Tatapan mata ash brown milik Hazel yang biasanya memancarkan kelembutan kini berkilat tajam bagaikan bilah belati yang baru diasah. Di tengah ruang tamu megah yang sunyi dan hampa, kalimat demi kalimat dari Arlo bergema bagaikan petir di tengah malam. Kehancuran bisnis papanya, kepalsuan Rona yang melarikan diri bagai tikus kelaparan, hingga amukan penyesalan Axel yang terlambat—semuanya menyatu menjadi bahan bakar bagi api keberanian yang membakar dada Hazel."Hazel..." panggil Arlo pelan, jemari tangannya yang kokoh masih menangkup kedua pipi Hazel. Pria itu menatapnya dengan pendar cemas yang teramat sangat. "Kamu tidak perlu mengotori tanganmu. Cukup katakan apa yang kamu inginkan, dan aku yang akan meratakan mereka semua."Hazel menggeleng pelan. Ia mengangkat kedua tangannya, mengelus pergelangan tangan Arlo yang menempel di wajahnya, lalu menurunkan tangan pria itu secara lembut namun penuh penegasan."Tidak, Arlo," sahut Hazel dengan nada suara yang tenang, begitu stabil hingg
Read more