Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil berhenti di depan gubuk. Langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat, disusul ketukan pintu yang ritmis. Saat kubuka, tampak kepala mandor kepercayaanku berdiri di sana bersama seorang pria paruh baya berkacamata yang menjinjing tas medis. Di belakang mereka, dua anak buahku yang lain sibuk menurunkan beberapa kardus besar berisi persediaan air mineral, bahan makanan segar, dan beberapa termos air panas. "Maaf lambat, Bos. Ini Dokter Pramono dari klinik bawah, langsung saya jemput begitu Bos telepon," lapor si mandor dengan sopan, sembari mengisyaratkan anak buahnya untuk menaruh barang-barang logistik di sudut ruangan gubuk. Dokter Pramono mendekati ranjang, lalu memeriksa kondisi Tiara dengan saksama. Setelah memeriksa suhu tubuh, tekanan darah, dan mendengarkan detak jantungnya menggunakan stetoskop, pria paruh baya itu merapikan kembali peralatannya dan berbalik menatapku deng
Leer más