dengan sang ibu mengenai perawatan yang dibutuhkan anaknya. Perempuan tersebut mengangguk berkali-kali. Matanya tampak berkaca-kaca ketika menerima obat dari asisten dok
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena
Evander tidak berkata apa pun. Pria itu hanya berdiri di depannya, tangan terselip di belakang punggung. Mata biru yang tajam itu menyapu wajahnya dengan sorot menilai. Detik berikutnya, sebuah tawa rendah dan dingin lolos dari bibir pria itu. “Menikahimu?” Jemarinya menyisir rambut pirangnya
Ia tidak ingat bagaimana ia berjalan menjauh dari koridor itu. Yang ia tahu, langkahnya semakin cepat, napasnya semakin berat, dan dunia di sekelilingnya terasa buram. Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak ingin ada satu pun pelayan yang melihat matanya berkaca-kaca. Tanpa disadari ia te
Malam itu, Cecilie akhirnya berhasil meniduri sang Grand Duke. Bukan dengan jebakan, bukan dengan paksaan, tapi karena keinginan mereka sendiri. Dan tidak seperti kata orang-orang, alih-alih dingin, pria itu menunjukkan kelembutan memabukkan, dengan gairah yang begitu membara. Sesuatu yang







