Share

dikurung

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-09-22 22:49:14

Langkah kaki Yaya terdengar begitu pelan saat menapak di atas karpet tebal koridor apartemennya. Kunci pintu elektronik berbunyi bip dua kali, lalu daun pintu bergeser terbuka.

Yaya melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas lelah, mencoba melangkahkan kaki sepelan mungkin agar tak mengganggu sahabatnya yang ia kira masih tertidur lelap di kamar tamu.

Namun, baru saja Yaya melangkah dua jengkal melewati foyer, sosok Hazel sudah berdiri tegak di balik selasar ruang tengah.

Hazel mengen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    dikurung

    Langkah kaki Yaya terdengar begitu pelan saat menapak di atas karpet tebal koridor apartemennya. Kunci pintu elektronik berbunyi bip dua kali, lalu daun pintu bergeser terbuka. Yaya melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas lelah, mencoba melangkahkan kaki sepelan mungkin agar tak mengganggu sahabatnya yang ia kira masih tertidur lelap di kamar tamu.Namun, baru saja Yaya melangkah dua jengkal melewati foyer, sosok Hazel sudah berdiri tegak di balik selasar ruang tengah.Hazel mengenakan gaun tidur katun longgar berwarna krem. Rambut ash brown-nya yang panjang terurai bergelombang, membingkai wajahnya yang pucat pasi dengan mata yang masih memerah dan sembap. Ia berdiri mematung di sana dengan tangan terlipat di dada, menatap Yaya lurus-lurus tanpa ada lagi sisa-sisa tangisan histeris, yang tersisa hanyalah tatapan dingin yang begitu asing dan hampa.Yaya tersentak pelan, menghentikan langkahnya. "Hazel...? Kamu belum tidur?"Hazel tidak langsung menjawab. Manik matanya ya

  • Sekarang, Giliranku!    belum bisa

    Lonceng kecil di atas pintu coffee shop berbunyi pelan saat angin malam yang dingin menyusup masuk melalui celah pintu. Udara di dalam ruangan itu terasa makin sarat dengan teka-teki yang menggantung tebal di antara Arlo dan Yaya. Lampu gantung berwarna keemasan memancarkan cahaya temaram, memantul di atas permukaan meja kayu tebal yang menjadi pembatas di antara mereka berdua.Yaya masih menatap Arlo tanpa berkedip. Manik matanya menyipit penuh rasa penasaran yang teramat sangat. Jawaban gantung yang baru saja diucapkan Arlo bagaikan sebuah simpul tali yang makin erat, alih-alih terurai."Jawab aku, Arlo," pangkas Yaya dengan nada menuntut, suaranya sedikit meninggi meski tetap ia tahan agar tidak menarik perhatian seorang barista yang sedang menyapu di dekat bar. "Apa maksudmu dengan 'jatuh cinta untuk kedua kalinya'? Kapan dan di mana kamu pernah bertemu Hazel sebelum malam di restoran itu? Hazel tidak pernah menceritakan apa pun tentangmu di masa lalu!"Arlo tak langsung menjawab

  • Sekarang, Giliranku!    minta penjelasan

    Lonceng di atas pintu coffee shop bernuansa warm-industrial itu berdenting pelan saat Arlo mendorongnya. Kafe 24 jam yang terletak hanya beberapa ratus meter dari kompleks apartemen Yaya itu tampak lengang di larut malam. Hanya ada denting sendok beradu dengan cangkir porselen dan alunan musik instrumental lembut yang mengisi kehampaan udara.Yaya sudah duduk di sudut ruangan yang cukup terpencil, menatap cangkir chamomile tea yang uapnya perlahan menghilang. Begitu langkah kaki tegap Arlo mendekat, Yaya mendongak. Matanya menilai pria di hadapannya itu dengan pendar tajam penuh selidik.Arlo tampak jauh dari gambaran seorang pengusaha dingin nan perkasa yang biasanya menghiasi sampul majalah bisnis. Jas hitam mewahnya sedikit kusut, kancing teratas kemejanya sudah terbuka, dan rambutnya tampak agak berantakan. Bayangan gelap menyelimuti bagian bawah matanya—menjelaskan rasa cemas dan tekanan emosional yang melahap jiwanya secara perlahan.Arlo mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat

  • Sekarang, Giliranku!    berteduh pada sahabat baik

    Taksi yang ditumpangi Hazel akhirnya berhenti di pelataran sebuah kompleks apartemen modern di pusat kota. Dengan langkah gontai dan jemari yang gemetar, Hazel melangkah menyusuri lorong berkarpet tebal menuju pintu unit nomor 802. Posisinya yang rapuh dan jiwanya yang compang-camping membuatnya tak tahu harus berlindung ke mana lagi selain kepada satu-satunya sosok yang selalu ada untuknya.Hazel menekan bel pintu apartemen Yaya beberapa kali.Tak lama kemudian, pintu berdaun kayu jati itu terbuka. Yaya muncul dari balik pintu dengan pakaian santai, tersenyum hangat menyambut kedatangan sahabatnya. Namun, senyuman itu seketika sirna tanpa bekas.Begitu Yaya melihat Hazel, ia shock luar biasa. Wajah Hazel tampak pucat pasi, matanya sembap dan memerah akibat tangisan yang tak kunjung usai, serta gaunnya sedikit kusut. Penampilan Hazel yang begitu berantakan dan hancur lagi mengembalikan ingatan Yaya pada masa-masa kelam beberapa hari lalu saat Hazel mengalami trauma catatonic."Hazel..

  • Sekarang, Giliranku!    pergi

    Padahal Arlo sudah mengatur segala hal sedemikian rupa—menutup akses informasi, menyaring setiap berita yang beredar di media, hingga membawa Hazel ke vila perbukitan yang terisolasi—namun pada akhirnya, apa yang memang ditakdirkan terjadi tetap akan menemukan jalannya. Keberadaan Baron yang tiba-tiba muncul di lorong rumah sakit bagaikan sebuah badai yang menghancurkan seluruh dinding ilusi hangat yang telah dibina Arlo selama ini.Walaupun memang sekarang dirinya sudah benar-benar jatuh hati dan memberikan seluruh jiwanya pada Hazel, tetap saja ia masih menutupi kebenaran sebesar itu. Sebuah kebenaran kelam yang jika terungkap, tentu saja akan merobek hati Hazel hingga tak bersisa.Arlo mematung di tengah lorong rumah sakit. Pendar matanya yang semula memancarkan kepanikan luar biasa saat melihat Hazel berlari pergi mendadak bertransformasi menjadi kegelapan yang teramat pekat dan mematikan. Pria tegap itu perlahan memutar tubuhnya, menatap Jim Baron yang masih bersimpuh pasrah di a

  • Sekarang, Giliranku!    awal keretakan hubungan

    Suasana di lorong rumah sakit yang dingin dan bernuansa serba putih itu mendadak hening seketika. Langkah kaki Hazel dan Arlo yang tadinya berirama teratur mendadak terhenti di tengah jalan.Sebelum mereka sempat menembus pintu kaca otomatis menuju pelataran parkir, derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan berat terdengar menggemuruh dari arah berlawanan. Seorang pria paruh baya berjas tebal berpotongan mahal dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis tampak berlari kecil menghampiri mereka. Pria itu adalah Jim Baron—seorang konglomerat berpengaruh sekaligus ayah kandung dari Axel.Wajah Baron tampak sangat kalut, matanya sembap dan memancarkan rasa bersalah yang amat mendalam. Begitu jarak di antara mereka terkikis, tanpa membuang waktu satu detik pun, Baron langsung merangsek maju dan memeluk erat Arlo.Pelukan itu begitu mendadak, erat, dan sarat akan emosi meluap-luap.Dan tentu saja Hazel yang melihat kejadian itu terkejut setengah mati. Bola mata ash brown-nya membelalak

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status