Saat hari sudah sore, Kania terbangun dari lelap istirahatnya. Untung saja Naren sangat tenang hari ini, rasanya energinya sudah sedikit terisi kembali.Sore itu Kania dan Ratih berkeliling ke taman, sedang Kania mendorong Naren yang terbaring di stroller bayi."Gimana jalan-jalan ke puncaknya, Kan? Di sana adem banget pasti,""Iya, mbak disana dingin banget.""Maaf juga pas kalian dateng tadi aku gak sempat buat hidangan untuk kalian, karena tadinya jadwal kalian pulang masih besok kan bukan hari ini," ucap mbak Ratih.Kania mengangguk."Nggak papa mbak. Tadinya emang belum ingin pulang, tapi tuan Bagas ada kepentingan jadi dia harus pulang," jawab Kania tanpa ingin memberi tahu alasan pasti mereka pulang, ia hanya tak mau menyebar privasi pria itu.Dan Ratih pun tak bertanya lagi, ia tahu batasan-batasan yang perlu mereka jaga dalam membahas semua hal di rumah ini.Memang Kania akui, semua pelayan di sini terlatih mereka di latih untuk tidak mengurusi masalah bos nya, sehingga semua
Read more