“Jess!” Raka melambaikan tangannya ke arah perempuan cantik berkulit pucat itu. Malam itu setelah lima belas menit ia menunggu, akhirnya perempuan bermata sipit itu pun muncul di hadapannya. Jessica melangkah tegas ke arah Raka dan langsung duduk di hadapannya. Tanpa basa basi ia langsung melotot kesal. “Kamu beneran gila, ya!” kesalnya, “bisa-bisanya ngedeketin aku di jam kerja.” “Aku kan cuman nyapa, Jess.” Raka menjawab dengan santai. “Cuman nyapa? Kamu nggak cuman, Raka. Kamu … diem di depanku, cukup lama dan … bahkan kamu bikin aku kena tegur Pak Devon!” Jessica masih melebarkan mata sipitnya. “Kenapa? Dia mau batalin rencana pernikahanmu dengan anaknya?” tanya Raka, lagi, dengan santainya. “Bukannya … itu emang yang kamu mau?” “Aku —” Jessica menghela napas panjang. “Aku masih butuh kerjaan ini.” “Jess, percaya sama aku. Kamu … bakal terus dipakai oleh perusahaan ini,
Read more