Home / Male Adult / Mau Berapa Ronde? / Bab 207. Pak Jaelani

Share

Bab 207. Pak Jaelani

last update publish date: 2026-09-28 23:00:32

“Pak Jaelani, tujuan saya datang kemari … saya mau membeli saham Danu Artha dari Bapak,” ujar Raka pada pria dihadapannya.

Setelah berjam-jam ia mencari alamat itu, akhirnya satu nama yang tercantum dalam daftar tadi berhasil ia temui. Pak Jaelani, lelaki berusia enam puluhan itu jelas menunjukkan ketidaksukaannya.

Lelaki tua itu mendecak kesal. “Aku sudah pernah bilang, jangan buang waktumu buat rayu aku. Aku tidak akan pernah jual saham itu sampai kapan pun!”

Rak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 207. Pak Jaelani

    “Pak Jaelani, tujuan saya datang kemari … saya mau membeli saham Danu Artha dari Bapak,” ujar Raka pada pria dihadapannya.Setelah berjam-jam ia mencari alamat itu, akhirnya satu nama yang tercantum dalam daftar tadi berhasil ia temui. Pak Jaelani, lelaki berusia enam puluhan itu jelas menunjukkan ketidaksukaannya.Lelaki tua itu mendecak kesal. “Aku sudah pernah bilang, jangan buang waktumu buat rayu aku. Aku tidak akan pernah jual saham itu sampai kapan pun!” Raka menghela napas saat lelaki tua itu memutar tubuhnya dan hendak masuk kembali ke dalam rumahnya. Tidak ada penyambutan yang ramah. Justru penolakan itu terlihat dengan jelas. Tapi Raka tak ingin semua usahanya sia-sia. Ia menepuk pundak lelaki tua itu. Tepat saat itu tubuhnya seperti terseret ke dalam pusaran waktu dan terhempas begitu saja dalam sebuah pemandangan yang sama sekali asing baginya. “Ryu, aku kagum sama tekadmu, Nak.” Raka langsung mengenali sosok pri

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 206. Misi Dari Shakira

    Raka ingin sekali mengatakan itu, tapi ia tidak mau dianggap lancang. Lelaki itu hanya bisa menelan keinginan terbesarnya. Perempuan tangguh dan “Kamu mesti kasih bonus besar buat agensi kita.” Shakira menganggukkan kepalanya. “Tentu saja,” sahutnya datar. Lagi-lagi Shakira harus mengusir jauh-jauh pikirannya. “Tentu saja, dia melakukan semua itu cuma buat mendapat uang lebih,” batinnya, “Shakira … Shakira! Jangan bodoh! Lelaki muda seperti Raka, tidak akan melirik janda yang dianggap bawa sial seperti kamu. Bahkan suami kamu sendiri mati sebelum sentuh tubuh kamu!” Shakira menelan ludahnya dengan berat, seperti menelan pil pahit kehidupan yang harus dilaluinya sendirian. Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di kantor Danu Artha Jaya. Semua berjalan seperti biasa. Shakira yang langsung masuk ke ruang kerjanya dan tatapan setiap pekerja wanita yang seolah ingin melucuti setia

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 205. Taruhan!

    Raka mengamati wajah pucat Shakira, saat perempuan cantik itu mencoba menapakkan kakinya yang baru saja disentuh oleh Raka. Shakira mengerutkan keningnya. Rasanya mustahil. Tak ada rasa sakit sedikit pun saat sepasang kakinya menapak di lantai. Ia seperti tak pernah mengalami cedera apapun! “Raka … kamu apain kakiku tadi?” Shakira menyentuh pergelangan kakinya. “Kamu pelintir pergelangan kakiku, lalu ….” “Enggak. Aku nggak ngelakuin apa-apa kok.” Raka tersenyum tipis. Ia berdiri dari anak tangga, tempatnya memijat kaki Shakira. “Sekarang … udah bisa jalan, atau masih mau kugendong?” Shakira melebarkan matanya, saking kesalnya. Tanpa menjawab apapun, ia kembali memakai sepatu tingginya dan melangkah keluar mendahului Raka. Sepanjang jalan menuju kantor, Shakira menggigiti jarinya dengan gelisah. Raka yang mengamati, akhirnya tak tahan untuk bertanya. “Ada yang salah? Apa yang kamu takutkan?”

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 204. Gara Gara Sepatu Tinggi

    Pagi itu Raka sengaja datang ke rumah Shakira. Rendy dan Bahtiar yang berjaga, segera pamit setelah melihat kehadiran Raka. Raka langsung masuk ke dalam rumah. Menyadari kehadiran Raka, Shakira yang masih memakai gaun tidurnya, langsung berbalik dan melangkah kembali ke kamarnya. Perempuan cantik itu masih tak bisa melupakan semua kecanggungan yang terjadi di antara mereka beberapa hari yang lalu. Raka duduk dengan tenang di meja makan. Tak berapa lama, Bik Titin sudah menghidangkan sepiring nasi goreng dengan dua bulatan merah telur setengah matangnya. “Wah … spesial nih,” puji Raka, “nasi goreng Bibik memang tak ada lawan. Makasih, Bik.” “Ah … Mas Raka bisa aja.” Perempuan setengah baya itu sudah memutar tubuhnya, ketika mendengar pertanyaan Raka. “Tapi … kok Bibik tiba-tiba bikin nasi goreng? Jangan bilang kalau nasi goreng ini bukan buat aku.” Bik Titin

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 203. Sekar Dikontrak!

    “Sudah Suhu.” Totok menjawab lebih cepat. “Tadi situasinya mendesak jadi saya minta Boss Rino segera tanda tangan.” “Mendesak?” Raka mengernyitkan keningnya heran. Situasi apa yang begitu mendesak, sehingga kerja sama harus selesai dalam hitungan jam. Apa mungkin mereka sudah memperhatikan isi kontrak dengan jelas. Raka juga belum berpengalaman dalam hal ini. Kontrak pertama dari Rocker cafe saja tidak memaksanya untuk tandatangan hari itu juga. Pihak marketing memberi waktu beberapa hari untuk mempelajari perjanjian dari kedua belah pihak. “Tadi itu memang mendesak, Raka. “ Rino mulai bisa memanggil Raka tanpa embel-embel apapun. “Bu Maya mau membatalkan kerja sama kalau kita tidak segera menyetujui kontrak.” “Benar itu, Suhu. Bu Maya itu si Maya Bidadari, kan dia terkenal dan punya banyak karaokean dengan brand yang berbeda-beda, tetapi semua punya dia. Nah, dia itu kan kerja sama sudah sama banyak agenc

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 202. Kontrak Besar!

    Setibanya di rumah sekaligus kantor, Totok tak bisa menahan perasaan senangnya. Pria itu langsung saja berteriak dengan lantang mengumpulkan enam anggota pria yang ada di sana. “Kalian dengar hari ini kita dapat kontrak besar lagi!” ucapnya penuh semangat. “Wah, Totok, kontrak dimana?” Tora yang masih menganggur pun jadi bersemangat. “Kontrak jadi penjaga keamanan di karaokenya Bu Maya. Kalian tau Bu Maya itu siapa?” Totok menatap ke enam temannya dengan mata yang cerah. “Siapa … Maya Estianty, Maya Rumantir, atau Maya Septha?” Vico menebak dengan cepat. “Pasti Maya KDI!” tebak Gufron tak mau kalah. Tora tersenyum lebar. Dia menatap ke arah Rino yang masih berdiri tenang sambil melipat tangan di pojokan. Artis terkenal satu ini memang sempat vakum di pertelevisian, pantas saja mereka tidak terlalu ingat. “Salah … yang benar adalah Maya Bidadari!” teriaknya penuh semangat.

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 2. Basah

    Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

    "Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 4. Perubahan Besar

    Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 3. Cincin Aneh

    Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status