"Tapi kamu harus tetap makan makanan yang bergizi, Tiara," peringatku tegas."Habis ini, Bang. Aku mau ambil nasi capcai dan ikan dorang goreng tepung nanti. Abang juga makan, dong."Kami akhirnya kembali ke meja setelah mengambil makanan masing-masing. Aku duduk di hadapannya, memperhatikan Tiara yang mulai menyantap nasi dengan lahap, melupakan sejenak kombinasi semangka saus tomatnya yang aneh tadi.Suasana lounge yang tenang menemani makan siang kami, namun pikiranku tetap tidak bisa lepas dari urusan Rully Sondang di Pekanbaru. Kunyahanku terasa hambar karena menahan dongkol.Di sela suapannya, Tiara tiba-tiba mendongak dan menatapku penuh selidik."Bang, masalah di Pekanbaru apa sih? Ada masalah dengan pembukaan lahan? Atau konflik tapal batas sama masyarakat adat lagi?"Aku meletakkan sendok, lalu meminum air putih untuk menetralkan keteganganku. Sorot mataku menatapnya lurus, memastikan tidak ada kepanikan yang lolos
Leer más