"Mami udah! Vino nggak bisa napas, Mam!" Vino mencoba melepaskan pelukan Maminya yang kelewat erat seperti tidak bertemu dengannya selama sekian dasawarsa. Namun wanita itu terus mendekapnya dan menimangnya seakan ia masih anak kecil. "Kamu kok gitu sama Mami? Mami kangen tau! Utututu anak Mami yang paling ganteng, manis, dan agak lumayan nakal tapi tetep ganteng sedunia!" "Mama udah!" seru Vino nelangsa. Harga dirinya yang ia junjung tinggi dengan begitu mudahnya dibanting Mami. "Lama nggak ketemu, kamu jadi makin dewasa aja! Nggak mau, ah. Mami pengen kamu masih kecil, imut, dan bau bedak!" "Baru juga ketemu beberapa minggu lalu." "Tapi kan ketemunya cuma seuprit. Nggak mengobati kangennya Mami!" "Yaudah nggak usah pergi-pergi. Di rumah aja." Senyum Mami sedikit melemah. Ia mengusap pelan lengan Vino sebelum melepaskan pelukan mereka, lalu menatap putra tunggalnya yang masih tidak disangkanya telah tumbuh dewasa itu. "Mami kan butuh refresing, sayang. Mumpung tulang
Read more