Share

pergi

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-09-17 23:39:02

Padahal Arlo sudah mengatur segala hal sedemikian rupa—menutup akses informasi, menyaring setiap berita yang beredar di media, hingga membawa Hazel ke vila perbukitan yang terisolasi—namun pada akhirnya, apa yang memang ditakdirkan terjadi tetap akan menemukan jalannya. Keberadaan Baron yang tiba-tiba muncul di lorong rumah sakit bagaikan sebuah badai yang menghancurkan seluruh dinding ilusi hangat yang telah dibina Arlo selama ini.

Walaupun memang sekarang dirinya sudah benar-benar jatuh hati
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    berteduh pada sahabat baik

    Taksi yang ditumpangi Hazel akhirnya berhenti di pelataran sebuah kompleks apartemen modern di pusat kota. Dengan langkah gontai dan jemari yang gemetar, Hazel melangkah menyusuri lorong berkarpet tebal menuju pintu unit nomor 802. Posisinya yang rapuh dan jiwanya yang compang-camping membuatnya tak tahu harus berlindung ke mana lagi selain kepada satu-satunya sosok yang selalu ada untuknya.Hazel menekan bel pintu apartemen Yaya beberapa kali.Tak lama kemudian, pintu berdaun kayu jati itu terbuka. Yaya muncul dari balik pintu dengan pakaian santai, tersenyum hangat menyambut kedatangan sahabatnya. Namun, senyuman itu seketika sirna tanpa bekas.Begitu Yaya melihat Hazel, ia shock luar biasa. Wajah Hazel tampak pucat pasi, matanya sembap dan memerah akibat tangisan yang tak kunjung usai, serta gaunnya sedikit kusut. Penampilan Hazel yang begitu berantakan dan hancur lagi mengembalikan ingatan Yaya pada masa-masa kelam beberapa hari lalu saat Hazel mengalami trauma catatonic."Hazel..

  • Sekarang, Giliranku!    pergi

    Padahal Arlo sudah mengatur segala hal sedemikian rupa—menutup akses informasi, menyaring setiap berita yang beredar di media, hingga membawa Hazel ke vila perbukitan yang terisolasi—namun pada akhirnya, apa yang memang ditakdirkan terjadi tetap akan menemukan jalannya. Keberadaan Baron yang tiba-tiba muncul di lorong rumah sakit bagaikan sebuah badai yang menghancurkan seluruh dinding ilusi hangat yang telah dibina Arlo selama ini.Walaupun memang sekarang dirinya sudah benar-benar jatuh hati dan memberikan seluruh jiwanya pada Hazel, tetap saja ia masih menutupi kebenaran sebesar itu. Sebuah kebenaran kelam yang jika terungkap, tentu saja akan merobek hati Hazel hingga tak bersisa.Arlo mematung di tengah lorong rumah sakit. Pendar matanya yang semula memancarkan kepanikan luar biasa saat melihat Hazel berlari pergi mendadak bertransformasi menjadi kegelapan yang teramat pekat dan mematikan. Pria tegap itu perlahan memutar tubuhnya, menatap Jim Baron yang masih bersimpuh pasrah di a

  • Sekarang, Giliranku!    awal keretakan hubungan

    Suasana di lorong rumah sakit yang dingin dan bernuansa serba putih itu mendadak hening seketika. Langkah kaki Hazel dan Arlo yang tadinya berirama teratur mendadak terhenti di tengah jalan.Sebelum mereka sempat menembus pintu kaca otomatis menuju pelataran parkir, derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan berat terdengar menggemuruh dari arah berlawanan. Seorang pria paruh baya berjas tebal berpotongan mahal dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipis tampak berlari kecil menghampiri mereka. Pria itu adalah Jim Baron—seorang konglomerat berpengaruh sekaligus ayah kandung dari Axel.Wajah Baron tampak sangat kalut, matanya sembap dan memancarkan rasa bersalah yang amat mendalam. Begitu jarak di antara mereka terkikis, tanpa membuang waktu satu detik pun, Baron langsung merangsek maju dan memeluk erat Arlo.Pelukan itu begitu mendadak, erat, dan sarat akan emosi meluap-luap.Dan tentu saja Hazel yang melihat kejadian itu terkejut setengah mati. Bola mata ash brown-nya membelalak

  • Sekarang, Giliranku!    menengok john

    Tatapan mata ash brown milik Hazel yang biasanya memancarkan kelembutan kini berkilat tajam bagaikan bilah belati yang baru diasah. Di tengah ruang tamu megah yang sunyi dan hampa, kalimat demi kalimat dari Arlo bergema bagaikan petir di tengah malam. Kehancuran bisnis papanya, kepalsuan Rona yang melarikan diri bagai tikus kelaparan, hingga amukan penyesalan Axel yang terlambat—semuanya menyatu menjadi bahan bakar bagi api keberanian yang membakar dada Hazel."Hazel..." panggil Arlo pelan, jemari tangannya yang kokoh masih menangkup kedua pipi Hazel. Pria itu menatapnya dengan pendar cemas yang teramat sangat. "Kamu tidak perlu mengotori tanganmu. Cukup katakan apa yang kamu inginkan, dan aku yang akan meratakan mereka semua."Hazel menggeleng pelan. Ia mengangkat kedua tangannya, mengelus pergelangan tangan Arlo yang menempel di wajahnya, lalu menurunkan tangan pria itu secara lembut namun penuh penegasan."Tidak, Arlo," sahut Hazel dengan nada suara yang tenang, begitu stabil hingg

  • Sekarang, Giliranku!    banyak hal terjadi

    Beberapa hari berlalu di vila lereng bukit yang tenang. Hawa dingin pegunungan, kehangatan perapian, serta kehadiran Arlo yang tak pernah beranjak dari sisinya bertindak bagaikan penawar racun yang sempurna. Hazel telah sepenuhnya pulih. Riasan wajahnya kembali menampilkan rona alami yang segar, dan bola mata ash brown-nya yang indah tak lagi menyimpan jelaga trauma, melainkan pendar tekad yang membara tajam.Pagi itu, Hazel berdiri di samping jendela besar kamar utama, menatap hamparan mawar putih di rumah kaca tua di kejauhan. Ia berbalik, menatap Arlo yang tengah merapikan kemeja mewahnya."Arlo, bawa aku kembali ke kota hari ini," ucap Hazel dengan nada suara yang tenang namun tak terbantahkan.Arlo menghentikan gerakannya. Pria tegap itu melangkah mendekat, memegang kedua bahu Hazel dengan raut wajah yang menyiratkan kecemasan mendalam. Sebenarnya Arlo sudah meminta Hazel untuk tinggal di rumahnya saja agar wanita itu tetap berada di dalam jangkauan perlindungan maksimalnya, jauh

  • Sekarang, Giliranku!    masih percaya

    Arlo sudah tidak tahan lagi melihat nama pria brengsek itu menyala di layar ponsel Hazel. Dengan gerakan cepat dan penuh dominasi, ia pun langsung mengambil ponsel itu dari genggaman Hazel. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arlo menggeser tombol hijau di layar.Diangkatnya telepon Axel, dan sebelum pria di ujung sana sempat mengeluarkannya sepatah kata pun, Arlo langsung memaki-maki Axel dengan suara bariton rendah yang bergetar menahan murka mendalam."Kurang ajar kamu, Axel! Berani-beraninya kamu menjejakkan namamu di ponsel Hazel pada jam sekecil ini!" bentak Arlo dengan intonasi tajam yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Apa kamu tidak punya sedikit pun rasa malu dan nurani?! Kamu tahu bagaimana kondisi Hazel selepas kejadian biadab yang kamu rancang malam itu?! Dia hancur lebur! Dia mengalami trauma catatonic berat hingga tak sanggup bersuara maupun mengenali dunia di sekitarnya! Jiwanya hampir mati gara-gara kelakuan iblismu dan Luna!"Arlo mencengkeram

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status