“Tapi … melihat perubahan yang kamu buat padanya,” lanjut Maretho Genta, “aku jadi lega. Dia sudah bukan Rino Genta, pemuda pengangguran, luntang lantung yang suka bikin keributan itu. Dia bukan lagi pemuda tanpa masa depan yang dulu.” Raka merasa sedikit lega mendengar kalimat itu. Sepertinya ada sedikit harapan baginya untuk membeli saham yang tersisa. “Rino … punya jiwa pemimpin. Dia juga punya hati besar, tidak seperti kebanyakan orang. Dia … bukan hanya memberikan tempat tinggal, tapi juga peduli dengan nasib pengikutnya. Itulah sebabnya, semua anak buahnya sangat setia,” tutur Raka sembari tersenyum mengingat kenangan-kenangannya bersama putra tunggal Maretho Genta, “aku … bahkan pernah ditampungnya, saat diusir dari rumah kos dulu.” Pria berjas hitam itu meletakkan berkas di atas meja. Tangannya mendorong berkas itu menjauh hingga berada di hadapan Raka. Raka menatap lembaran berkas itu, lalu kembali menatap wajah lelah pria itu. Ia ben
อ่านเพิ่มเติม