"Oke, tapi ingat, Bang. Kalau sampai Abang kembali lagi dengan kebiasaan itu, aku balas lebih dari yang Abang kira," ucapnya sembari menarik kerah polo shirt-ku. Tubuh kecilnya tak gentar memberikan peringatan kepadaku yang berbadan lebih besar dan tinggi. "Ya sudah, selesaikan dulu pekerjaanmu, Bang," lanjutnya sambil menepuk dadaku pelan dengan satu alis terangkat.Aku terkekeh geli, lalu menangkup wajah ayunya dan mendaratkan kecupan sekilas di keningnya. "Siap, Sayang. Abang tidak akan berani macam-macam. Duduklah di sofa dulu, sebentar lagi kita berangkat ke kota."****Mobil SUV hitam kami membelah jalanan aspal menuju kota. Di sebelahku, Tiara sibuk memandangi brosur Kampus Wijaya lewat daring. Suasana kabin yang tenang ini murni milik kami berdua, Aku sesekali meliriknya, menikmati wajah Tiara yang tampak begitu serius. "Gugup mau lihat calon kampusmu, Sayang?"Tiara menoleh, tersenyum tipis. "Sedikit, Bang. Tapi aku lebih banyak tida
Leer más