Pertanyaan Axel menggantung di udara bagaikan vonis yang menyakitkan. "Jadi... kamu lebih memilih mereka daripada aku, Hazel?"Suara pria itu bergetar, memancarkan perpaduan antara keputusasaan, cemburu yang membakar, dan sisa-sisa ego pria yang terluka. Matanya yang memerah menatap Hazel, berharap ada sedikit saja celah keraguan atau rasa bersalah di raut wajah wanita yang dulu sangat memujanya itu.Namun, Hazel tidak berkedip. Manik mata ash brown-nya yang pekat justru memancarkan kebekuan yang teramat nyata, sesejuk es di puncak gunung.Hazel menghembuskan napas pelan, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan gestur yang teramat anggun dan penuh kendali. Ia menatap Axel tanpa kemarahan yang meletup-letup, murni sebuah ketegasan dingin dari seseorang yang sudah selesai dengan masa lalunya."Aku tidak memilih siapa-siapa, Axel," sahut Hazel, suarasa tenang namun setiap kata yang terucap menusuk bagaikan jarum halus. "Aku hanya bertindak rasional sebagai seseorang yang tahu cara
اقرأ المزيد