Share

Bab 87

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-27 15:34:07

"Udah ke kamar mandi?" tanya Fero saat Bita kembali.

Bita mengangguk singkat. Langkahnya sedikit tergesa saat menjatuhkan diri ke sofa.

Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Pandangannya berkali-kali melayang ke arah dapur, lalu buru-buru beralih ke lantai. Ketika tak lama kemudian, Mami muncul sambil membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh.

"Aduuuh, kalian pasti nunggu lama banget! Padahal yang dibuat cuma teh aja."


Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 88

    "Mi." Vino akhirnya berhenti batuk. Dengan suara yang masih serak, ia menatap Mami tak percaya. "Yang kayak gitu nggak perlu diceritain juga."Mami mengerjap heran. "Loh, kenapa? Kan lucu."Vino melirik sekilas ke arah Fero, lalu mendekatkan wajahnya ke Mami. "Itu aib," bisiknya pelan. "Jangan diumbar ke mana-mana, dong."Mami menoleh menatap Vino dengan dahi berkerut."Loh? Aib dari mananya? Orang lucu, kok."Wanita itu malah terkekeh, sama sekali tidak merasa bersalah."Padahal siangnya paling semangat ngusir semua orang. Malamnya malah orang serumah dibangunin gara-gara kodok. Habis itu tendanya ditinggal begitu aja, lari balik ke kamar. Mana minta ditemenin tidur pula sambil dibacain dongeng."Vino langsung memejamkan mata. Satu tangannya menutupi separuh wajah, sementara yang lain memijat pelipis pelan. "Mi..." desahnya pasrah. "Udah. Malu."Rasanya harga diri Vino runtuh sedikit demi sedikit setiap kali Ma

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 87

    "Udah ke kamar mandi?" tanya Fero saat Bita kembali. Bita mengangguk singkat. Langkahnya sedikit tergesa saat menjatuhkan diri ke sofa. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Pandangannya berkali-kali melayang ke arah dapur, lalu buru-buru beralih ke lantai. Ketika tak lama kemudian, Mami muncul sambil membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh. "Aduuuh, kalian pasti nunggu lama banget! Padahal yang dibuat cuma teh aja." Mami meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja dengan senyum lebar. "Ayo diminum dulu. Biar pun cuma teh, tapi teh favorit Mami ini banyak khasiatnya. Antioksidannya tinggi, bikin kulit lebih sehat. Ya kan percuma skincare mahal kalau dari dalamnya nggak dijaga." Fero mengangguk kecil sebelum menerima cangkir tersebut. "Makasih, Tan." "Eits, jangan Tante." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Panggil Mami aja. Kan kamu temennya Vino, berarti udah Ma

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 86

    "Biarin."Mama berbalik mengaduk teh, sementara Vino masih terpaku di tempatnya dengan raut tak habis pikir. Sikap Mami ini mengingatkannya akan pertama kali ia mengadu pada Maminya, dan yang wanita itu katakan hanyalah menyuruhnya membiarkan dan kalau perlu melupakan."Terus Mami mau diem aja? Papa keluar dari hotel sama wanita lain. Dan aku yakin bukan cuma buat pergi makan, tapi—""Mami harus apa?" potong Mami lirih. Tidak ada amarah ataupun nada meninggi. Hanya kelelahan yang tak lagi mampu ia sembunyikan.Vino mengembuskan napas kasar. Jemarinya mengepal sebelum kembali mengendur."Marah, Mi." Sorot matanya mengunci wajah Mami. "Setidaknya marah."Mami terdiam."Temuin Papa. Bilang kalau Mami udah tahu semuanya." Suara Vino mulai bergetar, menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. "Sebagai istri sah, Mami bukan cuma punya hak untuk marah, tapi juga bertindak tegas."Keheningan kembali memenuhi dapu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 85

    "Mami udah! Vino nggak bisa napas, Mam!" Vino mencoba melepaskan pelukan Maminya yang kelewat erat seperti tidak bertemu dengannya selama sekian dasawarsa. Namun wanita itu terus mendekapnya dan menimangnya seakan ia masih anak kecil."Kamu kok gitu sama Mami? Mami kangen tau! Utututu anak Mami yang paling ganteng, manis, dan agak lumayan nakal tapi tetep ganteng sedunia!""Mama udah!" seru Vino nelangsa. Harga dirinya yang ia junjung tinggi dengan begitu mudahnya dibanting Mami."Lama nggak ketemu, kamu jadi makin dewasa aja! Nggak mau, ah. Mami pengen kamu masih kecil, imut, dan bau bedak!""Baru juga ketemu beberapa minggu lalu.""Tapi kan ketemunya cuma seuprit. Nggak mengobati kangennya Mami!""Yaudah nggak usah pergi-pergi. Di rumah aja."Senyum Mami sedikit melemah. Ia mengusap pelan lengan Vino sebelum melepaskan pelukan mereka, lalu menatap putra tunggalnya yang masih tidak disangkanya telah tumbuh dewasa itu. "Mami kan butuh refresing, sayang. Mumpung tulang dan persendian

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 84

    "Kenapa berhenti di sini?" protes Bita saat Vino memberhentikan motornya di depan rumah gadis itu. "Buat nurunin lo. Kan udah nyampe." "Tapi aku pengen ke rumah kamu aja." Vino menoleh, menegaskan dengan suaranya yang berat. "Lo pulang aja. Belajar. Katanya mau dapet nilai bagus? Gue nggak akan mencelakai Fero kalo itu yang lo takutkan." Bita menggeleng pelan. "Aku ... kamu nggak papa?" Alis tebal Vino tertaut tampak bingung. "Emang gue kenapa?" Sepertinya memang benar. Vino sudah mengetahui perselingkuhan Papanya. Karena jika belum, sudah dapat Bita pastikan laki-laki itu akan menjalankan motornya dengan ugal-ugalan, dan ekspresi yang ditampakkannya sekarang tidak akan setenang ini. Mungkin ini juga yang membuat Vino, setiap kali Papanya pulang, selalu memilih pergi dari rumah. Lalu Mami yang juga tak betah berada di rumahnya sendiri, dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 83

    Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status