LOGINAston agak ragu. Wajahnya seolah tak percaya. Sementara Mama Lusy, setelah mengatakan itu, dirinya langsung melenggang masuk ke dalam. Aston menatap Alena, dagu kekasihnya itu menyuruhnya masuk. Karena tak ada pergerakan apapun saking terperanjatnya, Alena langsung menarik tangan itu. Menggelendeng Aston hingga tiba di ruang tamu.
"Duduk, Aston!" suara Mama Lusy mendominan.Alena duduk di dekat Mamanya, ia hanya mengangkat bahu acuh, seolah tak tahu apa-apa.RasanyCafe bukan lagi tempat ramai yang menyuguhkan keceriaan. Tapi yang di rasakan Alena saat ini tidak yang lebih hancur selain perubahan sikap suaminya. Alena masih enggan bangkit. Isakan yang tertahan itu membuat dadanya terasa sesak, bahkan beberapa untaian kata hanya mampu tercekat, membuat rasa yang dirinya pertahankan selama ini hampir pudar. Meskipun sejak tadi banyak waiters berlalu lalang, pengunjung yang asik dengan obrolan kecil, canda tawa, tapi Alena berada dalam lingkar gelap, sebuah benteng yang mengurungnya dengan segala kekecewaan, apalagi setelah beradu argumen dengan suaminya tadi. Bagi Ibu hamil sepertinya kesedihan bagaikan gelombang besar yang menerjang seluruh rasa aman hidupnya. Di luar, mobil mewah milik Aston baru saja tiba. Bayu melihatnya dengan wajah serius mata terbuka lebar. Aston turun membawa sebongkah rasa kecewa sekaligus kemarahan yang sudah meledak. Kaki jenjang Aston membawa masuk tergesa. Ia mengedarkan mata, tatapannya langsun
Belum sampai Alena membalas pesan suaminya, tiba-tiba ada panggilan telfon masuk. Alena spontan menegakan duduknya dan mengubah ekspresi wajahnya. Dari sorot manik kecoklatannya berubah lebih tegang dengan tatapan lurus ke depan. Nyonya Renata membuka suara rendah. Bergetar. Membuat lamunan Alena seketika buyar kemana-mana. "Hallo, Alena, ini Tante Rena.""Hallo, Tante, ada apa ya?" Alena masih mencoba tenang. "Alena... Apa kita bisa bertemu sekarang. Ada yang ingin Tante bicarakan. Tante harap kita bisa bertemu, karena ini sangat penting," ungkap Tante Renata kembali. Ada sebuah harapan besar dibalik setiap kalimatnya. Nyonya Renata hanya berharap, semoga dengan kedatangan Alena, putranya akan kembali tersadar. "Bisa, Tante. Kebetulan Alena juga nggak lagi ngapa-ngapain.""Ya sudah, Tante tunggu di cafe Permata. Terimakasih ya, sayang."Alena kembali menutup gawainya. Ia masih bergeming diatas sofa, memikirkan apa y
Di lain tempat, meskipun waktu sudah menunjuk hampir pukul 00.00 malam, tapi dibalik ruangan luas dengan sorot lampu temaram itu, Alena sejak tadi belum mampu memejamkan mata. Ia tidur memunggungi suaminya, masih menyisakan rasa kecewa setelah bentakan beberapa jam lalu. Alena merubah posisi tidurnya. Perutnya yang sedikit membuncit memang sedikit membuatnya agak kesusahan berpaling. Alena menatap Aston sekilas, suaminya sudah terlelap, ada dengkuran halus dari napasnya. Alena kembali menegakan wajahnya. Ia tatap langit-langit plafon yang menyisakan rasa kecewa bercampur kegelisahan."Selangkah saja kamu pergi, maka peluru ini akan menembus jantungku, Alena!"DOR!!!Alena kembali memejamkan mata. Suara tembakan itu masih terus mengulang dalam ingatannya. Entah sejauh mana peluru itu menghancurkan hidup Leon. Mungkinkah saat ini pria itu tengah sekarat melawat sakitnya?Perasaan Alena benar-benar kacau. Ia masih belum dapat menemukan jawaban yang s
KrietttPintu lebar operasi baru saja terbuka, serta tombol merah sudah berganti hijau yang artinya operasi sudah berakhir. Seorang Dokter baru saja melepaskan sarung tangan latek, menurunkan masker dan mengedarkan tatap mencari keluarga pasien. Tuan Haris dengan sigap bangkit lalu berjalan mendekat di susul derap langkah gontai Nyonya Renata dengan sisa isakan mirisnya. Wajah kedua pasangan itu sudah menyembulkan sembirut ketegangan, jantung berdesir pelan, serta tatapan kosong yang mengharap sisa keajaiban. "Anda dengan kedua orang tuan saudara Leonard Wildson?" Dokter bedah membuka suara. Tatapan lelah bercampur tegang antara tuntutan profesi dan rasa tanggung jawab, Dokter pria itu menghela napas berat sebelum membuka suara. "Operasinya... Lancar. tapi...."Ada jedaan beberapa detik, membuat Tuan Haris maupun Nyonya Renata sudah menahan napas. "Saudara Leon masih belum tersadar. Karena peluru tadi merobek struktur jantungnya, dan kemungkinan
Wanita tadi langsung menekuk kedua lututnya sambi menjerit melihat Leon sudah terkapar di atas lantai dengan dada yang bersimbah darah. Sementara Alena menoleh, air matanya sudah menggenang, tapi karena hati Aston sudah mengeras, tangannya terus saja menarik lengan sang Istri untuk di ajaknya segera keluar.Melihat mata Istrinya berkaca-kaca, Aston merasa kesal. Begitu Alena masuk, ia membanting pintu mobil itu, membuat Alena tersentak hingga dadanya berdesir. Aston masih terdiam. Jemarinya saling mengetuk setir mobil. Ia menoleh Alena sekilas, istrinya murung sambil menahan rasa takut. "Kamu menangisi bajingan itu?" suara Aston sedikit naik, emosinya malah ini sulit terkontrol. Ada perasaan cemburu, luka, kecewa, sakit, dan masih banyak derita yang timbul dari Leon pada hidupnya. Aston selalu kuat, tapi melihat Alena menangis setelah tembakan bodoh itu, membuatnya ikut merasa kesal sekaligus cemburu. Alena menoleh. Wajahnya sudah sembab oleh k
Aston maju sambil mendorong bahu Leon dengan tatapan tajam. Urat di lehernya menonjol biru, membuat aliran darah dalam tubuhnya mendidih, merasa tertipu dengan penyerahan diri Leon waktu itu. Padahal Aston sudah menyewa Pengacara guna kelancaran jalan hukum untuk menghadapi Leon nanti. Tapi nyatanya pria itu malah asik bebas dan berkeliaran di antara mereka."Kenapa kamu bisa bebas seperti ini?!" sentak Aston. Alena juga tak kalah syok. Ia sejak tadi mengusap lengan suaminya, melayangkan tatapan kecewa, benci, bahkan muak terhadap kembaran sahabatnya itu. Dan mungkin inilah rencana Leon selanjutnya yang sudah tercium Alena jauh-jauh hari. Tak mungkin Leon menyerahkan dirinya begitu saja jika tidak ada hal licik yang sudah pria itu rencanakan. "Kenapa, Aston? Kamu kaget? Kaget melihat saya dapat menghirup udara yang sama dengan kamu?" bantah santai Leon menggerakan kedua tangannya, menunjukan pada Aston seberapa besar kekuasaannya. Alena bergel
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk







