Kehangatan dari telapak tangan Arlo yang mengusap pipinya perlahan meresap, menembus kebekuan yang sempat menguasai tubuh Hazel. Manik mata ash brown milik Hazel menatap lurus ke dalam manik pekat Arlo yang dipenuhi rasa protektif dan kelembutan murni. Di dalam pendar mata pria itu, Hazel menemukan pijakan yang sangat kokoh. Ia tahu, apa pun yang akan terjadi di balik pintu kayu bernomor 302 itu, ia tidak lagi berdiri sendirian.Hazel menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk mengusir sisa-sisa gemetar di tangannya. Senyuman tipis namun sangat mantap terukir di bibirnya."Tidak apa-apa, Arlo," bisik Hazel dengan suara yang kini terdengar jernih dan berani. "Aku baik-baik saja. Aku harus masuk sekarang."Arlo menatap Hazel beberapa saat, memastikan tak ada lagi keraguan yang tersisa di mata wanita tercintanya. Setelah yakin, Arlo mengangguk pelan. Ia menyusupkan jemarinya kembali ke dalam genggaman tangan Hazel, memberikan remasan lembut sebagai bentuk dukungan mutlak yang
อ่านเพิ่มเติม